OPINI
Deddy Corbuzier dan Islam Rahmatan Lil `Alamin
Islam hadir sebagai agama yang menyejahterakan dan menyejukkan umat manusia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta pengelolaan alam
Oleh: Zulkifli Yunus
Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddin Makassar
Sudah dua pekan ini pemberitaan terkait Dedy Corbuzer masih viral di media sosial semenjak dia memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelumnya dia telah melalui proses pengenalan Islam selama kurang lebih delapan bulan di bawah bimbingan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah).
Kemantapan hati eks megician tersebut menerima hidayah Allah tidak lepas dari peran Gus Miftah dalam menyampaikan risalah Islam kepadanya. Beliau berhasil mengenalkan Islam Rahmatan lil ‘Alamain (rahmat bagi seluruh alam) yang mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan dengan wajah yang lembut, ramah dan menyenangkan melalui pendekatan rasional.
Islam Rahmatan lil ‘Alamin sebagai prinsip ajaran Islam merupakan intisari dan nyawa yang memotori setiap ajaran dan gerak Islam dalam kehidupan manusia. Secara legalitas konsep ini didasari oleh ayat al-Qur’an “dan tiadalah kami mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi seluruh alam” (al-Anbiya:107).
Gagasan Islam Rahmatan lil ‘Alamin yang kini aktif disyiarkan sebagian besar dai di bumi pertiwi ini dapat dipahami melalui pendekatan leksikal. Islam secara etimologi berasal dari bahasa Arab salama atau salima yang bermakna damai, keamanan, kenyamanan dan perlindungan.
Menurut Muhammad Thahir-ul-Qadri, sebagai agama, Islam adalah manifestasi damai itu sendiri. Dia mendorong manusia untuk menciptakan hidup proporsional, damai, penuh kebaikan, keseimbangan, toleransi, sabar dan menahan amarah. Al Qadri adalah profesor dan pendiri Minhaj ul Qur'an International Worldwide dan Minhaj Welfare Foundation. Ia telah mengarang lebih dari 450 karya ilmiah.
Pengertian Islam seperti itu banyak diilustrasikan oleh hadis-hadis Nabi Muhammad saw, di antaranya adalah “seorang muslim itu adalah orang yang manusia lainnya selamat dari lisan dan tangannya dan orang mukmin itu adalah orang yang manusia lainnya aman darah dan harta mereka darinya (HR. Al-Nasai).
Dengan demikian, Islam adalah agama yang memastikan hadirnya kenyamanan, kedamaian dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Status muslim seseorang dapat diakui berdasarkan implementasi nila-nilai luhur Islam tersebut dalam hidup bersosial.
Sedangkan istilah rahmatan lil ‘Alamin diambil dari surah al-Anbiya ayat 107. Secara bahasa, dapat dipahamai sebagai kelembutan atau kasih sayang terhadap seluruh elemen alam baik itu manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan maupun benda mati.
Menurut para ahli tafsir termasuk al-Thabari bahwa bentuk rahmat dalam ayat tersebut adalah diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai representasi hidup Islam bukan hanya untuk umat Islam semata melainkan juga untuk non-Islam.
Rahmat bagi kaum mukmin adalah Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah saw serta memasukkan keimanan ke dalam dirinya sehingga mengantarkannya menuju surga dengan amal yang Allah perintahkan.
Sedangkan bagi kaum kafir, rahmat bagi mereka berupa penundaan siksa sampai hari kiamat, berbeda dengan yang berlaku kepada umat-umat yang mendustakan rasul-rasul sebelumnya.
Berdasarkan pengertian ini, dapat ditegaskan bahwa Islam Rahmatan lil ‘Alamin mengusung misi pemeliharaan hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal terhadap manusia serta makhluk lainnya.
Islam hadir sebagai agama yang menyejahterakan dan menyejukkan umat manusia dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta pengelolaan alam yang baik dan tepat berdasarkan rasa kasih sayang.
Dalam tataran praktis, terwujudnya konsep ini tidak dapat dipisahkan dengan karakter Islam yang tawassuth, tawazun, tasamuh dan i’tidal. Tawassuth atau moderat adalah berada di tengah, tidak terjebak pada titik-titik ekstrim, tidak cenderung ke kiri atau cenderung ke kanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/zulkifli-yunus.jpg)