Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Resensi Buku

Resensi Buku Pau Pau Ri Kadong; Tradisi Lisan Sulawesi Selatan yang Sangat Berharga

Resensi Buku Pau Pau Ri Kadong; Tradisi Lisan Sulawesi Selatan yang Sangat Berharga

Editor: Mansur AM
Dok Dinas Perpustakaan Makassar
Resensi Buku Pau Pau Ri Kadong; Tradisi Lisan Sulawesi Selatan yang Sangat Berharga 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Tradisi lisan suku Bugis di masa lalu menjadi warisan turun temurun yang sangat berharga membentuk kepribadian masyarakatnya.

Cerita-cerita orang tua dahulu selain dapat memberikan hiburan juga memberikan sugesti kepada yang mendengarnya untuk mengenal dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam setiap cerita sebagai bagian pedoman hidup dalam bermasyarakat.

Untuk melestarikan dan menghimpun cerita tersebut maka tiga orang penulis yang semuanya berlatar belakang peneliti dan 2 diantaranya dosen Sastra Indonesia mengangkat cerita itu dalam bentuk tulisan yang berjudul PauPau Ri Kadong atau Cerita yang dianggukan atau diiakan.

Buku ini lumayan tebal namun tidak perlu kuatir karena bukunya dicetak dengan bahan pilihan termasuk menggunakan lem panas berkualitas sehingga 23 cerita yang ada didalamnya dapat dinikmati dengan santai tanpa rasa takut halamannya ada yang terlepas.

Menikmati bagian per bagian cerita dari buku ini membuat kita betah untuk mau menghabiskan seluruh cerita dalam sehari. Kadang kita bisa tertawa sendiri bahkan menangis menghayati cerita dalam buku ini.

Bahasa yang digunakan oleh penulispun sederhana namun sarat makna walaupun ada beberapa kata yang salah ketik atau salah penempatan huruf tetapi bagi yang mempunyai perbendaharaan kata yang baik hal itu tidak menjadi masalah berarti.

Seluruh cerita dilengkapi pesan moral yang merangkum semua isi cerita. Terkadang pesan moral tersebut bisa menjadi harta karun yang sangat berharga bagi pembacanya sendiri, itulah salah satu dari kehebatan buku ini.

Tidak semua cerita memiiki alur yang panjang, ada beberapa cerita yang pendek namun pembaca akan disuguhi diawal buku ini dengan alur cerita yang panjang dan cukup sedih yakni kisah Itenrigau.

Itenrigau memiliki kehidupan yang berliku-liku dan mendapatkan fitnah walaupun ia adalah anak raja dan sempat meninggal yang akhirnya nyawanya kembali lagi atas pengorbanan seekor kucing kesayangannya yang bernama Imeyompalo.

Cerita selanjutnya yang bisa membuat kita tertawa adalah cerita yang kedua tentang anak yang suka berbohong yang bernama Lapagala.

Walaupun ia dikenal pembohong ulang namun ia sangat cerdik dan sempat dipercaya menjadi pimpinan perampok.

Berkat kecerdikannya itu, ia selamat dari hukuman dan penduduk dapat menangkap dan menghukum perampokyang selama ini meresahkan kampungnya.

Cerita ketiga tentang Lapatunru yang baik budi tinggal bersama Ibunya yang janda.

Namun ia akhirnya malu karena Ibunya memiliki aib yang dibungkus kebaikan.

Aib itu ternyata menjadi pelajaran Lapatunru dan akhirnya dapat memecahkan masalahnya yakni dapat menangkap pencuri yang seolah-olah dipandang baik oleh masyarakat.

Cerita keempat sangat lucu walaupun ada juga sedihnya yaitu tentang kisah La Bungko-Bungko yang berhasil membuktikan cita-citanya dihadapan 6 kakaknya bahwa kelak ia dapat memperistri anak Raja.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved