Citizen Analisis: Memilih Mendikbud dengan Cara Ngawur, Solusi untuk Nadiem Makarim

saya memiliki keyakinan mantan CEO Go-Jek itu mampu menyambungkan kebutuhan dunia bisnis dengan dunia pendidikan, terutama di bidang inovasi teknologi

Citizen Analisis: Memilih Mendikbud dengan Cara Ngawur, Solusi untuk Nadiem Makarim
dok.tribun
M Budi Djatmiko

Nadiem bisa membesarkan pendidikan di Indonesia juga bisa menghancurkan pendidikan di Indonesia.

Semuanya tergantung dari, satu, keyakinan yang tertanam didalam Qolbunya, isi dan pengalam hidupnya; Kedua, referensi yang ia baca dari berbagai buku dan media lainnya; Ketiga, para pembisik yang ia percaya dan meyakini bahwa hal itu adalah nilai kebenaran; Keempat, Gaya manajemen yang gunakan untuk memutuskan pada sesuatu hal.

Oleh karenanya saya mendukung Kemendikbud Milenial ini mau mendengar berbagai kalangan selama 100 hari, tetapi pengalaman membuktikan dari menteri-menteri terdahulu sulit mendapatkan masukan dari berbagai pihak, dan akhirnya gaya dan kebijakannya hanya menguntungkan pihak tertentu saja, dan bahkan tidak merubah dan memperbaiki masalah.

Maka salah mendapatkan bisikin Nadiem akan terkena jebakan Batman, bisikan yang paling berbahaya adalah dari orang-orang ingin mendapatkan pangung, misialnya mereka yang ingin jadi dirjen, direktur, staf khusus dan lain-lain, di lingkungan Kemendikbud.

Maka jangan sepenuhnya diikuti, karena sesungguhnya akan terjebak dengan cara lama. Kalau perlu Dirjen, Direktur dan Kepala L2Dikti dari Kemenristekdikti (dulu) yang dalam catatan APTISI berkinerja buruk jangan diteruskan kembali, khusunya yang paling banyak memberikan keluhan pada PTS dan mempersulit pelayanan.

Tinggalkan Cara Lama
Satu keuntungan dari datangnya Nadiem dilingkungan kementrian pendidikan dan kebudayaan adalah dia tidak pernah terkontaminasi terlebih dahulu oleh kotoran lama dan paradigma lama pendidikan kita.

Tetapi hal ini juga akan menjadi sesuatu yang merugikan jika Nadiem salah mendapatkan teman bicara. Permasalahan pendidikan kita sangat kompleks dan tidak mungkin dapat diselesaikan dalam satu periode kepemimpinan Nadiem.

Masalah pendidikan kita juga tidak bisa diselesaikan dalam dua masa periodenya Jokowi. Oleh kerenanya semua pihak harus sadar Nadiem tidak akan bisa merubah dan memperbaiki pendidikan Indonesia hanya dengan 100 hari bahkan 5 tahun masa jabatannya.

Maka perlu membuat skala prioritas hal apa saja yang akan diselesaikan masa periodenya, dan masalah apa saja yang harus juga di selesaikan secara paralel di tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi serta masalah kebudayaan juga.

Kuncunya tinggalkan cara lama jika itu membuat masalah pendidikan dan kebudayaan kita terpuruk tetapi tidak perlu malu menggunakan cara lama jika hal itu memang baik dan menguntungkan semua pihak terhadap kemajuan pendidikan dan kebudayaan Indonesia.

Halaman
1234
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved