Kopi Spesialti
Kopi Seko dan Manipi Potensial Jadi Kopi Spesialti dari Sulawesi Selatan
Kopi spesialti atau speciality coffee adalah kopi dengan kualitas baik. Kualitas ini dinilai bukan berdasarkan komentar penggemar kopi tapi dinilai ol
Penulis: Muh. Hasim Arfah | Editor: Syamsul Bahri
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Balai Besar Industri Hasil Perkebunan (BBIHP) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menggelar Focus Group Discussion 'Strategi Pengembangan Kopi Spesialti Yang Berdaya Saing di Sulawesi Selatan' di Kantor BBIHP, Jl Prof Abdulrahman Basalamah, Kecamatan Pannakukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (9/12/2019).
Kopi spesialti atau speciality coffee adalah kopi dengan kualitas baik. Kualitas ini dinilai bukan berdasarkan komentar penggemar kopi tapi dinilai oleh seorang Q Grader bersertifikat.
Q Grader adalah titel yang diberikan pada orang yang telah melewati serangkaian tes dan layak menyematkan 'gelar' speciality pada suatu jenis kopi.
Hadir langsung pemateri yakni Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Balai Besar Industri Hasil Perkebunan, Abdul Rahman peneliti muda Balai Besar Industri Hasil Perkebunan, DR Asma Assa dan Dewan Pakar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember, DR Masnawi.
Selain itu, ada juga Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Sulsel, Nasaruddin; Dosen MIPA Unhas, Dr Andi Ilham La Tunra; dan Ketua Koptan Benteng Alla Kabupaten Enrekang, Ir Patola.
Abdul Rahman menjelaskan, BBIHP berkomitmen menjadi yang utama dan terdepan dalam menjawab permasalahan industri danpeningkatan daya saing terkhusus industri hasil perkebunan.
Sementara itu, layanan BBIHP yakni penelitian/perekayasaan (kakao, kopi, kelapa sawit), pengujian mutu produk kopi (senyawa volatil dan non-volatil), sertifikasi mutu produk kopi (Akreditasi KAN),
Pelatihan pengolahan pascapanen dan diversifikasi produk, konsultansi dan Inkubator bisnis
Dr Asma Assa mengungkapkan hasil penelitian Kopi Arabika Manipi Sinjai dan Seko memenuhi kriteria kopi spesialti.
Dari segi mutu fisik biji Kopi Spesialti sesuai dengan SCAA, 2009 yakni: Special grade, nilai cacat maksimal adalah 5 dalam 300 gram biji kopi dan tidak boleh mengandung cacat utama (primary defect), yaitu biji hitam, biji muda, gelondong kering, dan batu.
Kedua, Premium grade, tidak boleh mengandung nilai cacat lebih dari 8 dan boleh mengandung cacat utama.
Ketiga, Exchange grade, boleh mengandung nilai cacat 9 - 23.
Keempat, Below standard grade, yaitu boleh memiliki nilai cacat 24 - 86.
Dari hasil penelitian tim Balai Besar Industri Hasil Perkebunan untuk Kopi Arabika Manipi yakni Mutu fisik biji Kopi Arabika Manipi metode pengolahan SOP dan
pengolahan yang diterapkan petani memenuhi kriteria kopi spesialti
dengan nilai cacat 10,6- 18,9 dalam 300 gram biji kopi (exchange grade
versi SCAA, boleh mengandung nilai cacat 9 - 23).
Sementara itu, mutu fisik
Biji Kopi Arabica Seko dengan metode pengolahan SOP memenuhi kriteria kopi spesialti; nilai cacat 6,1dalam 300 gram biji kopi (exchange grade versi SCAA, boleh mengandung nilai cacat 9 - 23).
Sejarah Specialty Coffee. Asal mula pengklasifikasian Specialty Coffee di buat oleh seorang wanita bernama Erna Knutsen yang ditulis pada Tea & Coffee Trade Journal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/kopi-seko.jpg)