Mahathir Mohamad
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad Dijuluki 'Manipulator Ulung' Malaysia, Kok Bisa? Alasannya
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dijuluki 'manipulator ulung' Malaysia, kok bisa? Alasannya.
TRIBUN-TIMUR.COM - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dijuluki 'manipulator ulung' Malaysia, kok bisa? Alasannya.
Surat pengunduran diri Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad yang disampaikan kepada Raja Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah, mengejutkan banyak orang.
Pengunduran diri ini terjadi di tengah desas desus bahwa ia mungkin membentuk koalisi baru tanpa pengganti yang sebelumnya ia tunjuk, Anwar Ibrahim.
Raja menunjuk Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri sementara sampai dibentuk pemerintahan baru.
Mahathir Mohamad yang berusia 94 tahun ini merupakan perdana menteri tertua di dunia.
Ia mulai berkuasa pada tahun 2018 lewat pemilu, mengalahkan partai partai United Malays National Organisation ( UMNO ), pimpinan Najib Razak.
Mahathir Mohamad pernah pensiun dari jabatan sebagai Perdana Menteri pada tahun 2003, setelah 22 tahun memimpin.
Namun ia menghakhiri masa pensiun itu untuk memperbaiki apa yang disebutnya "kesalahan terbesar dalam hidup saya" - yaitu mendukung naiknya Najib Razak sebagai Perdana Menteri Malaysia.
Setelah berselisih dengan Najib Razak serta partai UMNO yang saat itu berkuasa, ia kemudian memimpin lawan politik lamanya, koalisi oposisi Pakatan Harapan yang dipimpin Wan Azizah Wan Ismail, istri dari Anwar Ibrahim.
Sebelum Pemilu, Mahatir Mohamad mengatakan dia bermaksud menjadi perdana menteri selama dua tahun, sebelum kemudian menyerahkan jabatan itu ke Anwar Ibrahim.
Tidak bermanis-manis
Dorongan politik dan semangat juang Mahathir Mohamad untuk menggulingkan koalisi yang berkuasa - bagi sebagian orang tugas ini mustahil - tidak mengejutkan rakyat Malaysia.
Mahathir Mohamad bergabung dengan UMNO pada usia 21 tahun dan membuka praktek sebagai dokter selama tujuh tahun di negara bagian Kedah sebelum menjadi anggota parlemen pada tahun 1964.
Pada tahun 1969, ia kehilangan kursinya dan dikeluarkan dari partai setelah menulis surat terbuka yang menyerang Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman yang berkuasa saat itu.
Dia kemudian menulis buku kontroversial berjudul The Malay Dilemma.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/mahathir-mohamad-1-2422020.jpg)