RILIS

Ekonom Unisba: Riset Bappenas Bukti Program Pertanian Berkontribusi Paling Besar Membangun Negara

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( Bappenas ) telah merilis hasil riset tentang

Ekonom Unisba: Riset Bappenas Bukti Program Pertanian Berkontribusi Paling Besar Membangun Negara
DOK KEMENTAN RI
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba, Rabiatul Adwiyah 

TRIBUN-TIMUR.COM - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( Bappenas ) telah merilis hasil riset tentang efektivitas belanja kementerian dan lembaga pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi.

Hasil riset menyimpulkan Kementerian Pertanian ( Kementan ) sebagai salah satu instansi yang efektif memanfaatkan anggaran belanjanya dan berdampak paling tinggi dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

Tentang hal ini, ekonom dari Universitas Islam Bandung ( Unisba ) yang mengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Rabiatul Adwiyah mengungkapkan dalam riset Bappenas yang dimaksud, belanja barang Kementan yang dipimpin Andi Amran Sulaiman berupa alat mesin pertanian lebih besar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi di pedesaan atau masyarakat ketimbang belanja barang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupa belanja pengadaan kapal, yang dipimpin Susi Pudjiastuti.

Setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, maka mendorong 0,33 persen peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah.

Sementara dengan setiap peningkatan 1 persen belanja pengadaan kapal, hanya dapat mendorong 0,33 persen terhadap peningkatan subsektor perikanan di daerah.

“Torehan ini tentu sangat signifikan dengan program terobosan dan implementasinya di lapangan, karena Mentan Amran Sulaiman sangat serius mengembalikan kejayaan pertanian Indonesia. Faktanya pertanian Indonesia saat ini menjadi modern. Alat mesin pertanian modern tidak hanya di Jawa atau sentra produksi, tapi sudah sampai ke lahan pertanian yang ada di pelosok atau perbatasan,” demikian dijelaskan Rabiatul di Bandung, Jawa Barat, Rabu (21/8/2019), sebagaimana siaran pers Kementan, hari ini.

Baca: Pengamat dan DJN: Kualitas Jagung Lokal Lebih Bagus, Harga Bagus, Diminati Peternak, Tak Perlu Impor

Menurut Sekretaris Pusat Hak Kekayaan Intelektual dan Inovasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unisba ini, selain dari program terobosan dan fakta di lapangan, hasil riset Bappenas pun sangat selaras dengan capaian pembangunan pertanian dalam mengangkat kinerja makro perekonomian.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba, Rabiatul Adwiyah
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisba, Rabiatul Adwiyah (DOK KEMENTAN RI)

Misalnya, dengan menganalisa data yang dihasilkan BPS, ekspor komoditas pertanian tahun 2013 hanya 33 juta ton, namun di tahun 2018 melonjak tajam menjadi 42,5 juta ton sehingga ada kenaikan 9 juta ton dan rata-rata kenaikan ekspor per tahunnya 2,4 juta ton.

Pada tahun 2019, di pelbagai pemberitaan menyebutkan Mentan Amran menargetkan kenaikan ekspor sebanyak 45 juta ton.

"Saya kira target ini optimis bisa dicapai karena semua infrastruktur dan kebutuhan petani lainnya sudah terbangun di era pemerintahan Jokowi-JK. Tidak lagi baru tahap membangun atau menyediakan apa yang dibutuhkan petani. Buktinya Pak Jokowi menyaksikan sendiri pertanian di kabupaten Sumatera Utara sudah menggunakan alat mesin pertanian modern," katanya menerangkan.

Baca: Menguntungkan, Kementan Dukung Petani Nganjuk Tanam Kedelai Sebelum Bawang Merah

Halaman
12
Editor: Edi Sumardi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved