Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Khazanah Sejarah

Prof Dr Baharuddin Lopa Manusia Langka dari Mandar, Ketika Baharuddin Lopa Beli Mobil Kijang JK

JK tentang baharuddin lopa dan Abraham Samad tentang baharuddin lopa. JK ngotot beri diskon, Baharuddin Lopa ngotot menolak

Editor: AS Kambie

PROF. DR. BAHARUDDIN LOPA
(Manusia Langka yang pernah kukenal)

Prof Dr Ahmad M Sewang MA, Guru Besar UIN Alauddin Makassar/Direktur DPP IMMIM
Prof Dr Ahmad M Sewang MA, Guru Besar UIN Alauddin Makassar/Ketua DPP IMMIM (ist)

Ahmad M Sewang
Penulis adalah Cendekawan Muslim/Ketua DPP IMMIM

Saya ingat saat Rektor mengetahui bahwa Baharuddin Lopa terlambat di luar ruangan karena kemacetan. Rektor, Prof Dr M Quraish Shihab MA, langsung turun tangan agar pintu dibukakan. Padahal siapa pun yang terlambat tidak dibolehkan masuk di ruang promosi. Saya pun sangat bangga atas kehadiran beliau.

Setelah beliau ditugaskan sebagai Dubes RI di Riyad. Saya bertemu di Mekah, di jalanan menuju Masjid Haram. Di pinggir jalan itu kami ngomong sambil duduk di tembok pembatas jalan sekaligus menunggu waktu Isya, sambil bertanya khabar dari kampung. Banyak orang singgah setelah melihat Baharuddin Lopa duduk di pinggir jalan.

"Banyak orang yang bertanya, kenapa bapak ingin menerima jabatan sebagai menteri? Bukankah Gusdur bak perahu sudah oleng mau tenggelam?"
Lugas, Baharuddin Lopa menjawab, "Banyak orang salah paham, saya ini bagai matahari yang sudah senja, sesaat lagi akan terbenam, ingin memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk mengabdi pada negara, bangsa, dan agama sedapat mungkin."
"Apa pun yang terjadi, walau umur tinggal sehari, hukum harus ditegakkan," tegas Baharuddin Lopa melanjutkan.

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Baharuddin Lopa yang sering disingkat namanya dengan Barlop lahir di Desa Pambusuang, Mandar (kini Sulawesi Barat), 27 Agustus 1935.

Menurut kisah orang-orang tua di Desa Pambusuang bahwa orang tuanya termasuk keluarga taat beragama.

Lopa, ayah Baharuddin Lopa, termasuk rajin salat rawatib di masjid dan sering mengumpulkan para ulama untuk memberi pengajian di rumahnya.

Di sinilah Baharuddin Lopa kecil menyimak pengajian itu.

Di kampung di Desa Pambusuang ini pula mulai terbentuk kepribadian dan pengalaman Baharuddin Lopa yang kemudian mengiringinya sebagai bekal spiritual di saat melakukan perantauan perjalanan keliling di berbagai tempat.

Memang, kampung Baharuddin Lopa, Desa Pambusuang, dari dahulu sudah dikenal sebagai kampung pusat memproduksi para ulama sampai sekarang di Sulawesi Barat.

Dikenal bersahaja, ketika Baharuddin Lopa menjabat sebagai Kepala Kejaksaan di Sulawesi Selatan perabot di rumah dinasnya sangat sederhana.

Di tempat penerimaan tamu terdiri atas bangku-banku kayu yang dicat putih. Sampai ada yang mengomentari, "Kelebihan Baharuddin Lopa karena beliau siap hidup sederhana, pada saat yang sama banyak pejabat yang mempertontonkan kemewahan dalam bentuk rumah-rumah dan mobil-mobil.”

Padahal rumah dan mobil tersebut berasal dari hasil korupsi. Tidak heran pada saat beliau bertugas sebagai kepala Kejaksaan banyak orang di penjarakan.

Saya bersyukur sebab bisa mengenal Baharuddin Lopa dari dekat, sejak di kampung di Desa Pambusuang, sampai beliau bertugas sebagai pejabat di Ibu Kota.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved