Penyebab BJ Habibie Copot Pangkostrad Prabowo Subianto hingga Mantu Soeharto Itu Tolak Jabatan Dubes

Penyebab BJ Habibie copot Pangkostrad Prabowo Subianto hingga mantu Soeharto itu tolak jabatan dubes

Penyebab BJ Habibie Copot Pangkostrad Prabowo Subianto hingga Mantu Soeharto Itu Tolak Jabatan Dubes
WIKIPEDIA.ORG/DOK PRIBADI/KOMPAS.COM/RADITYA HELABUMI
Prabowo Subianto dan BJ Habibie. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Penyebab BJ Habibie copot Pangkostrad Prabowo Subianto hingga mantu Soeharto itu tolak jabatan Dubes.

Mantan ajudan BJ Habibie ceritakan hubungan Prabowo Subianto dan BJ Habibie saat Prabowo Subianto dicopot dari jabatan Pangkostrad.

Presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf Habibie dikabarkan sempat bersitegang dan hubungannya dengan Prabowo Subianto renggang saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1998.

Bahkan, saat itu, tengah terjadi kerusuhan di berbagai wilayah dampak dari demontrasi besar-besar menuntut adanya reformasi.

Prabowo Subianto yang kala itu menjabat sebagai Pangkostrad dicopot dari jabatannya, sehari sebelum BJ Habibie akan dilantik menjadi presiden mengantikan Presiden ke-2 RI Soeharto atau mertua Prabowo Subianto.

Baca: Kenalkan Widya Leksmanawati Istri Thareq Kemal Habibie, Lihat Jabatannya di Lingkungan TNI

Baca: 22 Mei, Pasukan Liar Intai Rumah Presiden BJ Habibie dan Intelijen Laporkan Rencana Meracun

Di balik itu semua, Prabowo Subianto sempat bertemu dengan BJ Habibie untuk mempertanyakan pencopotanya itu.

Bahkan ketegangan antara kedua tokoh ini sempat dikisahkan dalam sebuah buku 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’, yang terbit pada 2009 dan ditulis Letjen (Purn) Sintong Hamonangan Panjaitan.

Baca: Hoaks BJ Habibie Donorkan Mata untuk Thareq Kemal Habibie, Ilham Akbar Habibie Ungkap Faktanya

Baca: Terungkap Penyakit Thareq Kemal Habibie hingga Pakai Penutup Mata, Juga Penyebab Penyakit Itu

Dalam buku itu, Sintong menjabat sebagai Penasihat Presiden Bidang Pertahanan dan Keamanan.

Tertulis pemicu pencopotan Prabowo Subianto sebagai Pangkostrad karena BJ Habibie menerima laporan adanya pergerakan pasukan Kostrad dari daerah menuju Jakarta tanpa sepengetahuan Panglima ABRI (TNI) Jenderal Wiranto pada 22 Mei 1998.

Laporan yang diterima BJ Habibie pun dianggap benar, selanjutnya BJ Habibie berkonsultasi dengan para pejabat tinggi di TNI.

Halaman
1234
Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved