Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Perguruan Tinggi Belajar Ekonomi Digital, Berkaca Pada Gojek

Perguruan Tinggi Belajar Ekonomi Digital, Berkaca Pada Gojek.Perkembangan ekonomi digital di Indonesia terus meningkat

Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Suryana Anas
Rilis Gojek
Politeknik Universitas Sriwijaya mengundang Gojek untuk dapat memberikan pengetahuan kepada para mahasiswanya terkait dampak Gojek bagi perekonomian di Kota Palembang. 

Perguruan Tinggi Belajar Ekonomi Digital, Berkaca Pada Gojek

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perkembangan ekonomi digital di Indonesia terus meningkat pesat. Salah satu perusahaan raksasa ekonomi digital Indonesia adalah GoJek.

Tak tanggung-tanggung, Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menunjukkan, kontribusi Gojek terhadap perekonomian Indonesia hingga 2018 mencapai Rp 44,2 triliun per tahun.

Hal ini membuat Politeknik Universitas Sriwijaya mengundang Gojek untuk dapat memberikan pengetahuan kepada para mahasiswanya terkait dampak Gojek bagi perekonomian di Kota Palembang.

 Ada Apa? Mendagri Jenderal Polisi Tito Karnavian Minta Maaf ke Mantan Jubir Jokowi Johan Budi

 Ucapan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 2019, Share di WhatsApp, Facebook, Instagram

 Jadwal Liga Inggris Pekan ke-12: Bigmatch Liverpool vs City, Dua Laga Seru Live di TVRI

Penghitungan kontribusi dari riset ini didapatkan dari selisih pendapatan mitra dan pemilik UMKM sebelum dan sesudah bergabung ke dalam Gojek.

Secara rinci, Gojek menyumbangkan Rp 16,5 triliun per tahun melalui selisih pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah menjadi mitra Go-Ride, serta Rp 8,5 triliun per tahun sebelum dan sesudah menjadi mitra Go-Car.

Sementara itu, mitra Go-Life menyumbangkan Rp 1,2 triliun per tahun. Adapun selisih omzet sebelum dan sesudah menjadi mitra UMKM GO-Food memperoleh kontribusi tertinggi di antara sektor lainnya, yaitu mencapai Rp 18 triliun.

Dengan angka-angka tersebut, kata Head Of Regional Corporate Affairs Sumatera Teuku Parvinanda, perusahaan dapat mengukur berapa jumlah kontribusi yang bisa dihasilkan dan juga lapangan pekerjaan.

“Kalau cuma lapangan pekerjaan, tapi tidak berkelanjutan kan itu bukan kontribusi. Gojek ingin membuka lapangan pekerjaan dan adanya kelanjutan penghasilan,” ujarnya dalam Seminar di Politeknik Universitas Sriwijaya.

Teuku tak asal klaim, masih berdasarkan riset LD FEB UI mencatat survei penghasilan rata-rata mitra Gojek. Hasilnya menunjukkan penghasilan mereka melebihi rata-rata upah minimum kabupaten/kota.

Riset ini juga menyebutkan bahwa mitra Gojek lebih sejahtera dan naik mobilitas ekonominya semenjak bergabung dengan Gojek. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan wawancara tatap muka yang melibatkan 6.732 respoden.

Pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan simple random sampling dengan margin of error di bawah 3,5 persen.

Pengamat Ekonomi

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Yan Sulistiyo menyebutkan bahwa ukurannya tidak hanya kepada angka tetapi juga keteraturan dan shifting ketika teknologi itu masuk ke suatu daerah.

“Contohnya itu Go-car, dulu taksi gelap dan konvensional bisa menembak harga. Sekarang harga itu ditentukan oleh aplikasi. Pola transaksinya jadi berubah,” katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved