Corona: Obesitas Informasi dan Kepanikan Sosial

Hantaman- hantaman informasi yang menyerang sehari- hari kita selama proses karantina Corona ini melalui media sosial bukan lagi melahirkan kepanikan

Corona: Obesitas Informasi dan Kepanikan Sosial
DOK
Ute Nurul Akbar, Alumnus UNM. PNS Pemkot Makassar

Oleh: Ute Nurul Akbar
Alumnus UNM. PNS Pemkot Makassar

“Kita dilingkupi oleh kehampaan, tetapi kehampaan yang diisi dengan tanda- tanda.”
Ungkapan Henry Lifebvre di atas sengaja saya kutip untuk membuka tulisan ini. Sebuah narasi yang tepat untuk memberikan gambaran pada kondisi yang kita hadapi saat ini. Sehari-hari kita disuguhi dengan resepsi informasi dan citra yang luar biasa melimpahnya.

Dalam kajian budaya kekinian, keberlimpahan citraan menjadi salah satu penanda dari kebudayaan kontemporer kita saat ini. Lalu lintas informasi yang begitu cepat tanpa memberi kita kesempatan untuk mencerna dan memahaminya, mereka disajikan datang dan pergi mengisi semua ruang dan waktu kita.

Tanpa sadar, manusia modern telah menciptakan penjara baru yang kasat mata. Kita bahkan tak sadar telah berada disebuah ruang dan waktu yang tidak kita ketahui lewat pintu mana kita memasukinya. Seketika kehidupan kita dikepung dan dipagari oleh citraan dan informasi yang berlimpah ruah.

Bahkan informasi yang kita sendiri bisa jadi tak menginginkannya. Manusia modern telah memaksa diri mereka mengkonsumsi menu- menu citraan dan informasi itu tanpa jeda. Yang pada akhirnya terjebak dalam keadaan obesitas atau kegemukan dalam mengkonsumsinya.

Pada kondisi yang membahayakan, kita berpotensi akan kehilangan kemerdekaan dan kelincahan berpikir, bergerak dan berkreasi. Dan akan mengontrol arus berpikir kita. Realitas seperti ini sering kita temui jika terjadi suatu kondisi yang berhubungan langsung dengan hajat hidup komunitas atau populasi yang besar.

Obesitas Informasi

Sejak mewabahnya virus Corona di Wuhan, Cina dan kota- kota besar dunia lainnya diakhir tahun 2019. Ribuan sajian informasi dihampir seluruh belahan dunia diproduksi dan menghiasi hari- hari kita mulai sejak bangun hingga bangun kembali.

Mulai dari informasi jumlah korban yang terus bertambah, kelemahan dan kelebihan dari virus ini, kejadian- kejadian dari yang lucu hingga yang membuat kita ketakutan, dan komentar- komentar pakar kesehatan, ekonomi, budaya dan politik tidak ingin ketinggalan mewarnai tsunami informasi ini. Mereka menggelinding secara bersamaan. Ada yang seirama dan tidak sedikit yang saling menegasi. Ada yang benar, abu- abu, bahkan tidak sedikit yang cenderung mirip dengan dongeng raksasa yang kejam pengantar tidur sikecil. Hal ini kemudian menciptakan kesemrautan pesan yang terkirim lewat informasi dan citraan itu. Kesemrautan yang pada akhirnya membentuk turbulensi yang terus berputar dan menyeret semua yang ada disekitarnya. Semakin cepat dan liar lompatan turbulensinya akan semakin mempercepat naik- turunnya informasi dan citraan yang beredar dimasyarakat. Dengan adanya keterbukaan akses pada ruang informasi melalui interaksi masyarakat maupun lewat media sosial, semua semakin memperkokoh posisinya sebagai obyek sekaligus subyek dalam arena duel informasi dan citraan. Dalam keadaan ini media tidak lagi menjadi pemain tunggal dalam memproduksi dan menyebar luaskan informasi.

