Pembunuh Taruna ATKP Makassar Dituntut 10 Tahun, Ibu Korban: Nyawa Dibayar Nyawa

Tuntutan kurungan 10 tahun penjara ini, dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Thabrani, pada sidang di Pengadilan Negeri Makassar, Rabu (31/7/2019) sore

Pembunuh Taruna ATKP Makassar Dituntut 10 Tahun, Ibu Korban: Nyawa Dibayar Nyawa
darul/tribun-timur.com
Mariati, ibunda taruna ATKP Makassar, Aldama Putra Pongkala, memberi keterangan usai mengikuti sidang tuntutan pembunuh anaknya di PN Makassar, Rabu (31/7/19). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Muh Rusdi (21), terdakwa pembunuh rekannya sesama taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Aldama Putra Pongkala, dituntut 10 tahun penjara.

Tuntutan kurungan 10 tahun penjara ini, dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Thabrani, pada sidang di Pengadilan Negeri Makassar, Rabu (31/7/2019) sore.

Baca: JPU Tunda Bacakan Tuntutan Pembunuh Taruna ATKP Aldama Putra Pongkala

Baca: JPU Tunda Bacakan Tuntutan Pembunuh Taruna ATKP Aldama Putra Pongkala

Baca: Hadir di Pengadilan, Orang Tua Alm Aldama Minta Pelaku Dijatuhi Hukuman Seberat-beratnya

Ibunda Aldama, Mariati, kecewa mendengar tuntutan itu.

"Saya sangat keberatan. Kalau ada hukum nyawa dibayar nyawa, itu yang saya tuntut," ungkap Mariati usai mengikuti persidangan.

Kata Mariati, Aldama adalah putra satu-satunya.

Dan dia harus menelan pilu menerima kenyataan anak semata wayangnya itu telah tiada.

"Dia (Aldama) adalah anak semata wayang saya, anak kebanggaan saya. Anak yang diharap-harapkan oleh saya," jelas Mariati, dengan mata sembab.

Dalam amar putusan yang dibacakan oleh Tabrani, terdakwa yang merupakan senior korban di ATKP terbukti telah melakukan tindakan menghilangkan nyawa.

Perbuatan terdakwa tersebut memenuhi dakwaan primair pasal 338 KUHPidana dan menyatakan taruna tingkat dua tersebut bersalah.

Jaksa menuntut terdakwa sepuluh tahun penjara, karena berdasarkan hasil otopsi, korban mengalami kegagalan napas.

Kegagalan pernapasan itu menyebabkan kerusakan organ paru-paru akut hingga korban meninggal.

"Oleh karena itu, dengan hasil pemeriksaan tersebut (otopsi) sesuai dengan dakwaan primer pada pasal 338 KUHP itu telah terbukti," ungkap Tabrani.

Aldama Putra Pangkola (19) meregang nyawanya setelah dianiaya Rusdi pada Februari 2019. Kejadian di lingkungan Kampus ATKP, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Pengakuan Rusdi, dia menganiaya Aldama karena mengendarai motor dalam kampus dan tidak menggunakan helm. (*)

Laporan Wartawan Tribun Timur, Darul Amri Lobubun

Penulis: Darul Amri Lobubun
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved