TRIBUN TIMUR WIKI
Sejarah Hari Ini: Hadirnya Kasultanan Yogyakarta dan Asal Usul Penamaannya
Pada hari itu, Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat diproklamasikan tepatnya pada 13 Maret 1755 oleh Pangeran Mangkubumi.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Waode Nurmin
Sultan pun pindah, menempati keraton barunya pada Kamis Pahing 13 Sura Jimakir 1682 atau 7 Oktober 1756. Peristiwa masuknya keluarga Sultan HB I ke ibu kota Yogyakarta itu kemudian dijadikan landasan sebagai Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta.
Peresmian pemakaian kota baru berdasarkan perhitungan tahun Jawa, dilambangkan dengan lukisan dua ekor naga yang saling melilitkan ekor.
Gambar itu apabila diterjemahkan berbunyi: “Dwi-naga rasa tunggal”, serta memiliki nilai angka tahun 1682. Sampai saat ini, gambar kedua naga itu masih terpancang pada tembok gapura Keraton Yogya.
Asal usul Yogyakarta
Kata Yogyakarta menurut Pour, merupakan perpaduan tiga suku kata yakni Hayu (indah), Bagya (bahagia) dan Karta (makmur). Dengan pemilihan nama itu, para pendiri menginginkan sebuah kota yang mampu memberikan keindahan, kebahagiaan dan kemakmuran.
Tambahan istilah “Hadiningrat” lazim digunakan menandai sebuah ibu kota kerajaan, yang memiliki arti terelok di tas bumi.
Sementara Peter Carey, Dosen Emeritus di Trinity College, Oxford, dan Profesor Luar Biasa (tamu) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia menyebut bahwa Ngayogyakarta diturunkan dari bahasa Sankerta ‘Ayodhya’ atau setelah diserap dalam bahasa Jawa menjadi Ngayodya.
Ayodhya adalah ibu kota pahlawan India Rama dalam epos Ramayana.
Carey berpendapat demikian setelah membaca dari beberapa buku Raffles (1817:1, 10: 411), hal yang sama kemudian diulangi oleh Wilhem von Humboldt (1836-1839:1, 5).
Sementara cendekiawan bahasa Jawa Kuno, J.L.A. Brandes dari artikel (Brandes 1894:438–48) menuliskan seperti ini dalam bahasa Indonesia:
“Bahwa telah ada sebuah tempat bernama Yogya atau Ayogya di distrik Mataram di atau dekat lokasi tempat Yogyakarta [Yogyakarta] berada beberapa waktu sebelum pembagian kerajaan Jawa pada 1755 dibuktikan oleh berbagai cuplikan dalam dokumen-dokumen awal Belanda…”
Bagi orang luar, penyebutan Yogya kadang sering membingungkan. Antara Jogja, Yogya, Jogjakarta atau Yogyakarta.
Agar kekacauan tidak menjadi berlarut-larut, Pemda Kotapraja dalam surat penetapan nomor 10 tahun 1956 yang mulai berlaku sejak Agustus 1956 menentukan bahwa kota tersebut secara resmi harus dituliskan “Jogjakarta”.
Tentu saja setelah adanya penyesuaian ejaan yang disempurnakan, kini ditulis sebagai Yogyakarta.
Berikut Raja-raja Ngayogyakarta Hadiningrat dan tahun berkuasa:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/grebeg-maulud-di-keraton-yogyakarta.jpg)