Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Virus Corona

Kabar Buruk untuk Perokok, Penyebab Anda Lebih Berisiko Terinfeksi Virus Corona

Kabar buruk untuk perokok, penyebab Anda lebih berisiko terinfeksi Virus Corona.

Editor: Edi Sumardi
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Presiden Joko Widodo meninjau penyemprotan disinfektan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2020). Penyemprotan yang dilakukan di sekitar mimbar dan ruang utama jamaah masjid itu dilaksanakan oleh tim gabungan dari Palang Merah Indonesia (PMI), Kesdam, Gegana, Kodam Jakarta Pusat hingga dari KAI DAOP 1 yang berjumlah sekitar 35 orang. Penyemprotan disinfektan tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus korona baru. 

Untuk itu, pemerintah harus lebih lugas untuk memperingatkan masyarakat akan risiko penularan tersebut.

Itu juga sekaligus bisa dimanfaatkan untuk menekan prevalensi perokok di Indonesia.

Dari data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan, prevalensi merokok pada penduduk umur 10 tahun ke atas sebanyak 29,3 persen.

Jumlah itu naik dari tahun 2013 yang sebesar 28,8 persen.

Kondisi ini makin buruk jika melihat data prevalensi perokok pemula (usia 10-18 tahun) yang naik dari 7,2 persen (2013) menjadi 9,1 persen (2018).

Penapisan Lebih Luas

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Zubairi Djoerban berpendapat, besarnya risiko penularan Covid-19 seharusnya dibarengi dengan upaya penapisan lebih luas.

Pemerintah harus lebih melonggarkan kriteria orang yang bisa diperiksa terkait infeksi tersebut.

“Jika memang orang tersebut memiliki riwayat bepergian dari negara atau wilayah yang ditemukan kasus positif ataupun dengan riwayat kontak dengan orang yang tertular Covid-19 harus segera diperiksa. Jangan menunggu adanya gejala penyakit terlebih dahulu,” katanya.

Perluasan penapisan pada orang yang berisiko ini sangat penting karena penularan virus ini amat cepat.

Jika melihat penapisan yang dilakukan di negara lain, lanjut Zubairi, jumlah orang yang diperiksa di Indonesia dengan 500-1.000 orang termasuk masih sangat rendah.

Sejumlah negara yang sudah melaporkan pemeriksaan itu seperti Bahrain (8.364 orang), Korea Selatan (210.144 orang), Italia (60.760 orang), dan Australia (8.200 orang).

“Perlu lebih banyak lagi laboratorium yang ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan. Saat ini sudah menjadi pandemi sehingga tidak bisa lagi bekerja business as usual. Respons pemerintah sudah lebih baik tetap perlu lebih cepat, cepat, cepat, lagi,” tuturnya.(*)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved