SBY
12 Ribuan Like, Denny Siregar: Kenapa Saya Tidak Suka SBY Karena Hanya Pencitraan, Radikalisme Subur
Puluhan ribu Like, kenapa tidak suka SBY? Denny Siregar: Kenapa Saya Tidak Suka SBY Karena Hanya Pencitraan, Radikalisme Subur
TRIBUN-TIMUR.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar mengungkapkan alasannya tidak suka gaya kepemimpinan SBY.
Denny Siregar menjawab tudingan Peter F. Gontha yang mendapat kesan bahwa Denny Siregar dan kawan-kawan tidak pernah sreg dengan Susilo Bambang Yudhoyono.
Bahkan saat Demokrat diambilalih dari tangan Agus Harimurti Yudhoyono lewat KLB Demokrat pun, Denny Siregar dkk ramai-ramai menyatakan dukungannya meski tidak disampaikan secara langsung.
Sosok Denny Siregar menulis lengkap alasannya tidak suka dengan SBY.
Baca juga: Apa Itu Aliran Hakekok? Bukan Syariat Islam, Berikut Fakta-Fakta Wanita & Pria Mandi Bareng di Kebun
Baca juga: Diam Saja Suami Ditikung Nissa Sabyan, Foto Ririe Fairus Usai Sidang Cerai Jadi Sorotan
Postingannya menuai puluhan ribu like saat berita ini ditulis Jumat (12/3/2021).
Ada 12 ribu like dan 1,6 ribu komentar di kolom Facebook Denny Siregar.
Sebelumnya Peter Gontha mencuit:
"Mengapa saya mendapat kesan bahwa para Blogger yang saya sebut di bawah rame rame sepertinya sangat tidak suka keluarga SBY, apakah itu hanya kesan saya yang salah?
Refly harun, Ade Armando, Denny Siregar, Akbar faizal, Budiman Tanuredjo,Najwa Shihab, Alifurrahman, Yusuf Muhammad, Erizeli Bandaro, Niken Setyawati, Eko Kunthadi dan Mazdjo Pray,
Yang belum terdengar: Deddy Corbuzier, Helmy Jahya."
Denny pun membalasnya dengan membuat catatan panjang berjudul "Kenapa Saya Tidak Suka Keluarga SBY?"
Secara garis besar Denny menjawab dengan penjelasan bahwa kepemimpinan SBY sebenarnya hanya kosmetik saja. Polesan disana sini, tapi sebenarnya bolong-bolong.
Pak SBY membiarkan banyak mafia berkuasa di negara ini, mulai mafia migas sampai pangan. Gak berdaya beliau mengatasi itu, meski seorang Jenderal.
Dan terutama yang saya tidak suka adalah pembiarannya terhadap radikalisme di Indonesia.
Bukan hanya membiarkan, bahkan memberi pupuk mereka supaya berkembang lewat bantuan sosial. Apa pak Peter tidak sadar tahun 2013 HTI hampir saja menguasai negeri ini dgn membajak