Cadar dan Celana Cingkrang dalam Tinjauan Sosiologis

BHINEKA Tunggal Ika, berdasarkan semboyan tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa Indonesia berada dalam keragaman

Cadar dan Celana Cingkrang dalam Tinjauan Sosiologis
DOK
Bagas S Sos, Mahasiswa Magister Sosiologi Pascasarjana FISIP Unhas

Penulis: Bagas S Sos
Mahasiswa Magister Sosiologi Pascasarjana FISIP Unhas

BHINEKA Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu). Berdasarkan semboyan tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa Indonesia berada dalam keragaman, yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Tentunya keragaman ini bagian dari nikmat yang Allah berikan kepada
Indonesia, sebagaimana terjemahan firman Allah Azza wa Jalla dalam QS Al-Hujurat: 13 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Keragaman inilah yang bisa disebut sebagai pluraslisme, sebagai bagian dari masyarakat yang mengamini nilai-nilai kemajemukan, tentunya pelembagaan nilai-nilai dan norma sosial suatu entitas merupakan suatu bentuk reorganisasi sosial yang patut diberi
apresiasi. Setiap masyarakat harus bisa menempatkan posisinya sebagai individu yang berada di tengah-tengah kemajemukan. Suatu hal yang tidak bisa dihilangkan dari masyarakat yang majemuk yaitu potensi konflik yang tinggi. Namun, dengan adanya kesadaran bermasyarakat sehingga potensi konflik itu bisa diatasi.

Fenomena hijrah pada masyarakat terus mengalami perkembangan yang dinamis dan menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle) masyarakat. Kesadaran beragama masyarakat sudah mulai tumbuh, terbukti dengan berbagai peristiwa (event) yang bertemakan hijrah
seringkali dilaksanakan oleh organisasi-organisasi yang memiliki kepedulian sosial kepada masyarakat khususnya di bidang keagamaan. Misalnya saja baru-baru ini, Universitas Hasanuddin melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Mahasiswa Pecinta Mushalla (UKM LDK
MPM) mengadakan event Unhas Berhijrah yang bertemakan “Spirit Hijrah Langitkan Prestasi Demi Kemajuan Peradaban” yang diisi oleh pemateri nasional, Ustadz Muhammad Fahrurrazi Anshar B SH MA dan H Syamsari Kitta S Pt MM (Bupati Takalar dan tokoh muda cendekia Sulawesi Selatan).

Motif dari hijrah itu merupakan semangat masyarakat yang berkeinginan untuk mengubah pola perilaku ke arah yang lebih baik. Sehingga kualitas umat Islam bisa lebih baik, baik dari sisi ilmu, muamalah, maupun keimanan. Harus menjadi keyakinan bahwa dalam ajaran agama (Islam) tidak ada yang buruk. Semuanya mengajarkan kebaikan, baik pola relasi secara vertikal (hubungan kepada Allah) mapun relasi secara horizontal (hubungan kepada manusia). Efek dari ketaatan beragama yaitu munculnya social order (keteraturan sosial), sehingga penyimpangan-penyimpangan sosial dengan sendirinya akan berkurang atau bahkan hilang seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat dalam beragama.

Salah satu bentuk implementasi dari hijrah yaitu adanya pengulturan nilai-nilai agama berdasarkan ajaran Rasulullah sallallahu alaihiwasallam. Cadar dan celana cingkrang merupakan produk murni dari ajaran Islam yang terlegalisasi melalui Alquran dan Sunnah
berdasarkan pemahaman para sahabat. Simbol agama tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media penutup aurat (tubuh) akan tetapi, bagian dari pola perilaku yang mencerminkan penjagaan diri dari hal-hal yang bisa memantik penyimpangan sosial, misalnya saja
pemerkosaan, pelecehan seksual dan sebagainya.

Banyak kasus ditemukan dilapangan, salah satu penyebab terjadi pelecehan seksual atau pemerkosaan yaitu karena adanya pemantik dari perempuan yang mengeksploitasi tubunya, sehingga menyebabkan orang tertarik padanya.

Dewasa ini, isu agama pada masyarakat tidak pernah redup, selalu saja ada aspek yang selalu menjadi perdebatan diantara berbagai elemen masyarakat. Di antara isu yang berkembang saat ini yaitu dengan adanya rencana kebijakan yang kontroversi dari Menteri
Agama Fachrul Razi, terkait pelarangan penggunaan simbol agama (cadar dan celana cingkrang) terhadap Aparat Sipil Negara (ASN). Pernyataan tersebut menuai kritik dari berbagai kalangan masyarakat. Pasalnya, pelembagaan nilai-nilai religiusitas pada masyarakat bukanlah suatu penyimpangan sosial apalagi penyimpangan konstitusi. Bahkan, pelembagaan nilai-nilai religiusitas pada masyarakat bagian dari manifestasi sila pertama Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang mendapatkan jaminan hukum dari undang-
undang.

Seorang sosiolog Max Weber yang berkebangsaan Jerman mengatakan, tindakan sosial merupakan proses aktor terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan subjektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih, tindakan
tersebut mengenai semua jenis perilaku manusia, yang ditujukan kepada perilaku orang lain, yang telah lewat, yang sekarang dan yang diharapkan di waktu yang akan datang. Tindakan sosial (social action) adalah tindakan yang memiliki makna subjektif (a subjective meaning) bagi dan dari aktor pelakunya. Tindakan sosial seluruh perilaku manusia yang memiliki arti subjektif dari yang melakukannya. Baik yang terbuka maupun yang tertutup, yang diutarakan secara lahir maupun diam-diam, yang oleh pelakunya diarahkan pada tujuannya. Sehingga tindakan sosial itu bukanlah perilaku yang kebetulan tetapi yang memiliki pola dan struktur tertentu dan makna tertentu.

Lebih dalam lagi Max Weber menguraikan beberapa tipe tindakan sosial, salah satunya yaitu; Affectual Action, pada tindakan ini didominasi oleh perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual, tindakan ini sifatnya spontan dan irrasional. Social action yang dilakukan oleh Menteri Agama merupakan suatu bentuk tindakan yang destruktif terhadap fakta sosial. Menteri Agama memerankan dirinya sebagai aktor pengambil kebijakan yang subjektif tanpa melibatkan struktur sosial. Sementara struktur sosial yang ada pada masyarakat bagian dari
nilai-nilai kearifan lokal yang sudah melembaga. Nilai kearifan lokal inipun menjadi tugas bersama agar tetap eksis di masyarakat, bukan justru sebaliknya yang berusaha menghilangkan dari permukaan masyarakat.

Salah satu stigma yang berkembang di masyarakat yang harus diluruskan yaitu terkait justifikasi simbol-simbol agama yang menjeneralkan pada penyimpangan sosial (radikalisme). Suata pandangan yang perlu dikoreksi apabila simbol agama (cadar dan celana cingkrang) selalu dilabeli dengan perilaku penyimpangan dan inkonstitusional. Sekalipun ada yang ditemukan di lapangan, itu hanya kasuistik yang sifatnya individual (oknum) yang tidak paham dengan nilai-nilai Alquran dan Sunnah. Hal tersebut tidak boleh dihubungkan dengan simbol agama apalagi mengerucut pada agama tertentu (Islam). Dengan adanya justifikasi tersebut tentunya akan memberikan efek yang negatif bagi pemeluk agama Islam.

Seharusnya Menteri Agama tidak terlalu dalam mengurusi sampai ke ranah privasi ASN.

Masih banyak hal lain yang lebih urgent untuk mendapatkan perhatian, misalnya saja rilis terakhir jadwal tunggu keberangkatan haji mencapai 39 tahun, fenomena-fenomena aliran sesat, dan berbagai permasalahan lainnya.

Oleh karena itu, setiap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan harus memerhatikan berbagai elemen dan lahir dari analisis yang komprehensif pada masyarakat dan melalui filterisasi yang jernih. Sehingga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan harus memerhatikan berbagai elemen dan lahir dari analisis yang komprehensif pada masyarakat dan melalui filterisasi yang jernih. Sehingga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan tidak merugikan salah satu pihak.(*)

Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved