Ikan Buttini dan Pangkilang Terancam Punah, Ini Pesan Istri Gubernur Sulsel
Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas mengadakan pengabdian pada masyarakat di Danau Matano
Penulis: Ivan Ismar | Editor: Muh. Irham
SOROWAKO, TRIBUN-TIMUR.COM - Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas mengadakan pengabdian pada masyarakat di Danau Matano, Sorowako, Luwu Timur, Jumat (20/9).
Acara ini dihadiri Ketua PKK Provinsi Sulsel Liestiati Fachruddin. Istri Gubernur Sulsel tersebut ikut bersama dosen dan mahaiswa MSP melakukan praktik lapang.
Mahasiswa yang terlibat dalam cara ini mencapai 206 orang. Mereka terdiri dari mahasiswa angkatan 2019, 2018, dan 2017. Dosen pendamping yang ikut sebanyak 12 orang dan disertai oleh 18 asisten dosen.
Dalam sambutannya, Liestiati mengingatkan kepada masyarkat dan PT Vale untuk menjaga dengan baik kualitas perairan Danau Matano.
“Agar kelestarian biota endemik seperti Ikan Buttini, Pangkilang dapat terus lestari, mari kita jaga terus kelestarian Danau Matano ini,” kata Liestiati.
Menurutnya, ikan-ikan endemik di Danau Matano dan Towuti sebaiknya dapat dipijahkan dan selanjutnya dapat direstoking agar tidak punah.
Liestiati mengamini usaha dari salah satu dosen MSP untuk membangun Pusat Penelitian Limnologi di Danau Matano.
Pusat penelitian ini, selain dapat menjadi pusat kegiatan riset, juga dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat terkhusus dalam ilmu tentang danau atau limnologi.
Baca: Sekda Luwu Timur Bahas Nasib Danau Matano Bersama KLHK
Baca: Warga Luwu Timur Clean Up Danau Matano Sorowako
Danau Matano
Danau Matano adalah salah satu danau unik di Asia Tenggara. Danau ini memiliki kedalaman mencpai 596 meter. Bahkan ada yang mencapai 700 meter dengan luas 16.408 hektar.
Keunikan lain, Matano lebih rendah dari permukaan laut, merupakan gejala alam paling langka di dunia.
Salah satu jenis ikan khas Matano adalah purba Buttini (Glosogobius matanensis) dan opudi (Thelmaterina).
Pada masa awal, butini menjadi makanan utama penduduk. Ditangkap menggunakan jaring sederhana dan pancing di pesisir danau. Biasa dimasak dengan kuah santan atau dibakar.(*/tribun-timur.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/praktik-lapangan-terpadu-pada-kawasan1.jpg)