Kolom Hayyun Zsavana
Masjid Nabawi, Suatu Malam; Nukilan Sejarah Perintah Salat Tarwih
Masih disebut Qiyam Ramadhan. Nama Tarawih untuk shalat itu baru muncul kemudian. Lebih dari 10 tahun sesudahnya. Di masa Khalifah Umar bin Khattab.
Kolom Hayyun Zsavana: Masjid Nabawi, Suatu Malam; Nukilan Sejarah Perintah Salat Tarwih
MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM — Hayyun Nur Zsavana , seorang penulis muda dari Palu, Sulawesi Tengah, mencoba menuliskan sejarah awal mulah perintah Solat tarwih di Bulan Ramadhan.
Hayyun adalah alumnus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia salah seorang korban bencana Palu.
Pada bencana, gempa, likuefaksi dan tsunami di Palu, dua tahun lalu, Hayyun mulai aktif menulis.
Menarasikan bencana, cerita, hikmah, dan masa pemulihan pasca bencana itu diakui membuatnya lebih bisa melalui masa-masa duka itu.
Berikut ini Narasi Ramadhan yang coba dituliskan dosen ilmu agama di Palu itu dan dikirim ke redaksi Tribun Timur, Kamis (30/4/2020) ini.
Tulisan dalam gaya bahasa puitik ini mengisahkan sejarah awal mula datangnya perintah salat tarwih di malam Ramadhan.
Hayyun memberinya judul; Masjid Nabawi, Suatu Malam; Nukilan Sejarah Perintah Salat Tarwih
===
Malam bulan Ramadhan ketika itu. Di Masjid Nabawi, Madinah.
Nabi melaksanakan shalat yang tak biasa.
Sesudah shalat Isya. Belum pernah Nabi melaksakan shalat seperti itu sebelumnya. Benar-benar tak biasa.
Melihat itu, sekelompok sahabat mengikuti beliau.
Mengatur saf di belakang.
Berjamaah bersama Nabi.
Di malam berikutnya Nabi melaksanakan shalat yang sama.
Masih Di Masjid Nabawi. Jumlah sahabat yang ikut berjamaahpun semakin banyak.
Keesokan harinya. Shalat yang tak biasa itu, tak pelak lagi menjadi pembicaraan di antara para sahabat.
Menjadi topik yang dibicarakan dari mulut ke mulut.
Hingga pada malam ketiga atau keempat. Para sahabat kembali berkumpul.
Dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Tapi mereka kecele.
Malam itu rupanya Nabi tidak datang ke mesjid.
Merekapun terpaksa melaksanakan shalat tanpa kehadiran Nabi.
Di pagi harinya barulah Nabi menemui mereka.
Menjawab rasa penasaran segenap sahabatnya, Nabi lalu berkata:
"Saya mengetahui apa yang telah kalian lakukan semalam. Tapi saya sengaja tidak datang shalat jamaah bersama kalian. Tak satupun yang menghalangi saya. Kecuali suatu kekhawatiran. Jangan sampai shalat itu ditetapkan menjadi shalat wajib. Itu pasti akan memberatkan kalian".
Demikian dinukilkan dari Syaikh Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikri, 1985), h. 72.
Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriah. 624 Masehi.
Di usia Nabi yang ke-53. Di hari ke-23 Ramadhan.
Inilah peristiwa yang menandai pelaksanaan shalat Tarawih. Untuk pertama kalinya. Saat itu shalat Tarawih belum lagi bernama.
Masih disebut Qiyam Ramadhan. Nama Tarawih untuk shalat itu baru muncul kemudian. Lebih dari 10 tahun sesudahnya. Di masa Khalifah Umar bin Khattab.
Peristiwa ini merujuk buku karangan Ahmad Zarkasih, Lc, Sejarah Tarawih. (Jakarta: Rumah Fiqih Publishing, 2019), h. 54.
Kisah ini dituturkan pada kita oleh sang istri terkasih.
Ibunda kita. Aisyah Sang Khumairah.
Kisah ini terekam dengan baik dalam dua kitab Hadis paling terkemuka. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Hadis No. 924 dan Sahih Muslim, Hadis No. 761.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hayyun_z.jpg)