Semua memanfaatkan ruang untuk berlomba saling menggugurkan.yang pada akhirnya esensi lahirnya informasi justru terlupakan. Penggembungan (obesity) informasi telah menyebabkan tidak lagi dapat dicerna pesannya, tidak lagi ditemui nilai gunanya, sulit ditafsirkan maknanya dan dicari hikmahnya. Didalam masyarakat yang obesitas informasi, segala bentuk informasi yang diteliti, direkam, dicetak, difilmkan, dikorankan, ditelevisikan, disirakan, ditayangkan, dipublikasikan tanpa peduli lagi pada tujuan, fungsi dan kegunaannya dalam rangka peningkatan kualitas hidup kita. kita terjebak dan menjebakkan diri dalam suatu posisi yang disebut banalitas informasi (information banality). Pesan yang sampai pada masyarakat sebagai obyek adalah pesan persaingan siapa yang lebih banyak mendapatkan pendengar dan pembaca. Pada akhirnya terjebak pada titik turbulensi yang lebih besar yaitu turbulensi kapital. Di mana masyarakat tidak lagi diikat oleh satu ideologi politik tertentu melainkan individu satu sama lain berlomba dalam suatu arena duel, kontes tantangan, rayuan, dan godaan masyarakat berkarakter komsumeris. Jaringan informasi menjadi transparan yang perlahan melepas kategori- kategori moral yang mengikatnya.

Kepanikan Akut

Hantaman- hantaman informasi yang menyerang sehari- hari kita selama proses karantina Corona ini melalui media sosial bukan lagi melahirkan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa yang tercipta dalam alam bawah sadar kita. Corona tereduksi menjadi satu momok baru dalam masyarakat dunia. Momok yang membawa kita masuk kedalam kondisi trauma yang bertingkat- tingkat disemua lapisan masyarakat. Ini menjadi ancaman yang baru bagi masyarakat yang sangat terbuka. Semua jenis informasi dan citraan tidak lagi melewati filter. Semua dapat melihat, mendengar dan membacanya. Masyarakat yang berpendidikan maupun yang terbatas dalam akses pendidikannya menjadi sasaran tembak dari informasi dan citraan itu. Informasi dasar yang diterima lalu diproduksi kembai oleh masyarakat sesuai dengan gambaran imajinasi masing- masing. Menurut Paul Virilio (1989: 107) kondisi seperti ini, kita tidak lagi berkelana dengan kecepatan dalam sebuah teritorial tapi dalam sebuah ruang simulasi dan halusinasi. Pada akhirnya tanpa sadar melahirkan gangguan secara psikologis. Trauma yang berlebih tanpa diiringi oleh suplay informasi yang benar jauh lebih berbahaya dari pada virus Corona itu sendiri.

Jean Baudrillard menyebut kondisi seperti ini sebagai hipermodernitas. Yaitu suatu kondisi sosial- kebudayaan yang bertumbh lebih cepat, ketika tempo kehidupan menjadi semakin tinggi dan ketika setiap wacana, informasi dan citraan bertumbuh kearah titik ekstrim. Kecepatan juga terproduksi jauh melebihi batas kendalinya sendiri, yang pada titik tertentu akan kehilangan kendali dan arahnya.

Efek yang ditimbulkan saat ini sudah kita lihat. Trauma yang tercipta melahirkan titik- titik konflik baru dalam masyarakat seperti adanya penolakan masyarakat secara berulang pada jenazah yang akan dimakamkan, beredarnya beragam video protes dari masyarakat yang dikarantina di rumah sakit, beredarnya video bantahan masyarakat disuatu kampung, tidak terjalinnya koordinasi yang baik antar sesame beberapa pimpinan wilayah maupun dengan pemerintah pusat dan berbagai efek lainnya. Tentu peran pemerintah dari pusat hingga ke pelosok terbawah juga sangat diharapkan hadir dalam memberikan ruang informasi yang benar dan tepat. Tempat- tempat ibadah pun seharusnya dimanfaatkan untuk menjadi pusat informasi bagi masyarakat sekitarnya agar tercipta keseragaman informasi tentang permasalahan yang sedang dihadapi. Akhirnya seperti yang ditulis Michel Cerres bahwa “Bila kita ingin membedakan antara keadaan tak beraturan dan beraturan maka turbulensi adalah garis tengah diantara dua keadaan ini”

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved