Breaking News:

Berdiam di Rumah dan Perilaku Baik

Bencana nasional ini telah menunjukkan bahwa kita tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk itu kita semua harus mengambil tanggung jawab

DOK
Miguel Dharmadjie ST CPS®, Penyuluh Agama Buddha Non PNS Provinsi Sulsel dan Member of IPSA (Indonesian Professional Speakers Association) 

oleh: Miguel Dharmadjie ST CPS®
Penyuluh Agama Buddha Non-PNS Provinsi Sulsel - Member of IPSA (Indonesian Professional Speakers Association)

Lebih dari satu bulan terakhir marak kita temukan trending tanda pagar alias tagar #DiRumahAja di berbagai media sosial. Kita juga mungkin pernah menonton video kolaborasi lagu “Di Rumah Aja” yang dibuat komposer Eka Gustiwana. Lagu kompilasi ini dinyanyikan oleh warganet dengan kalimat Di Rumah Aja dalam 42 bahasa daerah di Indonesia.

Tagar #DiRumahAja dan video kompilasi “Di Rumah Aja” berisikan pesan, ajakan dan seruan agar masyarakat berdiam di rumah jika tidak ada keperluan mendesak demi keamanan sekaligus memutus rantai penyebaran wabah Corona Virus Disease (Covid-19).

Ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Indonesia dan sebagai dukungan untuk menanggulangi bencana kemanusiaan yang telah menyebar ke 213 negara di seluruh dunia.

Indonesia sebagai salah satu negara yang terpapar telah mengeluarkan kebijakan Berdiam di Rumah (Stay At Home), yaitu bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan ibadah di rumah. Kebijakan ini bertujuan menjaga jarak fisik antar satu dengan yang lain (physical distancing) sebagai salah satu solusi mengatasi pandemi global Covid-19.

Agar wabah Covid-19 dapat maksimal tertangani dibutuhkan kesadaran dan kedisiplinan, baik dari diri sendiri maupun secara kolektif oleh seluruh rakyat Indonesia secara bersama-sama, terus menerus dan tidak terputus.

Oleh karenanya kebijakan berdiam di rumah sangat penting dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain mengatur jarak fisik atau tidak berkumpul, kebijakan ini sebenarnya juga memberikan pesan untuk tidak menjauhkan jarak komunikasi dan jarak religiusitas.
Artinya di saat kita berdiam di rumah, di saat yang sama kita merapatkan komunikasi dengan sesama dan lebih dekat dengan ajaran agama sebagai bagian perilaku baik.

Dalam eksistensinya sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain. Dengan mengedepankan komunikasi yang beretika dan menghargai orang lain maka akan tercipta kehidupan yang damai dan harmonis.

Komunikasi pribadi dengan sesama, baik saudara, kerabat, teman dan masyarakat lainnya menjadi hal yang hendaknya tidak terlupakan. Justru ini menjadi kesempatan bagi kita untuk dapat merapatkan kembali komunikasi dan merekatkan kembali hubungan dengan sesama, khususnya dengan keluarga.

Manusia membutuhkan Dhamma sebagai penuntun hidupnya. Ini berarti kita jangan sampai jauh dari Dhamma, bahkan melupakan Dhamma. Namun kita hendaknya lebih tekun mempelajari nilai-nilai kebenaran universal dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menganalisa kejadian-kejadian hidup melalui meditasi buddhis (Vipassana) sehingga pada akhirnya mencapai Kebahagiaan Tertinggi (Nibbana).

Halaman
12
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved