Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

BNI Syariah

Indonesia Hanya Jadi Pasar Halal Dunia, Bukan Produsen

BNI Syariah menggelar Webinar perbankan Syariah dan Trend Halal Lifestyle di Indonesia, Selasa (29/9/2020).

Tayang:
Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Suryana Anas
BNI Syariah
Head Of Tokopedia Salam Garri Juanda, menjadi pemateri dalam Webinar Perbankan Syariah dan Trend Halal Lifestyle di Indonesia, Selasa (29/9/2020). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - BNI Syariah menggelar Webinar perbankan Syariah dan Trend Halal Lifestyle di Indonesia, Selasa (29/9/2020).

Hadir langsung Direktur Utama BNI Abdullah Firman Wibowo, Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Amir Hidayat, Head Of Tokopedia Salam Garri Juanda, dan Direktur Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto.

Sutan Amir Hidayat menyampaikan, pertumbuhan bank syariah per Juni 2020, total aset keuangan syariah mencapai Rp 1.608,50 triliun.

Aset ini tidak termasuk saham syariah.

"Market share kita 9,63 persen Per Juni. Ini potensi yang masih sangat besar dari sistem keuangan syariah," katanya.

Indonesia memiliki potensi besar pada instrumen keuangan sosial Islam.

Perolehan dana ZIS di Indonesia terus meningkat dan secara rata-rata mengalami pertumbuhan 36,2 persen selama periode 2002-2019.

Total pengumpulan nasional tahun 2018 mencapai Rp 8,1 triliun dan penyaluran sebesar Rp 6,8 triliun.

Dari segi perkembangan teknologi syariah, sudah ada 11-13 Finansial Technologi dari 324 Fintech di Indonesia.

"Tahun lalu (2019) Indonesia memperbaiki peringkat di pemeringkat dunia. Melalui lembaga pemeringkat dunia Global Islamic Finance Report (GIFR) 2019, keuangan syariah Indonesia berada di peringkat 1 dari enam di tahun 2019," katanya.

Perkembangan pasar modal syariah Indonesia, ternyata 446 dari 692 saham yang terdaftar di BEI Indonesia adalah saham syariah atau sekitar 64 persen.

"Ini sesuatu yang luar biasa, dari segi kapitalisasi 52 persen atau sekitar Rp 3.700 triliun adalah kapitalisasi saham syariah," katanya.

Komitmen pemerintah untuk pengembangan ekonomi dan keuangan syariah terus membaik setiap tahun.

"Pemerintah sudah membentuk Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah (KNEKS) tahun 2016 melalui Perpres 28 tahun 2020," katanya.

KNEKS sebagai katalisator dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah nasional.

"Presiden adalah ketuanya, Wapres Ketua harian dan Menteri keuangan adalah Sekretaris," katanya.

Ekosistem ekonomi dan keuangan syariah Indonesia adalah memperbaiki perekonomian masyarakat.

"Kita memperbaiki sistem keuangan di level Mustahik atau penerima zakat," katanya.

Ia menyampaikan, ketika sudah ada perbaikan maka, Mustahik akan masuk ke usaha ultra mikro.

"Di sini masih ada, blended antara zakat dan bantuan untuk usaha mikro," katanya.

Strategi pengembangan ekonomi syariah yakni harus meningkatkan literasi dan edukasi sistem ekonomi syariah.

KNEKS sudah melakukan digitalisasi untuk sistem pembayaran syariah yakni Link aja dan mitra yang menganut akad syariah.

"Kami berkolaborasi dengan layanan keuangan syariah yang terintegrasi," katanya.

Sementara itu, Head Of Tokopedia Salam Garri Juanda, menyampaikan, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk digitalisasi karena negara keempat dengan jumlah penduduk terbesar di dunia yakni lebih dari 260 juta orang.
Sebanyak 91 persen sudah penetrasi telpon genggam, 64,8 persen penetrasi internet, 49 persen penetrasi bank, 5 persen penetrasi e-commerce.

"Apakah Indonesia sudah siap menghadapi era digital?" Katanya mempertanyakan.

Menurutnya, angka penetrasi akses internet sangat tinggi.

"Penetrasi e-commerce masih sangat rendah. Kami memiliki misi untuk pemerataan ekonomi secara digital," katanya.

Tokopedia sendiri mempunyai 90 juta pengguna aktif setiap bulan, dengan akses barang ke 98 persen kecamatan sudah dijangkau.

Pembeli sudah mencapai 9,2 juta dan pebisnis baru mencapai 86,5 persen serta produk di Tokopedia yakni 350 juta jenis barang.

Gerri menyampaikan, Indonesia berpotensi menjadi negara penggmhasil produk halal terbesar di dunia.

Berdasarkan rangking dari Global Islamic Index, Indonesia menduduki posisi 10 besar industri halal secara global yakni peringkat 1 untuk halal food, peringkat 3 untuk fashion muslim, peringkat 5 untuk halal traveling, dan peringkat 6 untuk halal kosmetik dan obat-obatan.

"Berdasarkan rangking dari Global Islamic Index, Indonesia hanya menjadi pasar sasaran untuk produk halal di dunia, dan bukan menjadi pusat produksi barang dan jasa," katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved