TRIBUN WIKI
Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUNTIMURWIKI.COM- Kabupaten Wajo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan.
Jaraknya sekitar 148 km atau menempuh 6 jam perjalanan dari Kota Makassar.
Kabupaten Wajo adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Ibu kota kabupaten ini terletak di Sengkang.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.056,19 km² dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 400.000 jiwa.
Sejarah
Dilansir dari wikipedia, nama Wajo berarti bayangan atau bayang-bayang (wajo-wajo).
Kata Wajo dipergunakan sebagai identitas masyarakat sekitar 605 tahun yang lalu yang menunjukkan kawasan merdeka dan berdaulat dari kerajaan-kerajaan besar pada saat itu.
Di bawah bayang-bayang (wajo-wajo, bahasa Bugis, artinya pohon bajo) diadakan kontrak sosial antara rakyat dan pemimpin adat dan bersepakat membentuk Kerajaan Wajo.
Perjanjian itu diadakan di sebuah tempat yang bernama Tosora yang kemudian menjadi ibu kota kerajaan Wajo.
Ada versi lain tentang terbentuknya Wajo, yaitu kisah We Tadampali, seorang putri dari Kerajaan Luwu yang diasingkan karena menderita penyakit kusta.
Dia dihanyutkan hingga masuk daerah Tosora. Kawasan itu kemudian disebut Majauleng, berasal dari kata maja (jelek/sakit) oli' (kulit).
Konon kabarnya dia dijilati kerbau belang di tempat yang kemudian dikenal sebagai Sakkoli (sakke'=pulih; oli=kulit) sehingga dia sembuh.
Saat dia sembuh, beserta pengikutnya yang setia ia membangun masyarakat baru, hingga suatu saat datang seorang pangeran dari Bone (ada juga yang mengatakan Soppeng) yang beristirahat di dekat perkampungan We Tadampali.
Singkat kata mereka kemudian menikah dan menurunkan raja-raja Wajo.
Wajo adalah sebuah kerajaan yang tidak mengenal sistem to manurung sebagaimana kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada umumnya.
Tipe Kerajaan Wajo bukanlah feodal murni, tetapi kerajaan elektif atau demokrasi terbatas.
Perkembangan Kerajaan Wajo
Dalam sejarah perkembangan Kerajaan Wajo, kawasan ini mengalami masa keemasan pada zaman La Tadampare Puang Ri Maggalatung Arung Matowa, yaitu raja Wajo ke-6 pada abad ke-15.
Islam diterima sebagai agama resmi pada tahun 1610 saat Arung Matowa Lasangkuru Patau Mula Jaji Sultan Abdurrahman memerintah.
Hal itu terjadi setelah Gowa, Luwu dan Soppeng terlebih dahulu memeluk agama Islam.
Pada abad ke-16 dan 17 terjadi persaingan antara Kerajaan Makassar (Gowa Tallo) dengan Kerajaan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng) yang membentuk aliansi Tellumpoccoe untuk membendung ekspansi Gowa.
Aliansi ini kemudian pecah saat Wajo berpihak ke Gowa dengan alasan Bone dan Soppeng berpihak ke Belanda.
Saat Gowa dikalahkan oleh armada gabungan Bone, Soppeng, VOC dan Buton, Arung Matowa Wajo pada saat itu, La Tenri Lai To Sengngeng tidak ingin menandatangani Perjanjian Bungaya.
Akibatnya pertempuran dilanjutkan dengan drama pengepungan Wajo, tepatnya Benteng Tosora selama 3 bulan oleh armada gabungan Bone, di bawah pimpinan Arung Palakka.
Setelah Wajo ditaklukkan, tibalah Wajo pada titik nadirnya. Banyak orang Wajo yang merantau meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak sudi dijajah.
Hingga saat datangnya La Maddukkelleng Arung Matowa Wajo, Arung Peneki, Arung Sengkang, Sultan Pasir, dialah yang memerdekakan Wajo sehingga mendapat gelar Petta Pamaradekangngi Wajo (Tuan yang memerdekakan Wajo).
Masa Hindia Belanda
Politik pasifikasi, yang dilancarkan Belanda. memaksa semua kerajaan di Sulawesi Selatan untuk tunduk.
Dua sasaran utama Belanda, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Saat itu Kerajaan Wajo bersekutu dengan Kerajaan Bone.
Wajo mengirim pasukan yang dipimpin oleh Jenerala Cakunu dan La Mappa Daeng Jeppu untuk membantu Kerajaan Bone.
Pasukan gabungan berbagai kerajaan sekutu Bone dan Bone akhirnya kalah. Belanda kemudian berperang melawan Ranreng Tuwa.
Arung Matowa saat itu, Ishak Manggabarani dipaksa oleh Belanda untuk membayar Sebbu Kati yaitu denda perang dan menandatangani perjanjian pendek.
Isi dari Perjanjian pendek tersebut (korte veklaring) adalah tunduknya kerajaan lokal (Kerajaan Wajo) pada pemerintah Belanda.
Belanda kemudian menjadikan Wajo sebagai onderafdeling dengan ibu kota Sengkang. Saat itu, terjadi pemindahan ibu kota dari Tosora ke Sengkang.
Onderafdeling Wajo (ibu kota Sengkang) bersama onderafdeling Bone (ibu kota Watampone) dan onderafdeling Soppeng (ibu kota Watangsoppeng) dibawahi oleh afdeling Bone (ibu kota Pompanua).
Sedang afdeling Bone merupakan salah satu dari beberapa afdeling (Makassar, Gowa, Bonthain, Pare-pare, Palopo) yang dibawahi oleh Provinsi Groote Oost.
Sedang Provinsi Groote Oost dibawahi oleh pemerintah Hindia Belanda. Adapun onderafdeling Wajo, membawahi 4 distrik yaitu, Distrik Majauleng, Distrik Sabbamparu, Distrik Takkalalla, dan Distrik Pitumpanua.
Tiap Distrik membawahi Wanua.
Kontroversi
1. Versi pertama, pemegang jabatan Arung Matowa adalah Andi Mangkona Datu Soppeng sebagai Arung Matowa Wajo ke-45, setelah dia terjadi kekosongan pemegang jabatan hingga Wajo melebur ke Republik Indonesia.
2. Versi kedua hampir sama dengan yang pertama, tetapi Ranreng Bettempola sebagai legislatif mengambil alih jabatan Arung Matowa (jabatan eksekutif) hingga melebur ke Republik Indonesia.
3. Versi ketiga, setelah lowongnya jabatan Arung Matowa maka Ranreng Tuwa (H.A. Ninnong) sempat dilantik menjadi pejabat Arung Matowa dan memerintah selama 40 hari sebelum kedaulatan Wajo diserahkan kepada Gubernur Sulawesi saat itu, yaitu Bapak Ratulangi.
Geografi
Secara geografis, Kabupaten Wajo terletak pada 3°39' - 4°16' Lintang Selatan dan 119°53' - 120°27' Bujur Timur.
Sebagian besar wilayahnya berupa dataran rendah hingga dataran rendah bergelombang dengan ketinggian wilayah 0-520 Mdpl.
Hanya sebagian kecil yang berupa perbukitan di bagian utara. Bagian timur berupa dataran rendah dan pesisir Teluk Bone, termasuk pulau-pulau pasir di perairan Teluk Bone.
Sedangkan bagian barat merupakan dataran aluvial Danau Tempe-Danau Sidenreng.
Destinasi Wisata
Kabupaten Wajo memiliki sejumlah destinasi wisata yang menarik. Beberapa di antaranya, yakni:
Danau Tempe
Danau Tempe merupakan danau yang terletak di bagian Barat Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Tempe, Kecamatan Belawa, Kecamatan Tanah Sitolo, Kecamatan Maniangpajo dan Kecamatan sabbangparu, letaknya sekitar 7 km dari Kota Sengkang menuju tepi Sungai Walanae.
Danau Tempe yang luasnya sekitar 13.000 hektare ini memiliki spesies ikan air tawar yang jarang ditemui di tempat lain.
Hal ini karena danau tersebut terletak di atas lempengan benua Australia dan Asia.
Danau ini merupakansalah satu danau tektonik di Indonesia.
Bukit Kalola Wajo
Wisata Kalola berada di tengah hutan yang masuk dalam kawasan Desa Kalola, Kecamatan Maniangpajo.
Bersebelahan langsung dengan Bendungan Kalola.
Berjarak sekitar 35 Km dari Kota Sengkang, Ibu Kota Kabupaten Wajo.
Air Terjun Sumpang Puli
Kecamatan Kera, Kabupaten Wajo, Sulsel, juga punya objek wisata air terjun.
Air terjun Sumpang Puli yang terletak di Dusun Bekkae, Desa Awo, Keera.
Sekitar 70 kilometer dari Sengkang, Ibu kota Kabupaten Wajo
Minggu, (5/3/2017), tribunwajo.com bersama pemerintah setempat ke permandian alam ini.
Air terjun di tengah pengunungan Keera.
Air jatuhnya ke bebatuan yang berbentuk kolam
Dasarnya terbilang dangkal, aman untuk mandi-mandi.
Rumah Adat Atakkae
kawasan Rumah Adat Atakkae dibangun pada masa pemerintahan Bupati Wajo, Dachlan Maulana dan diresmikan pada 1995 silam.
Jaraknya sekitar 3 km dari pusat Kota Sengkang.
Ada dua kolam besar yang disediakan untuk memancing.
Saoraja Mallangga
Museum Saoraja Mallangga yang berada di Jl. Ahmad Yani, Kota Sengkang, Wajo, merupakan museum keluarga.
Museum tersebut dulunya merupakan rumah pribadi H Datuk Sangkuru.
Warisan dari ayahnya yang merupakan seorang Raja, yaitu H Datuk Makkaraka.
Saat pensiun sebagai pegawai negeri sipil dari Disdikbud, H Datuk Sangkuru memutuskan rumah pribadinya tersebut alih fungsi sebagai museum.
Rumah yang sekarang jadi museum tersebut didirikan tahun 1933.
Perkampungan Sutera Pakanna
Bagi Anda yang sedang berkunjung di Kabupaten Wajo dan ingin membeli kain sutera sekaligus melihat langsung produksinya, bisa berkunjung di Kampung Sutera.
Kampung Sutera tersebut berada di Dusun Impa-impa, Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo, sekitar 3 km dari Kota Sengkang, Ibu Kota Kabupaten Wajo.
Hampir semua warga desa berprofesi sebagai penenun dan pedagang kain sutera.
Proses penenunan benang menjadi kain sutera masih tradisional, menggunakan alat tenun bukan mesin.
Kampung sutera ini sudah menjadi destinasi wisata industri sekaligus budaya yang wajib dikunjungi para pelancong.
Masjid Darussalam Belawa
Masjid Darussalam Belawa Kabupaten Wajo menjadi pusat pelaksanaan shalat Idul Fitri di Belawa, Kabupaten Wajo. Ribuan umat Islam mengikuti rangkaian pelaksanaan shalat di Masjid tertua di Belawa ini.
Data Kabupaten:
Nama: Kabupaten Wajo
Moto: Maradeka Towajoe Adena Napopuang
Provinsi: Sulawesi Selatan
Dasar hukum: -
Tanggal peresmian: 29 Maret
Ibu kota: Sengkang
Pemerintahan
APBD
- APBD -
- DAU Rp. 592.275.827.000.-(2013)
Luas: 2.056,20 km2
Populasi:
- Total 385.109 jiwa (BPS 2010)
- Kepadatan 187,29 jiwa/km2
Demografi:
- Kode area telepon 0485
Pembagian administratif
- Kecamatan 14
- Kelurahan 176
Batas wilayah
Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:
Utara: Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kabupaten Luwu
Timur: Teluk Bone
Selatan: Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bone
Barat: Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kabupaten Soppeng
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/suasana-rumah-terapung-di-danau-tempe-kecamatan-sabbangparu-kota-sengkang.jpg)