Penipuan Arisan Online Makassar
Korban Penipuan Arisan Online di Makassar Bertambah, Segini Jumlahnya
Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Ibrahim Tompo, mengungkapkan jika penambahan jumlah korban ini berdasarkan laporan terbaru.
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR- Jumlah korban investasi bodong dengan modus arisan online di Makassar bertambah.
Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol Ibrahim Tompo, mengungkapkan jika penambahan jumlah korban ini berdasarkan laporan terbaru.
"Ada tambahan lagi laporan hari ini sekitaran 30an orang, yang kemarin itu baru Sekitar 32 di Polda kemudian di Polresta baru kita datangkan dulu sama yang di Polsek kemarin," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (4/12/2019).
Meski total yang melapor sekarang sebanyak 62 orang, namun Kombes Ibrahim menyebut jumlahnya akan terus bertambah.
Mengingat data awal yang ditemukan melalui grup Whatsap jumlahnya melebih 100 orang.
"Itu baru perkiraan sekitar 150 itu karena kita ambil keterangan dari tersangka yang tergabung dalam wa grup jadi itu perkiraan sementara," tambahnya.
Dua Tersangka
Polisi berhasil meringkus dua terduga pelaku yang dilaporkan melakukan penipuan berkedok arisan Online di Makassar.
Kedua terduga pelaku saat ini ditahan di Polda Sulawesi Selatan, Rabu (4/12/2019).
Menurut keterangan Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo, kedua terbuka pelaku diringkus sehari sebelumnya.
"Sudah (diringkus) sekarang lagi diperiksa dan akan digelar untuk penetapan tersangkanya penangkapannya tadi malam di wilayah Makassar," ucapnya saat dikonfirmasi via telepon.
Kombes Ibrahim Tompo belum memberikan keterangan terkait identitas pelaku.
Namun satu diantaranya diketahui berinisial KL.
Penipuan Arisan Millenial
Hati-hati dalam berinvestasi.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, ratusan ibu rumah tangga tertipu investasi 'bodong' berkedok arisan.
Tidak tanggung-tanggung, kerugiannya mencapai puluhan milliar rupiah.
Seperti diungkapkan perempuan LS (33) dan ES (41). Dua sosialita Kota Makassar ini mengaku tertipu investasi berkedok arisan yang beroperasi melalui akun media sosial.
Kedua grup akun arisan itu bernama 'Arisan Sosialita Manja' yang dikelola admin bernama akun Pink Pink dan grup akun 'arisan online trusted FSG' yang dikelola admin dengan akun Wenny Wijaya.
Dari pengakuan LS dan ES, akun Pink Pink digunakan wanita berinisial KL (33) dan akun Wenny Wijaya digunakan wanita berinisial W (40).
Keduanya mengaku mengenal KL dan W dari teman-ke teman yang mengenali keduanya lebih dahulu.
Dari perkenalan itu, keduanya tergiur dengan temannya yang ikut arisan yang dikelola KL dan W.
Alasannya, dana yang ditransfer atau deposito bertambah setelah eberapa hari uang itu masuk ke rekening admin, KL dan W.
Keduanya (LS dan ES) tambah tergiur setelah sang admin, KL dan W memposting bukti transferan penambahan dana dari hasil deposito.
"Awalnya kenal dari teman ke teman, ini (KL) kan punya grup (Arisan Sosialita Manja), dia ngepost beberapa bukti transferan jadi kita tambah yakin. Sudah itu dari teman dan keluarga ngakunya saya ikut di dia (KL dan W) sudah cair berkali-kali," ujar LS yang enggan nama lengkapnya disebut.
Dari pengakuan dan bukti transferan yang disaksikan lewat postingan grup media sosial itu, LS pun tergiur dan memilih ikut bergabung.
April 2019, LS pun bergabung dan mulai mentransferkan sejumlah dana ke rekaning yang ditunjuk KL dengan harapan dana tersebut bertambah.
Hasilnya apa yang dijanjikan KL terbukti. Dana yang dideposti (dimasukan) LS bertambah dari jumlah sebelumnya setelah beberapa hari pasca transfer.
"Dari bulan empat itu cair terus tidak ada persoalan, lancar. Pas masuk 18 November sudah mulai ada masalah, ngadat tidak ada pembayaran," ujarnya.
Lanjut LS, terakhir ia mendeposit atau mentransfer dana sebesar Rp 10 juta ke rekening KL pada 12 Oktober dengan perjanjian dicairkan pada 23 Desember.
Jika tidak ada aral melintang, sesuai perjanjian dalam durasi waktu 72 hari itu, LS akan mendapatkan tambahan dana Rp 14,5 juta.
"Tapi nyatanya 25 November ini, ini (KL) sudah tidak bisa dihubungi dan akun grupnya juga sudah ditutup ini hari. Saya rugi Rp 10 juta, tapi teman-teman lain yang jumlahnya sekitar 300an member itu ada yang deposit puluhan juta hingga Rp 1 milliar kasihan," ujar LS
Terakhir 20 November, sang admin (Pink Pink) alias KL berjanji akan mengembalikan dana paran member secara bertahap. Namun lima hari setelahnya, KL menghilang entah kemana, nomor ponsel dan akunnya sudah tidak dapat dihubungi lagi.
Hal senada diungkapkan ES. Warga masale ini mengaku menyetor dana ke rekening KL dan W hingga milliaran rupiah.
"Saya sampai Rp 1 milliar lebih. Tapi kita tidak lansung, bertahap, misalnya dua klot Rp 100 juta, sudah itu Rp 50 juta, sudah itu Rp 90 juta begitu-begitu, dan itu terputar-putar. Setelah saya hitung balik dari saya nyetor dan dia (KL dan W) balikin itu masih ada selisih Rp 1,3 milliar," ungkap ES.
Lebih lanjut ES mengungkapkan, dari ratusan member kebanyakan menyetor ratusan juta hingga milliaran rupiah.
Jika diestimasi dari kerugian yang dialami 300an member yang ada, lanjut ES dan LS bisa mencapai Rp 20an milliar.
"Ada yang nyetor, Rp 400 juta Rp 700 juta, ada yang Rp 800 juta kebanyakan rata-rata ratusan, dan beberapa seperti ibu (ES) sampai milliaran. Jadi kalau ditotal ada sekitar Rp 20an milliar semuanya," ungkap LS.
Lebih lanjut, ES menceritakan operandi arisan yang dijalankan KL dan W.
"Jadi satu plot itu seharga Rp 515 ribu sudah masuk biaya adminnya, saya misalnya ambil 140 plot jadi saya setornya Rp 72 juta. Pengembaliannya itu dia janjikan satu plot dinilai Rp 575 ribu, dikalikan 140 plot yang saya invest jadi total pencariannya ke saya Rp 80,5 juta, jadi dana saya bertambah Rp 8,4 juta dari Rp 72 juta tadi," terangnya.
ES mengungkapkan, dari ratusan member kebanyakan menyetor ratusan juta hingga milliaran rupiah.
Jika diestimasi dari kerugian yang dialami 300an mber yang ada, lanjut ES dan LS bisa mencapai Rp 20an milliar.
"Ada yang nyetor, Rp 400 juta Rp 700 juta, ada yang Rp 800 juta kebanyakan rata-rata ratusan, dan beberapa seperti ibu (ES) sampai milliaran. Jadi kalau ditotal ada sekitar Rp 20an milliar semuanya," ungkap LS.
Keduanya pun mengaku telah melaporkan kasus itu ke Tim Cyber Polda Sulsel untuk melacak keberadaan KL dan W.
"Kemarin kita sudah datang di Polda di bagian Cybernya untuk melaporkan kejadian ini, dan kita juga sudah didatangi penyidiknya untuk dimintai keterangan," ujar LS dan ES.
Keduanya pun berharap agar Polda Sulsel segera melacak keberadaan KL dan W dengan harapan keduanya ditangkap untuk mempertanggunbjawabkan perbuatannya.(Tribun-timur.com).
Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, @piyann__
Follow akun instagram Tribun Timur:
Silakan Subscribe Youtube Tribun Timur: