Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Doa Buka Puasa

Lafadz Bacaan Adzan dan Iqomah Lengkap Doa Buka Puasa Ramadhan 1441 H yang Benar

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, dan dinilai dhaif oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud.

Editor: Hasrul
eramusmil.com
Lengkap Lafadz Bacaan Adzan dan Iqomah dengan Tulisan Arab Latin dan Artinya 

TRIBUN-TIMUR.COM - Selamat menantikan waktu berbuka puasa Ramadhan 1441 Hijriyah, Jumat (24/4/2020).

Waktu buka puasa adalah saat waktu Magrib tiba yang ditandai dengan kumandang Adzan.

Saat buka puasa nanti, jangan lupa baca doa buka puasa.

Apa doa buka puasa Ramadhan 2020 yang benar?

Ternyata tak hanya “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthartu” .

Disalin dari laman Muslimah.or.id, doa buka puasa yang terkenal di tengah masyarakat, adalah sebagai berikut:

Lafaz pertama:

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت

Terjemahannya, ”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Doa ini merupakan bagian dari hadits dengan redaksi lengkap sebagai berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ عَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Dari Mu’adz bin Zuhrah, sesungguhnya telah sampai riwayat kepadanya bahwa sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa), ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu-ed’ (yaa Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka).”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud, dan dinilai dhaif oleh Syekh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud.

Penulis kitab Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla Ramadhan menuturkan, “(Hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (2/316, nomor 358).

Abu Daud berkata, ‘Musaddad telah menyebutkan kepada kami, Hasyim telah menyebutkan kepada kami dari Hushain, dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya dia menyampaikan, ‘Sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucapkan, ‘Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.’”

Mua’dz ini tidaklah dianggap sebagai perawi yang tsiqah, kecuali oleh Ibnu Hibban yang telah menyebutkan tentangnya di dalam Ats-Tsiqat dan dalam At-Tabi’in min Ar-Rawah, sebagaimana al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Tahdzib at-Tahdzib (8/224).

Dan seperti kita tahu bersama bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh para ulama sebagai orang yang mutasahil, yaitu bermudah-mudahan dalam menshohihkan hadits-ed.

Keterangan lainnya menyebutkan bahwa Mu’adz adalah seorang tabi’in.

Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus).

Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus.

Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved