Sektor Pertanian Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi

Pada periode 2012-2018, pertumbuhan ekonomi nasional (PDB nasional atas dasar harga konstan 2010) cenderung mengalami penurunan dari 5,56 % ke 5,17%

Sektor Pertanian Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi
Humas Kementan
Sektor Pertanian Pengungkit Pertumbuhan 

Ada beberapa komoditas pertanian yang impornya mengalami penurunan. Seperti beras umum, jagung pakan ternak, bawang merah, dan cabai segar turun hingga 100 persen dari 2014 hingga 2018.

Akan hal ini, Ketua Umum KTNA Nasinal, Winarno Tohir menilai peningkatan ekspor produk pertanian Indonesia sukses besar dalam menekan angka impor. Dulu, katanya, Indonesia pernah melakukan impor untuk bawang merah, bahkan sekarang bisa membalikkan keadaan dengan peningkatan ekspor di tahun 2018 dan 201.

Winarno menyebut berbagai kebijakan dan program yang Amran lahirkan selama ini, sangat dirasakan manfaatnya oleh petani seluruh Indonesia. Kita perhatikan sekarang ekspor pertanian tumbuh begitu pesat, hampir setiap hari berita ekspor produk pertanian muncul. Selain itu investasi dan kemudahan perijinan juga menjadi kebijakan Menteri Amran, sehingga memudahkan para eksportir melakukan kegiatannya.

Kinerja sektor pertanian yang menarik juga diperhatikan yakni mampu menurunkan inflasi bahan makanan atau pangan dari tahun ke tahun. Lihat saja, jika pada 2014 laju inflasi bahan makanan mencapai 10,57%, pada 2015 turun drastis di angka 4,93%. Di 2016 naik tipis di angka 5,69%, tapi di 2017 menukik di angka 1,26%. Penurunan laju inflasi bahan makanan pada periode 2014-2017 ini merupakan pertama dalam sejarah pembangunan pertanian di Indonesia.

Dari sisi nilai investasi pertanian juga mengalami peningkatan. Pada 2013 nilai investasi pertanian tercatat Rp29,3 triliun. Angka ini meningkat pada 2014 yang mencapai Rp44,8 triliun, 2015 (Rp43,1 triliun), 2016 (45,4 triliun), 2017 (45,9 triliun), dan 2018 melejit di angka Rp61,6 triliun. Jika diakumulasikan nilai investasi pertanian sejak 2013-2018 mencapai Rp241 triliun atau meningkat sekitar 110,2%.

Neraca Perdagangan Sektor Pertanian

Secara umum sektor pertanian (meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan) dapat mempertahankan surplus neraca perdagangan pada periode 2012- 2018 meskipun cenderung turun nilainya. Laju rata-rata pertumbuhan volume ekspor pada periode tersebut mencapai 6,3%, sedikit lebih tinggi dari laju volume impornya, yakni 5,9%.

Surplus di sektor ini terutama disumbang oleh subsektor perkebunan yang nilainya mencapai US$ 22,7 juta pada tahun 2018. Di sisi lain, pada kurun waktu 2012-2018 pun terjadi tren kenaikan PDB tanaman pangan dari Rp 263 Triliun menjadi Rp 298,2 Triliun.

Misalnya untuk padi sebagai komoditi tanaman pangan utama, produksinya meningkat dari 69 juta ton pada 2012 menjadi 81 juta ton pada 2018 atau tumbuh rata-rata 3%/ tahun. Ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi kenaikan produksi nasional namun kenaikan permintaan/ kebutuhan pangan jauh lebih tinggi lagi.

Kenaikan permintaan pangan ini sejalan dengan bonus demografi berupa meningkatnya populasi usia produktif yang diprediksi akan terus terjadi hingga tahun 2036. Sementara itu, upaya peningkatan produksi pangan terhambat dengan tren konversi lahan pertanian yang terus terjadi.

Halaman
1234
Editor: Rasni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved