Opini
Mudik, Ekonomi, dan Pandemi Virus Corona / Covid-19
Dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah mengurangi aktivitas masyarakat.
Muhajir
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam atau FEBI IAIN Palopo
KEBENARAN adagium, setinggi-tinginya bangau terbang surutnya kekubangan, tak terbantahkan dalam kondisi apapun.
Merindukan tempat darimana kita berasal adalah naluri manusia.
Siapa pun akan kembali ke kampung halaman untuk menuntaskan rindu, bersilaturahmi dengan sanak keluarga.
Tanpa teori atau dalil pun, kebanyakan masyarakat meyakini itu.
Hal demikian yang menjangkit kebanyakan masyarakat di momen Lebaran hingga bereinkarnasi menjadi tradisi.
Setiap menjelang Lebaran, menjadi hal yang biasa melihat hiruk pikuk masyarakat kembali ke kampung halaman.
Tapi di tengah pandemi hal tersebut menjadi persoalan.
Bukankah begitu?
Dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah mengurangi aktivitas masyarakat.
Selain jarak, pergerakan dari suatu tempat ketempat lain, baik dalam satu wilayah ataupun antarwilayah dibatasi.
Akibatnya, interaksi masyarakat menurun drastis.
Bertemu dengan tetangga pun tanpa menggunakan masker dihimbau tidak dilakukan, apatah lagi ingin pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan handai taulan, sangat tidak dianjurkan.
Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muhajir-1-2052020.jpg)