Tribun Polman
Innalillah, Putri Ulama Mandar KH Muh Tahir Iman Lapeo Meninggal Dunia
Telah meninggal dunia putri ulama Mandar KH Muh Tahir Imam Lapeo, Marhuma, Minggu (1/11/2020).
Penulis: Hasan Basri | Editor: Sudirman
TRIBUN - TIMUR. COM, POLMAN -- Innalillahi Wainnailaihi Rajiun. Kabar duka datang dari tanah Mandar, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar).
Telah meninggal dunia putri ulama Mandar KH Muh Tahir Imam Lapeo, Marhuma, Minggu (1/11/2020).
Ia meninggal dunia pada pukul 2.25 wita dini hari. Jenazah almarhum rencana akan dikebumikan usai Salat Ashar di Lapeo.
Almarhum Marhuma merupakan putri dari Ulama penebar Islam di jazirah Mandar dari ibu bernama Rugayyah, berasal dari Pambusuang.
Almarhum Marhuma diketahui putri bungsu Iman Lapeo dari pernikahan istri pertamanya Rugayyah.
Marhuma memiliki saudara yaitu Fatimah, St Hidayah, Muh. Yamin, Abd Hamid, Muh. Muchsin, St. Aisyah, dan St. Muhsanah.
Sekedar diketahui ayahnya Imam Lapeo dikenal sebagai ulama kharismatik, penyebar ajaran Islam di Sulselbar khususnya di Tanah Mandar.
Saat menyebar Islam, dikenal sebagai KH Muhammad Thahir atau yang lebih masyhur Imam Lapeo.
Nama Lapeo yang melekat pada Imam Lapeo diambil dari nama kampung di Kecamatan Campalagian, sekira 287 KM dari Makassar dan 33 KM dari Kota Polewali.
Selain silsilahnya bertalian dengan bangsawan di Mandar, nasab dalam diri Imam Lapeo bersambung hingga Sunan Maulana Malik Ibrahim, salah seorang wali Walisongo yang menjadi penyebar agama Islam di Gresik.
Dalam buku tentang perjalanan hidup Imam Lapeo yang ditulis Syarifuddin Muhsin, (cucu Imam Laepo) ada puluhan karomah (kelebihan) dalam kisah hidup Imam Lapeo yang berkemang di tengah masyarakat dan keluarganya.
Juga dalam buku Jejak Kewalian Imam Lapeo yang ditulis oleh cicitnya, Zuhriah, peran Imam Lapeo, tidak terlepas dengan akhlak (karakter) hingga karamah kesufian yang ada pada dirinya mampu memberi berkontribusi penting bagi perbaikan tatanan masyarakat.
Menjelang wafatnya, Imam lapeo berpesan supaya disediakan batang pisang sebelah menyebelah (pihak kanan dan pihak kiri) sebagai tempat bersandar saat berbicara dengan mungkar-nakir. Pesan itu sebagai isyarat Imam Lapeo akan mangkat.
Nama Lapeo melekat pada Imam Lapeo diambil dari nama kampung di Kecamatan Campalagian, sekira 287 KM dari Makassar dan 33 KM dari Kota Polewali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/tenda-di-pasang-di-depan-rumah-duka-putri-ulama-mandar-kh-muh-tahir-imam-lapeo.jpg)