Pupuk Subsidi
Pupuk Subsidi Langka di Bulukumba, Ternyata Pupuk Non Subsidi Lebih Bagus Lho!
Kuota pupuk bersubsidi di beberapa kecamatan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), kini telah habis.
Penulis: Firki Arisandi | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUNBULUKUMBA.COM, UJUNG BULU - Kuota pupuk bersubsidi di beberapa kecamatan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), kini telah habis.
Di gudang Pupuk Kaltim Bulukumba, kini tersisa kouta pupuk untuk wilayah Kecamatan Bulukumpa, Herlang, dan Bontotiro.
Untuk tujuh kecamatan lainnya, kuotanya telah habis.
Kepala Gudang Pupuk Kaltim Bulukumba, Bahrun, Rabu (15/7/2020) mengakui bahwa memang ada pengurangan kuota pupuk bersubsidi tahun ini.
"Sekarang sisa 7 ribu ton yang disubsidi. Dulunya 12 ribu ton. Jadi ada memang pengurangan kuota," katanya.
Pengurangan kuota pupuk bersubsidi tahun ini, disebut paling banyak selama pengurangan dilakukan.
Bisa jadi, kata dia, anggaran subsidi pupuk tersebut dialihkan untuk penanganan Corona Virus Disease 2019 alias Covid-19.
Namun, Bahrun meminta para petani untuk tak perlu khawatir. Pasalnya, kuota pupuk non subsidi cukup banyak.
Meskipun harganya relatif mahal, namun kualitasnya ia jamin jauh di atas pupuk bersubsidi.
Bahrun menganalogikan perbedaannya seperti bensin premium dan pertamax.
Untuk pupuk subsidi harganya Rp 95 ribu, sementara pupuk non subsidi Rp 260 ribu.
"Kualitasnya itu jauh berbeda. Dua banding satu, jadi sebenarnya petani tidak perlu panik. Kalau misal 10 pupuk bersubsidi, itu sama dengan 5 pupuk non subsidi," jelasnya.
Selain itu, tambah Bahrun, pupuk bersubsidi itu hanya memberikan perubahan untuk daun padi saja.
Sementara pupuk non subsidi bakal memberikan perubahan untuk daun dan buah.
"Jadi petani cuman lihat harganya yang mahal. Padahal hampir sama sebenarnya, dan kualitas jauh di atas," pungkasnya.
Sekadar diketahui, sebelumnya petani di Kecamatan Gantarang Bulukumba, mengeluhkan kelangkaan pupuk bersubsidi.
Bahkan mereka telah menggelar aksi di DPRD Bulukumba untuk mempertanyakan kelangkaan pupuk tersebut. (*)
Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi