Tinjau Banjir, Gubernur Pakai Helikopter, Wagub Perahu Karet
Baik Gubernur Nurdin Abdullah (NA) maupun Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman kompak meninjau banjir
Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Imam Wahyudi
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Banjir melanda beberapa daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) sejak awal Desember lalu.
Baik Gubernur Nurdin Abdullah (NA) maupun Wakil Gubernur Andi Sudirman Sulaiman kompak meninjau banjir dan kondisi beberapa sungai.
Gubernur NA, meninjau selama dua hari, Senin (28/12/2020) dan Rabu (30/12/2020). Dia meninjau dari udara menggunakan helikopter pinjaman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai Cekdam Bili-bili di Gowa, Bendungan di Jeneponto yang menghubungkan Takalar.
Hingga pagi tadi, meninjau langsung di hulu wilayah Maros dari udara menggunakan helikopter milik BNPB, di Gowa, Maros, Sinjai hingga Bone, Rabu (30/12/2020).
NA mengatakan, Pemprov Sulsel tengah mengkaji kondisi sungai di beberapa daerah di Sulsel, pasa musim penghujan bersama perguruan tinggi.
Selain sungai, juga keadaan lahan harus dilakukan kajian secara komprehensif.
"Saya kira nantilah kita coba buat kajian khusus, kita minta perguruan tinggi untuk mengkaji sekaligus mencari solusi, karena tidak akan mungkin kita membuat sebuah keputusan yang radikal, karena masyarakat kita yang bermukim disitu juga butuh hidup," kata NA dalam rilisnya.
Sementara itu, Wagub Andi Sudirman Sulaiman memilih menggunakan perahu karet menuju lokasi banjir di Romang Tangaya pada Minggu (20/12/2020) lalu. Di sana, banjir terbilang parah. Air yang tergenang sudah setinggi dada orang dewasa.
Bersama tim relawan, pria yang akrab disapa Wagub Andalan ini mengevakuasi warga yang masih terjebak di rumah.
Lokasinya lumayan jauh dari titik pengungsian. Sekitar 3 kilometer (km)
Tiba di salah satu rumah, terlihat keluarga yang terjebak banjir. Bahkan saat dievakuasi, mereka menunggu dari atas seng rumahnya.
Wagub Sulsel pun membantu evakuasi keluarga Nur Sia. Bahkan ia menggendong anak-anak yang sedang dievakuasi di rumah tersebut.
"Kami turun karena ada ibu dan balita kembarnya dari laporan tidak mau dievakuasi. Saya langsung turun karena balita itu beresiko jika air naik lagi elevasinya," katanya.
"Lama kami bernegosiasi dan merayu anaknya. Alhamdulillah mereka mau. Anak rentan dan beresiko bagi keselamatan nyawa mereka sekeluarga jika air terus naik," jelas Andi Sudirman via rilis Humas.
Siang tadi, ia meninjau pengerukan di Sungai Balangturungan, yang berada di Kecamatan Bhiringkanaya, Makassar, Rabu (30/12/2020).
Di lokasi itu, dirinya melihat langsung eskavator amfibi yang diturunkan untuk melakukan pengerukan sedimen dan tanaman eceng gondok.
Langkah ini pun bisa menjadi alternatif untuk antisipasi banjir. Mengingat Kota Makassar menjadi salah satu yang menjadi ancaman banjir dalam kondisi musim penghujan ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/banjir-melandeh6.jpg)