Update Corona Makassar
3 Hari Lagi Mulai Kamis Ini Warga Luar Makassar Dilarang Masuk Kota Jika Tak Ada Surat Bebas Covid19
3 Hari Lagi Mulai Kamis Ini Warga Luar Makassar Dilarang Masuk Kota Jika Tak Ada Surat Bebas Covid-19
Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Mansur AM
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Anda warga luar Kota Makassar Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan?
Segera siapkan Surat Bebas Covid-19.
Mulai Kamis (9/7/2020), tidak boleh masuk Makassar jika tak punya Surat Bebas Covid-19.
Surat Bebas Covid-19 bisa diperoleh di puskesmas terdekat.
Demikian juga sebaliknya, warga Makassar dilarang ke luar kota jika tak punya Surat Bebas Covid-19.
Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar masih memberlakukan Peraturan Wali Kota (Perwali) 31 peninggalan Pejabat (Pj) Wali Kota sebelumnya, Prof Yusran Jusuf.
Namun, Perwali yang baru tentang protokol kesehatan di tengah Pademi Corona di Kota Makassar akan segera diberlakukan
"Senin diteken perwali, dua hari sosialisasi. Insyaallah Rabu atau Kamis sudah diterapkan," kata Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin pada rapat terbatas di Guburnuran Sulsel Jl Sungai Tangka Makasssr, Minggu (5/7/2020).
Sebelumnya Kabag Hukum Makassar, Umar mengatakan pihaknya telah merampungkan draft perwali terkait penanganan Covid 19.
Terkait kapan akan diterapkan, Umar mengaku belum mengetahuinya.
"Ini-kan belum diteken pak Wali, nanti kalau sudah diteken baru kami bisa memberikan konferensi pers. Pasti kamu ekspose," ujarnya Minggu (5/7/2020).
Menurut Umar, Perwali ini tak jauh beda dengan Perwali 31 yang sebelumnya diterbitkan PJ Walikota Makan sebelumnya, Prof Yusran Jusuf.
Yang membedakan dengan Perwali 31, yakni pengawasan aktivitas keluar masuk warga Makassar di perbatasan.
Hal yang sama diungkapkan oleh Asisten 1 Makassar, M Sabri. Menurut dia, Perwali ini di terapkan setelah Perwali diteken PJ Walikota Makassar.
"Senin dijadwalkan pak Wali akan teken perwalinya," ujarnya.
Ia pun mengatakan yang membedakan aturan ini dengan Perwali 31, hanya ada penambahan peraturan, yakni warga luar yang tak memiliki keterangan bebas covid dilarang masuk Kota Makassar.
Trend Covid-19 Makassar Menyeramkan
Tren kasus baru Covid-19 di Sulawesi Selatan dan Makassar belum menunjukkan tandai landai apalagi turun.
Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Minggu (5/7) sore, dari 34 provinsi di Indonesia, penambahan kasus baru pasien Covid-19 terbanyak masih dipegang Jawa Timur dengan 552 pasien. Diikuti DKI Jakarta 257 pasien dan Jawa Tengah 208 pasien.
Khusus Sulsel berada di posisi keempat dengan tambahan 136 pasien. Penambahan tersebut membuat jumlah angka pasien Covid-19 di Sulsel mendekati 6 ribu kasus.
Tepatnya 5.890 pasien. Sedangkan jumlah yang sembuh di Sulsel bertambah 95 orang. Tambahan itu membuat total pasien sembuh di Sulsel naik dari 2.023 pasien menjadi 2.118 pasien.
Dari 5.890 pasien se-Sulsel itu, sebanyak 3.521 pasien adalah warga Kota Makassar. Sebanyak 2.407 di antaranya dalam kondisi dirawat. Terdiri 674 dirawat di rumah sakit dan 1.733 orang lainnya menjadi isolasi mandiri. Total yang sembuh 961 orang dan meninggal karena positif covid-19 sebanyak 153 orang.
Total pasien corona Makassar tersebut hampir setara dengan jumlah pasien covid-19 Jawa Barat yakni 3.574 orang. Jumlah penduduk Jawa Barat lebih 48 juta jiwa.
Sedangkan jumlah penduduk Makassar sekira 1,5 juta.
Kondisi ini mesti menjadi perhatian semua pihak. Apalagi sejumlah rumah sakit rujukan pasien corona di Makassar kini telah penuh.
Seperti terjadi di Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Tadjuddin Chalid Makassar di Jl Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya.
Tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit ini sudah full.
Hal tersebut dikatakan oleh Humas RS Tadjuddin Chalid Pasca Sarjono Patabang via WhatsApp, Minggu (6/7) siang. Rumah Sakit Tadjuddin Chalid kini merawat 31 pasien positif.
Juga merawat 2 Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Sehingga total 33 pasien dirawat.
Padahal, rumah sakit ini hanya tersedia 31 tempat tidur pasien Covid-19.
Sehingga, pihak rumah sakit harus menambah extra bed (tempat tidur tambahan).
Ketua IDI Makassar dr Siswanto Wahab menyebut situasi Makassar, yang menjadi epicentrum Sulawesi Selatan, tersebut kian menyeramkan.
"Terus terang melihat situasi ini. Mau keluar aja takut, menyeramkan. Seram sekarang Makassar,” kata Siswanto.
Apalagi mengingat daerah ini dengan jumlah penduduk yang tidak sebanyak Pulau Jawa tapi penularan pasien Covid-19 sangat mengkhawatirkan.(tribun-timur.com)