Tondokbakaru Mamasa Diresmikan Jadi Desa Sadar Wisata, Dananya Diswadaya Masyarakat
Sejak beberapa bulan yang lalu, masyarakat di desa ini memadukan anggrek dan pemandangan sawah menjadi objek wisata.
Penulis: Semuel Mesakaraeng | Editor: Syamsul Bahri
TRIBUNMAMASA.COM, MAMASA - Desa Tondokbakaru, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat resmi menjadi desa sadar wisata.
Desa Tondokbakaru berjkarak kurang lebih 1 kilometer dari Kota Mamasa.
Personel Polres Tana Toraja Diperintahkan Budayakan Hidup Bersih
Tak Ada Ganti Rugi Lahan, Warga Desa Sapobonto Bulukumba Tolak Pelebaran Jalan
Ramalan Zodiak Besok, Selasa 27 Agustus: Tekanan Kerja Scorpio Meningkat, Gemini Mempesona
SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Jokowi: Ibu Kota Baru di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara
Pemkab Sinjai Latih Nelayan Ikuti Standar Nasional Pelayaran
Sejak beberapa bulan yang lalu, masyarakat di desa ini memadukan anggrek dan pemandangan sawah menjadi objek wisata.
Berbagai kreativitas dilakukan warga untuk menarik perhatian pengunjung.
Di desa ini, warga berlomba-lomba membuat selegrambel sebagai spot selfie.
Kegiatan itu dilakukan secara swadaya, untuk menuju desa sadar wisata.
Sejak dibuk, desa ini menjadi ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun domestik.
Tidak hanya potensi wisata alam dan anggrek yang menjadi daya tarik pengunjung.
Bahkan di desa yang dipimpin Matheus Daniel Dessartu ini, juga terdapat beberapa sanggar seni yang masih melestarikan kesenian budaya Mamasa.
Sejak warga di desa berkreasi menjadikan desanya sebagai desa tujuan wisata, warga belum mendapat bantuan dari pemerintah untuk pengembangannya.
Kepala Desa Tondokbakaru, Matheus Daniel Dessaratu mengatakan, cikal baka desa ini mejadi sebuah desa sadar wisata, yakni sesuai dengan visi dan misi pemerintah desa.

Visi dan misi desa Tondokbakaru bakaru, kata doa dicetuskan pada tahun 2012, yakni desa mandiri di bidang pertanian berbasis agrowisata, dengan tidak menghilangkan kearifan lokal.
Dari visi dan misi itu, dijabarkan oleh masyarakat di desa dengan berbagai kegiatan menciptakan kepariwisataan, yang berbasis swadaya.
Hingga pada peresmian yang dilakukan oleh masyarakat dengan menghadirkan Wakil Bupati, pun dilakukan dengan cara swadaya.
Ketua Panitia penyelenggara, Petrus Arie mengakatan, dana yang digunakan dalam peresmian tersebut bersumber dari swadaya masyarakat. (*)