TRIBUNWIKI
TRIBUNWIKI: Laskar Lipan Bajeng, Kelompok Pejuang Era Penjajahan
Bendara Merah Putih dikibarkan bersama bendara Jole-jolea, yang menyimbolkan perlawanan kepada peperangan.
Penulis: Ari Maryadi | Editor: Sudirman
Pidris menceritakan, masyarakat Bajeng memiliki semangat perjuanganan. Mereka menolak tunduk kepada penjajah.
Menurut Pidris, spirit perjuangan itu diawali ketika kelompok Muhammadiyah masuk ke Bajeng pada tahun 1930.
Tiga pemuda kemudian menggagas membentuk kelompok perjuangan.
Namanya "Pemuda Muhammadiyah Bajeng". Kelompok ini bergerak apabila Belanda mencoba masuk ke Bajeng.
Satu dari tiga pemuda yang mengagas organisasi ini adalah Muhammad Zain Daeng Beta yang tak lain adalah ayah kandung Pidris (1909-1997).
Kemudian, pada tahun 1936, Daeng Beta mengusulkan perubahan nama menjadi "Gerakan Muda Bajeng."
Organisasi ini bergerak masih dalam pemberontakan kepada penjajah Belanda.
"Jadi peran organisasi ini menghadang dan bergerilya dengan Belanda, melalui operasi senyap," kisah Pidris.
Pada tahun 1938, jumlah anggota kelompok ini kian bertambah yang ditandai bergabungnya pemuda Takalar dan Bantaeng.
Menurutnya, ada puluhan pemuda ketika itu yang dipimpin oleh tujuh pemuda. Kelompok ini kemudian berubah nama menjadi "Laskar Lipan Bajeng".
"Jadi laskar ini melakukan perlawan kepada Belanda sampai masuk Jepang, atau pada tahun 1938 hingga 1942," bebernya.
Hingga akhirnya, ketika Jepang menyerah kepada sekutu, masyarakat Tu Bajeng memprakarsai peperangan.
Laskar Lipan Bajeng bersiap siaga apabila Belanda mencoba masuk kembali ke Bajeng.
Laskar Lipan Bajeng ini hanya memakai peralatan perang tradisional, yakni Badik, tombak, dan parang.
Sejumlah pemuda juga disebutkan memiliki beberapa senjata api hasil rampasan dari tentara Belanda ketika itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pengibaran-bendera-jole-jolea-simbol-peperangan-dalam-peringatan-hut-ke-74-gaukang-tu-bajeng.jpg)