Tau Manusia Bugis
Buku 'Tau, Manusia Bugis': Cara Mengobati dan Menghindari Doti (Black Magic)
Secara garis besar orang Bugis membagi jenis sakit itu dalam dua kategori. Pertama, penyakit panas yang disebut lasa atau doko pella.
Ciri-ciri penyakit doti, antara lain dapat dirasakan oleh para penderita di mana mereka seolah-olah terkurung di atas bara api.
Demikian panasnya, sehingga kebanyakan penderita sakit doti tidak kerasan mengenakan pakaian.
Doti seperti ini disebut doti api.
Jenis doti lainnya yang sangat ditakuti oleh anggota masyarakat ialah doti ulu, yaitu doti yang sasarannya khusus mengenai bagian kepala korbannya.
Ciri-ciri doti ulu terutama dapat dilihat pada batok kepala seseorang penderita korban doti sekonyong-konyong menjadi lembek.
Melembeknya batok kepala, disusul pula dengan gugurnya ramhut yang tumbuh di kepala si penderita, bahkan yang bersangkutan dapat meninggal dunia atau menjadi cacat seumur hidup, misalnya kepalanya menjadi lonjong, miring dan sebagainya.
Penyebab penyakit, ialah timbulnya serangan hawa panas pada organ tubuh manusia terutama di bagian lambung atau kepala.
Serangan hawa panas tersebut dikendalikan oleh kekuatan sakti yang disedot melalui praktek magis (black magic).
Terdapat tiga kategori cara khusus untuk pengobatan atau memusnahkan pengaruh penyakit doti.
Pertama, pengobatan fisik untuk memusnahkan kekuatan doti, sekaligus membebaskan penderita dari kungkungan hawa panas.
Kedua menjinakkan kekuatan doti, sehingga membebaskan si penderita dari tekanan pengaruhnya.
Ketiga, ialah cara mengirimkan kembali, sekaligus memberikan serangan balik pada si pemilik doti.
Cara pengobatan kedua dan ketiga tersebut dilakukan atas dukungan mantera- mantera dan praktek magis atau tepatnya dapat disebut “white magic”.
Selain pengobatan dengan menggunakan ilmu gaib dan mantera-mantera, digunakan pula ramuan tradisional yang biasa digunakan untuk menyembuhkan doti, antara lain berupa resep terbuat dari bahan: jahe, kayu manis, ketumbar, daun kencur, araso (sejenis tanaman tebu tetapi rasanya hambar dan dapat terapung di atas permukaan air).
Ramuan tersebut kemudian dijerang sampai mendidih. Sesudah itu ramuan didiamkan beberapa saat kemudian diberi minum pada si penderira. Hal ini diulang-ulang pagi dan sore.