Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Pilwali Makassar

Bos Parpol di Makassar Tak Berani Nyalon di Pilwali, Ini Kata Pengamat Politik UINAM

Di antaranya, Ketua DPC Demokrat Makassar Adi Rasyid Ali dan Ketua DPC Gerindra Makassar Eric Horas

Penulis: Abdul Azis | Editor: Ansar
Syahrir Karim
Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Syahrir Karim, menilai Gelora) pimpinan Anis Matta punya magnet tersendiri. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar yang juga sebagai ketua partai politik (parpol) di Makassar tidak berani maju bertarung pada pemilihan wali kota (Pilwali) Makassar.

Mereka yang sebelumnya menyatakan sikap maju di pilwali 2020 hanya mendaftar di partainya.

Di antaranya, Ketua DPC Demokrat Makassar Adi Rasyid Ali dan Ketua DPC Gerindra Makassar Eric Horas

Di luar DPRD Makassar ada Farouk M Betta (ketua Golkar), dan Andi Rachmatika Dewi (ketua Nasdem). Keduanya juga mendaftar di partainya.

Pada pilwali 2020 tidak satupun parpol bisa mengusung pasangan calon tanpa koalisi. Meski mendaftar di partainya, mereka tidak sesering cakada lainnya melakukan tatap muka dengan masyarakat selaku pemilih.

Saat ini, mereka yang disebut-sebut intens melakukan komunikasi dengan masyarakat hanya petarung lama. Di antaranya, Irman Yasin Limpo, Mohammad Ramdhan Pomanto, Syamsu Rizal MI, dan Munafri Arifuddin.

Terkait hal tersebut Pengamat Politik UIN Alauddin Makassar Syahrir Karim menilai jika para pimpinan parpol yang duduk di DPRD memilih bermain aman pasca Pileg 2019 lalu.

"Yang pasti mereka khawatir tidak terpilih. Konsekwensinya kan mereka harus mundur dari anggota legislatif. Saya kira faktor utamanya itu," kata Karim kepada Tribun, Selasa (28/1/2020).

Bahwa kemudian mereka punya modal politik dan sosial, Karim membenarkan hal tersebut. Namum ia menilai itu tidak cukup.

"Saya kira banyak pertimbangan yang membuat mereka tidak berani mengambil resiko. Mereka takut kalah. bisa jadi karena pertimbangan kerugian materi baik pada saat kontestasi caleg lalu maupun saat pilwali nantinya," katanya lagi.

Terlepas dari itu, mestinya para anggota dewan harus fokus menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat dan biar partai menjalankan fungsi rekrutmen menjaring calon-calon pemimpin potensial.

"Mungkin juha di luar partainya maupun kadernya sendiri ada memang dipersiapkan dari dulu sehingga mereka tidak maju," ujar Karim. (*)

Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp

Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur

Follow akun instagram Tribun Timur: 

Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur:

(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved