Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tribun Jeneponto

Energi Terbarukan, Nira Lontar Jeneponto Ibarat Emas Terpendam di Tanah Kering

Kementerian ESDM RI sudah menyelesaikan studi kelayakan pengembangan Bioetanol dari nira lontar di Kabupaten Jeneponto.

Tayang:
Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Suryana Anas
ISTIMEWA
Rapat koordinasi Penelitian Nira Lontar di Kantor ESDM Pemprov Sulsel, Jl AP Pettarani, Makassar, Sulsel, Rabu (17102018). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kabupaten Jeneponto menyimpan berbagai banyak potensi energi terbarukan.

Setelah hembusan anginnya yang bisa memutar Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo I Jeneponto, Sulawesi Selatan dengana kapasitas totalnya mencapai 72 MW.

Jeneponto juga menyimpan energi terbarukan sebagai potensi Bioetanol dari pohon nira lontar.

Bioetanol adalah salah satu bahan dasar dalam Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM RI) sudah menyelesaikan studi kelayakan pengembangan Bioetanol dari nira lontar di Kabupaten Jeneponto.

Tim Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, menyimpulkan pohon lontar Jeneponto memenuhi syarat untuk jadi bahan baku bioetanol.

"Tim Kementerian ESDM menyatakan pohon lontar kita memenuhi syarat, jadi pohon Nira Lontar yang ratusan ribu jumlahnya itu ibarat emas yang terpendam di tanah kering," kata inisiator Bioetanol Jeneponto, Mukhtar Tompo ke Tribun, Kamis (2/9/2020).

Sebenarnya, Kementerian ESDM sudah menentukan harga untuk setiap liter nira sebesar Rp 550.

Kementrian juga sudah merancang industri pengolahan air nira menjadi bioetanol.

Pabrik bioetanol terintegrasi dengan kebun lontar yang didedikasikan untuk sumber bahan baku pabrik.

Kebutuhan penderes atau petani penyadap air nira sebanyak 1.176 orang, tenaga kerja pabrik 80 orang. Gaji rata-rata petani sebesar Rp 3 juta.

Pabrik ini membutuhkan lahan pohon Lontar seluas 70 hektar.

Kementrian ESDM bersama Pertamina membutuhkan investor untuk membangun pabrik ini dengan nilai investasi kurang lebih Rp 70 miliar.

Mantan Anggota DPR RI Komisi VII ini meminta pemerintah dan masyarakat Kabupaten Jeneponto untuk mendukung pembangunan pabrik.

Proses untuk menjadikan nira lontar Jeneponto sangat tak mudah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved