Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

VIDEO : Padi Gagal Panen di Maros Baru, Kadis Pertanian : Gegara Anomali Cuaca

Seperti lahan pertanian di Lingkungan Data, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Maros Baru, Maros.

Penulis: Amiruddin | Editor: Sudirman

TRIBUN-MAROS.COM, MAROS BARU - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Maros, Muh Nurdin, meninjau sejumlah lahan pertanian yang mengalami kekeringan di Maros, Selasa (27/8/2019).

Seperti lahan pertanian di Lingkungan Data, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Maros Baru, Maros.

Di wilayah tersebut, hamparan sawah petani setempat terlihat mengering.

Warga setempat mengaku, sejak dua bulan terakhir hujan tidak mengguyur.

VIDEO: Kurang 24 Jam, Tim Ghost Dermaga Ringkus Curanmor

Lawan PSM, Pelatih Persija: Persiapan Tidak Berjalan Sempurna

190 Polisi Bakal Jaga Pelantikan Anggota DPRD Mamasa

Nurdin mengatakan, kekeringan di sejumlah lahan pertanian di Maros, gegara adanya anomali cuaca.

"Petani kita masih mempercayai kearifan lokal, jika bulan seperti ini masih ada hujan. Tetapi faktanya dua bulan terakhir tidak ada hujan, gegara anomali cuaca," kata Nurdin, kepada tribun-maros.com.

Nurdin menambahkan, pihaknya juga telah menyampaikan ke petani terkait musim tanam yang tepat.

Misalnya, setelah musim tanam padi, dilanjutkan dengan palawija.

"Kami juga telah mencoba membantu petani dengan pompanisasi. Tetapi ada beberapa titik yang airnya sudah asin," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Harapan Tani, Muh Kasim, mengatakan kekeringan di wilayahnya terjadi setiap tahun.

"Tetapi tahun ini paling parah, karena waktunya lebih lama," katanya.

Kasim menambahkan, akibat kemarau, puluhan hektare padi petani pun gagal panen.

Petani setempat mengaku terancam merugi, bahkan hingga jutaan rupiah.

TRIBUNWIKI: Bojan Malisic Didepak dari Persib, Ini Profilnya

HEBOH! DJ Seksi Bebby Fey Ngaku Bersetubuh dengan Youtuber Muda di Hotel, Geby Vesta Sebut Nama Atta

Bupati Takalar Bungkam Soal Layanan KTP yang Nonaktif

Apalagi, setiap musim tanam, petani harus mengeluarkan biaya hand traktor, pupuk, racun, pemeliharaan, dan biaya lainnya.

"Sudah pasti rugi pak. Padi juga sebagian besar tak bisa lagi dipanen," tuturnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved