FISIP Unhas
Tantowi Yahya Jelaskan Peranan Kawasan Pasifik Bagi Indonesia
FISIP Unhas menggelar kuliah umum bersama Duta Besar LBBP Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa dan Tonga, Tantowi Yahya.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas menggelar kuliah umum bersama Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa dan Tonga, Tantowi Yahya.
Acara berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom, dan disiarkan langsung melalui YouTube Departemen HI Unhas, Selasa (3/11/2020).
Kuliah umum merupakan bagian dari mata kuliah Teori dan Praktek Diplomasi.
Kehadiran Tantowi yang juga merupakan Duta Besar Keliling Indonesia untuk negara-negara Pasifik, sebagai bentuk implementasi “Merdeka Belajar: Kampus Merdeka”.
Rektor Unhas Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu, berharap kehadiran Tantowi dapat memberi pencerahan baru terkait isu-isu hubungan bilateral dan diplomasi Indonesia dengan Selandia Baru dan negara-negara Pasifik.
“Sungguh suatu kehormatan menerima kehadiran Pak Dubes. Tahun lalu, kita bertemu di Wellington, dan saya sangat berharap Pak Dubes dapat hadir ke Unhas. Apa boleh buat, situasi pandemi sedang melanda dunia. Namun berkat kemajuan teknologi, alhamdulillah kita dapat bertemu secara virtual,” katanya.
Dalam materi kuliah yang berjudul “Diplomasi Indonesia di Pasifik”, Tantowi Yahya memaparkan dinamika kawasan Pasifik secara umum, khususnya tentang hubungan Indonesia dan Selandia Baru.
Menurutnya, Indonesia perlu mengubah cara pandang terhadap kawasan Pasifik.
“Selama ini, kita selalu melihat Indonesia dari perspektif Samudera Hindia, sehingga kawasan Pasifik itu dianggap bagian belakang. Padahal, secara geopolitik kawasan ini mempunyai makna penting bagi Indonesia,” jelasnya.
Tantowi memaparkan bagaimana posisi Pasifik dalam geopolitik dunia, yang setidaknya memiliki empat makna penting, yaitu suara di PBB, poros perdagangan Asia-Amerika, potensi maritim, dan isu perubahan iklim.
“Kawasan Pasifik merupakan the most contested region, kawasan paling diperebutkan oleh negara-negara di dunia. Berbagai negara menerapkan strategi unik untuk merangkul Pasifik,” katanya.
Beberapa negara melakukan pendekatan ke Pasifik, antara lain Australia (Pacific Step Up), Selandia Baru (Pacific Reset), Amerika Serikat (Pacific Pledge dan Indo Pacific Command), Cina (One Belt One Road/OBOR Innitiative), ASEAN (Indo Pacific Outlook).
“Kita tidak ingin ketinggalan. Tahun lalu kami meluncurkan apa yang kita sebut sebagai The Pacific Elevation, sebagai upaya kita merangkul kawasan ini secara proaktif,” tuturnya.(*)
Laporan Wartawan tribun-timur.com @Fahrizal_syam