Ini Tiga Kecamatan Prevalensi Stunting Terbesar di Enrekang
Berdasarkan riset kesehatan daerah (Riskesda) 2018 angka stunting Kabupaten Enrekang mencapai 42,7 persen.
Penulis: Muh. Asiz Albar | Editor: Ansar
TRIBUNENREKANG.COM, ENREKANG- Kabupaten Enrekang saat ini menjadi daerah dengan angka stunting tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan.
Berdasarkan riset kesehatan daerah (Riskesda) 2018 angka stunting Kabupaten Enrekang mencapai 42,7 persen.
Jumlah itu sedikit menurun dari hasil Riskesda 2013 tahun 2013 yang mencapai 53,7 persen. Risetkesda sendiri dilakukan per lima tahun sekali.
Dari jumlah tersebut, ada tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Enrekang yang menjadi daerah stunting tertinggi.
Disdukcapil Luwu Timur ke Seberangi Danau Towuti Demi Layani Warga
Penampakan Abu Rara Pelaku yang Tusuk Menko Polhukam Wiranto 2 Kali di Pandeglang, Identitasnya
Polres Luwu Utara Serahkan Penghina Alm Mbah Moen ke Kejari Masamba
Tiga kecamatan tersebut adalah Kecamatan Baraka (9 Desa dari 15) 42,9 persen, Kecamatan Buntu Batu (6 Desa dari 7) 44,26 persen dan Kecamatan Malua (2 dari 7) 35,6 persen.
Kecamatan Buntu Batu sendiri merupakan daerah tempat tinggal dari Wakil Bupati Enrekang, Asman.
Staf Kesmas Dinkes Enrekang sekaligus Pemenag Program Gizi, Kartini, mengatakan angka stunting di beberapa kecamatan memang alami penurunan sekitar 5 persen namun belum signifikan.
Sehingga diperlukan langkah yang konkret dan terorganisasi semua elemen untuk dapat mencegah permasalahan stunting ini.
"Tiga kecamatan itu memang terbesar di Enrekang angka stuntingnya, jadi memang perlu penanganan yang terkoordinasi dan menyeluruh," kata Kartini, Kamis (10/10/2019).
Sementara PLT Kepala Dinkes Enrekang, Sutrisno, mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting di Enrekang.
Seperti pola asuh, pola makan, pola pikir dan juga faktor sanitasi atau kebersihan lingkungan.
Disdukcapil Luwu Timur ke Seberangi Danau Towuti Demi Layani Warga
Penampakan Abu Rara Pelaku yang Tusuk Menko Polhukam Wiranto 2 Kali di Pandeglang, Identitasnya
Polres Luwu Utara Serahkan Penghina Alm Mbah Moen ke Kejari Masamba
Terlebih sebenarnya Enrekang memang pernah menjadi dikategorikan daerah Endemik berat Gaki (Gangguan Akibat Kekurangan Zat Iodium) tahun 1994 lau.
Hal itu terjadi bertahun-tahun, dan baru berhasil kelaur dari daerah endemik Gaki pada tahun 2006.
Dimana tiga kecamatan tersebut diatas memang merupakan daerah yang memiliki penderita Gaki terbesar kala itu.
Saat itu banyak masyarakat yang menderita penyakit gondok dan menghambat pertumbuhannya karena kekurangan zat iodium.
Sehingg tak menutup kemungkinnan hal itu jadi pemicu masih tingginya stunting di Kabupaten Enrekang.
"Jadi emang ada juga faktor topografi seperti unsur tanah dalam iodium kurang, tidak bisa penuhi tumbuh-tumbuhan, mungkin itu berentetan sampai stunting ini," ujarnya.
Meski begitu, Sutrisno tetap optimis pihaknya bisa menekan stunting dengan kerjasama yang baik semua OPD dan elemen masyarakat.
Terlebih saat ini sudah dibentuk Tim Koordinasi Penanganan Stunting Kabupaten yang melibatkan semua OPD.
Selain itu kucuran dana dari pusat tahun ini juga tergolong besar untuk penanganan stunting yakni Rp 750 juta.
"InshaAllah, kita optimis bisa menekan stunting hingga 19,5 persen tahun 2023 mendatang, di bawah standar nasional yakni 20 persen," tuturnya.
(tribunenrekang.com)
Laporan Wartawan TribunEnrekang.com, Muh Azis Albar
Langganan berita pilihan tribun-timur.com di WhatsApp
Klik > http://bit.ly/whatsapptribuntimur
Follow akun instagram Tribun Timur:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/plt-kepala-dinkes-enrekang-sutrisno-h.jpg)