Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Punya Potensi Besar, Bank Indonesia Ajak Pesantren Mandiri Ekonomi

Sejak 2014 lalu, Bank Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk membantu pesantren yang jumlahnya

Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Imam Wahyudi
fahrizal/tribun-timur.com
Seminar dalam rangka Pekan Ekonomi Syariah 2019 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Kamis (15/8/2019) lalu. BI mengajak pesantren untuk dapat mandiri secara ekonomi. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pondok pesantren di Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mandiri secara ekonomi. Potensi inilah yang disadari Bank Indonesia (BI), yang membuat mereka terus mendorong pesantren mengembangkan ekonominya sendiri.

Sejak 2014 lalu, Bank Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk membantu pesantren yang jumlahnya sekitar 30 ribuan, membangun ekonomi mandiri.

Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Yono Haryono mengatakan, BI melihat pesantren sebagai sebuah kekuatan umat yang luar biasa, tetapi sebagian besar secara ekonomi mereka belum mandiri.

"Sehingga kita lihat bahwa harus dilakukan upaya untuk menjadikan pesantren-pesantren itu mandiri secara ekonomi. Semua pesantren kan swasta, sehingga tak dapat dana bantuan. Beda kalau negeri kan dapat dari pemerintah," kata Yono di Makassar, saat menghadiri Pekan Ekonomi Syariah 2019.

Menurut Yono, pesantren harus didorong untuk memiliki unit usaha agar mampu memenuhi kebutuhan sendiri.

"Banyak memang di kota besar yang operasionalnya dari SPP atau biaya masuk yang cukup tinggi, tapi itu kan terbatas yang seperti itu, tak semua pesntren bisa," imbuhnya.

Sejak 2016, kata Yono, BI telah mengeluarkan roadmap pengambangan kemandirian ekonomi pesantren, dengan mengeluarkan lima program strategis.

Pertama, BI mencoba meningkatkan governance pesantren dengan membuat pedoman akuntansi pesantren.

"Sekarang banyak pihak yang mau membantu keuangan pesantren, dan mereka mau ada pertanggungjawaban. Nah Kita sedikan pedoman akuntansinya, tahun ini kita siapkan aplikasi yang namanya Standar Akuntansi Pesantren Indonesia (Santri)," ungkapnya.

"Ini sedang proses sosialisasi ke Indonesia sehingga masalah catatan keuangan yang tadinya tak jelas mana harta pesantren dan kyai, dan lain-lain nantinya akan jelas," sambung Yono.

Lanjut Yono, program kedua untuk pengembangan usaha, sekitar 250-an pesantren di seluruh Indonesia telah membentuk mitra dengan BI.

BI mencoba menggali potensi yang bisa dikembangkan di pesantren, membantu pasar yang bisa untuk komoditas dari pesantren, dan mendampingi pesantren yang punya keahlian di bidang itu.

"Kita juga ciptakan market place bagi pesantren, dibuat visual market yang sudah dilaunching pekan lalu. Hrapannya kebutuhan pesantren bisa dipenuhi," tuturnya.

Ia mencontohkan, pesantren di Makassar misalnya yang mampu memproduksi beras berlimpah, sementara di daerah lain ada pesantren butuh beras, mereka bisa saling memenuhi.

"Lebih efektif kan jadinya. Itu kita sediakan dalam bentuk financial teknologi matketplace," ucap dia.

"Terakhir kita kaji juga, kita sedang membut model holding pesantren. Ini memang masih kajian, kita bekerja sama salah satu perguruan tinggu di Jawa. Kita kaji mana model yang paling cocok untuk holding pesantren," sambungnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved