Habibienomics, Perbankan Syariah

Sepanjang hayatnya, Pak Habibie telah mewakafkan diri dengan berbagai pemikiran ilmu dan tindakan.

Habibienomics, Perbankan Syariah
DOK
Nursamsu, Pegiat Perbankan Syariah

Oleh: Nursamsu
Pegiat Perbankan Syariah

Kepergian Bapak Teknokrat dan Demokrasi Indonesia, BJ Habibie, memberi duka mendalam. Tidak saja bagi keluarga yang ditinggal tapi juga bagi masyarakat yang pernah mengenalnya, baik yang sudah bertatap langsung maupun yang hanya bisa melihat sosok beliau di media.

Ketokohan seorang Habibie sepertinya tak cukup dirangkum hanya dalam satu kisah obituari atau lewat penggambaran ketiga film semi biopik Habibie-Ainun karya besutan sineas muda, Hanung Bramantyo saja. Sepanjang hayatnya, Pak Habibie telah mewakafkan diri dengan berbagai pemikiran ilmu dan tindakan. Salah satu gagasannya itu adalah mencetuskan pembentukan perbankan syariah di Indonesia.

Gagasan dalam membidani lahirnya sistem perbankan syariah pertama di Indonesia ini sebenarnya sudah bergulir sejak beliau masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi di era Pak Harto. Setelah menjadi Presiden Ke-3 RI di bulan Mei 1998, kontribusi kemajuan
perbankan syariah semakin bekembang di Indonesia ditandai dengan semakin berlombanya bank-bank konvensional untuk membuka unit usaha syariah.

Sebagai seorang cendekiawan muslim moderat yang mengenyam asam garam hidup di Eropa, Pak Habibie dihadapkan pada situasi ekonomi yang sangat sulit saat itu. Terjadinya rush money atau penarikan uang secara besar besaran di beberapa perbankan, tarik menarik kepentingan politik, serta sentiman pasar yang semakin buruk bersamaan dengan ambruknya ekonomi Asia, membuat Habibie sebagai pucuk tertinggi pemimpin negeri harus mengambil beberapa langkah kebijakan ekonomi. Salah satunya adalah dengan menggulirkan kembali penerapan sistem ekonomi perbankan berbasis syariah.

Sistem ekonomi syariah ini terbukti mampu bertahan dan keluar dari krisis tahun 1998. Mengapa demikian? Sederhananya adalah bank syariah menerapkan pola pemberian keuntungan kepada nasabah dengan mengikuti hasil kinerja dari perusahaan tersebut. Syariah
cenderung lebih bergerak di sektor riil, dengan kesepakatan pola resiko keuangan ditanggung kedua pihak secara bersama-sama. Atau dengan kata lain, bank syariah menerapkan prinsip bagi hasilnya untuk kelangsungan nasabahnya.

Risiko bisnis keuntungan dan kerugian ini dapat ditanggung oleh kedua belah pihak yang bekerjasama. Sebagai contoh: jika situasi perbankan tak menguntungkan karena naiknya rasio kredit bermasalah atau NPF sehingga menggerus pendapatan, perbankan syariah tak perlu terlalu kasak kusuk untuk menyiapkan dana cadangan seperti bank konvensional guna menutupi kredit bermasalah mereka.

Bagi hasil nasabah akan menyesuaikan dengan naik turunnya kinerja perbankan. Sejarah mencatat, beberapa penyebab krisis ekonomi di tahun 1998 antara lain dikarenakan adanya beberapa hutang luar negeri swasta yang sangat besar dengan beberapa di antaranya berjangka pendek. Adanya kelemahan dalam sistem perbankan Indonesia saat itu serta dampak iklim politik pasca reformasi yang semuanya itu mengakibatkan terjadinya perubahan iklim ekonomi.

Belajar dari pengalaman tersebut, bank konvensional mulai melirik bank syariah sebagai suatu bisnis yang harus tumbuh sebagai solusi bertahan disaat krisis serta untuk mengurangi ketergantungan terhadap inflasi.

Sementara warisan pemikiran Habibie lainnya adalah konsep mengenai ekonomi berbasis teknologi. Konsep yang di kenal dengan sebutan Habibienomics ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk, tidak hanya bermodalkan nilai unggul komparatif tapi juga berdaya juang kompetitif.

Halaman
12
Editor: syakin
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved