Breaking News:

Mentan Panen 630 Sapi Hasil Inseminasi Buatan di Sinjai, Ini Kata Sekprov Sulsel

Kegiatan yang dilaksanakan di Lapangan Sinjai Bersatu, Kamis (diikuti 500 peternak dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sinjai.

TRIBUN TIMUR/M FADLY
Menteri Pertanian Republik Indonesi (Mentan RI) Syahrul Yasin Limpo bersama Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Hayat Gani memanen 630 anak sapi usia sampai 8 bulan hasil inseminasi buatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Langkah Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi daerah penyangga daging nasional terus digalakkan.

Menteri Pertanian Republik Indonesi (Mentan RI) Syahrul Yasin Limpo bersama Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Hayat Gani memanen 630 anak sapi usia sampai 8 bulan hasil inseminasi buatan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Lapangan Sinjai Bersatu, Kamis (diikuti 500 peternak dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sinjai.

Abdul Hayat menyampaikan apresiasi luar biasa atas model peternakan yang dikembangkan Kementerian Pertanian dalam menguatkan stabilitas pangan nasional.

"Pemprov Sulsel sangat apresiasi atas pengembangan peternakan yang ada di Sinjai, ini salah satu model akselerasi untuk Sulsel menjadi wilayah penyangga daging nasional," ujar Abdul Hayat dalam rilisnya.

Ia mengatakan, Kabupaten Sinjai merupakan daerah ketiga dengan peternakan terbesar setelah Kabupaten Bone dan Gowa. "Langkah ini tentu akan kita optimalkan dengan pengawasan dan evaluasi secara maksimal," tuturnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada kegiatan ini menyampaikan langkah strategis yang dilakukan lembaganya untuk pengembangan sapi di Sinjai dengan membentuk klaster ternak.

"Di mana satu klaster ternak terdiri dari lima desa yang tiap-tiap desa mengembangkan 200 ekor sapi ternak. Jumlah ini dibagi 60 persen untuk penggemukan dan sisanya untuk budidaya," ujar Syahrul.

Mantan orang nomor satu di Sulsel ini menyebutkan, meski di masa pandemi sektor pertanian masih mampu tumbuh dari 12,6 persen menjadi15,8 persen.

Sementara untuk ternak, ia menyebutkan, kebutuhan daging yang mampu disuplai dalam negeri adalah 400 ribu ton dari 700 ribu ton yang dibutuhkan.

"Kekurangan ini membuat kita masih harus impor sekitar 200 sampai 300 ribu ton. Dengan begitu, langkah untuk memaksimakan produksi daging dalam negeri harus terus kita optimalkan," terangnya.

Syahrul optimistis, model peternakan melalui inseminasi buatan serta dukungan kepada para peternak mampu memperkecil nilai ekspor dan berdampak signifikan pada perekonomian peternak.

Dari data Dinas Peternakan Kabupaten Sinjai, dari tahun 2019 hingga triwulan kedua 2020, jumlah kelahiran sapi mencapai 3.400 ekor.

Rata-rata terdapat 173 ekor sapi dalam 1 kilometer persegi wilayah Kabupaten Sinjai. Hasil ternak sapi dengan metode inseminasi buatan dapat menghasilkan sapi dengan bobot hingga tiga kali sapi biasa. Dengan bobot yang besar juga berdampak pada harga sapi yang juga meningkat.

Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved