Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Virus Corona

Kabar Buruk untuk Perokok, Penyebab Anda Lebih Berisiko Terinfeksi Virus Corona

Kabar buruk untuk perokok, penyebab Anda lebih berisiko terinfeksi Virus Corona.

Editor: Edi Sumardi
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Presiden Joko Widodo meninjau penyemprotan disinfektan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2020). Penyemprotan yang dilakukan di sekitar mimbar dan ruang utama jamaah masjid itu dilaksanakan oleh tim gabungan dari Palang Merah Indonesia (PMI), Kesdam, Gegana, Kodam Jakarta Pusat hingga dari KAI DAOP 1 yang berjumlah sekitar 35 orang. Penyemprotan disinfektan tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus korona baru. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Kabar buruk untuk perokok, penyebab Anda lebih berisiko terinfeksi Virus Corona.

Kurangi kebiasaan merokok mulai dari sekarang.

Kebiasaan merokok meningkatkan risiko penularan infeksi SARS-Cov-2 yang menjadi pemicu penyakit Covid-19 (Coronavirus disease 2019).

Untuk itu, kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan karena jumlah perokok di Indonesia cukup besar.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset dan Teknologi Amin Soebandrio mengatakan, merokok dapat meningkatkan reseptor ACE 2 dalam tubuh.

Reseptor tersebut juga menjadi reseptor dari virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19.

“Dengan peningkatan ekspresi ACE 2 itu kemudian memfasilitasi masuknya virus SARS-CoV-2 ke dalam tubuh seseorang. Ini yang kemudian menyebabkan orang yang merokok lebih berisiko terinfeksi virus tersebut,” katanya di Jakarta, Jumat (13/3/2020).

Dalam jurnal The Lancet pada 15 Februari 2020 disebutkan, dari 99 orang pasien positif Covid-19 yang dirawat selama 20 hari di Wuhan Jinyintan Hospital, terdapat 11 orang yang meninggal.

Dari pasien yang meninggal tersebut, tiga pasien di antaranya adalah perokok.

Dengan peningkatan ekspresi ACE 2 itu kemudian memfasilitasi masuknya virus SARS-CoV-2 ke dalam tubuh seseorang. Ini menyebabkan perokok lebih berisiko terinfeksi virus tersebut.

Studi yang dipublikasikan di Chinese Medical Journal (2020) melibatkan 78 pasien yang terinfeksi Covid-19.

Dari 11 pasien yang kondisinya memburuk, 27 persen di antaranya memiliki riwayat merokok.

Sementara, dari 67 pasien yang kondisinya membaik, hanya tiga persen yang memiliki riwayat merokok.

Ketua Kelompok Kerja Masalah Rokok dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ( PDPI ) Feni Fitriani menambahkan, riset itu menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih waspada pada penularan Covid-19.

“Perokok di Indonesia sangat tinggi dengan dua per tiga laki-laki di Indonesia adalah perokok,” katanya.

Untuk itu, pemerintah harus lebih lugas untuk memperingatkan masyarakat akan risiko penularan tersebut.

Itu juga sekaligus bisa dimanfaatkan untuk menekan prevalensi perokok di Indonesia.

Dari data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan, prevalensi merokok pada penduduk umur 10 tahun ke atas sebanyak 29,3 persen.

Jumlah itu naik dari tahun 2013 yang sebesar 28,8 persen.

Kondisi ini makin buruk jika melihat data prevalensi perokok pemula (usia 10-18 tahun) yang naik dari 7,2 persen (2013) menjadi 9,1 persen (2018).

Penapisan Lebih Luas

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Zubairi Djoerban berpendapat, besarnya risiko penularan Covid-19 seharusnya dibarengi dengan upaya penapisan lebih luas.

Pemerintah harus lebih melonggarkan kriteria orang yang bisa diperiksa terkait infeksi tersebut.

“Jika memang orang tersebut memiliki riwayat bepergian dari negara atau wilayah yang ditemukan kasus positif ataupun dengan riwayat kontak dengan orang yang tertular Covid-19 harus segera diperiksa. Jangan menunggu adanya gejala penyakit terlebih dahulu,” katanya.

Perluasan penapisan pada orang yang berisiko ini sangat penting karena penularan virus ini amat cepat.

Jika melihat penapisan yang dilakukan di negara lain, lanjut Zubairi, jumlah orang yang diperiksa di Indonesia dengan 500-1.000 orang termasuk masih sangat rendah.

Sejumlah negara yang sudah melaporkan pemeriksaan itu seperti Bahrain (8.364 orang), Korea Selatan (210.144 orang), Italia (60.760 orang), dan Australia (8.200 orang).

“Perlu lebih banyak lagi laboratorium yang ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan. Saat ini sudah menjadi pandemi sehingga tidak bisa lagi bekerja business as usual. Respons pemerintah sudah lebih baik tetap perlu lebih cepat, cepat, cepat, lagi,” tuturnya.(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved