Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Afiq Naufal, Sastrawan Muda yang Bercita-cita Jadi Insinyur Penerbang

M Afiq Naufal (16), penulis kumpulan puisi ‘Hikayat Angin’ berkunjung ke kantor Tribun Timur, Jl Cendrawasih no 430, Kota Makassar

Tayang:
Penulis: Nur Fajriani R | Editor: Ilham Mulyawan Indra
Tribun Timur/Diwan
M Afiq Naufal 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – M Afiq Naufal (16), penulis kumpulan puisi ‘Hikayat Angin’ berkunjung ke kantor Tribun Timur, Jl Cendrawasih no 430, Kota Makassar bersama koleganya Safran, Jumat (21/6/2019). 

Pria asal Parepare itu menceritakan proses yang ia lakukan hingga terciptalah buku Hikayat Cinta berisi 100 puisi karyanya. Seluruh puisi itu ia tuntaskan hanya dalam waktu satu tahun.

Ia mengaku gemar menulis sejak menempuh pendidikan di SMP Insan Cendekia Mandani,Tangerang. “Sedangkan orang tua saya di Parepare. Disitulah saya mulai rutin menulis surat,” katanya.

Terbiasa menulis membuatnya kian terasah dalam merangkai kata-kata. Kemudian dituangkannya dalam bentuk karya sastra puisi. “Kalau sudah menulis puisi, perasaan saya lega,” ujarnya tersenyum.

Tak ingin karyanya hanya sebatas berada di meja tulis, ia mencoba mengirimnya ke salah satu perusahaan media cetak di Kota Bandung tahun 2014. Ternyata karyanya lolos kurasi. Tak sedikit teman-teman sebayanya kaget, karya sastra seorang siswa kelas 2 SMP bisa diterbitkan di koran.

Tak puas sampai situ saja, Afiq lalu mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba menulis puisi yang diadakan Jejak Publisher, sebuah website khusus memuat karya tulis.  “Saya berhasil masuk 100 besar dari ribuan pendaftar kala itu,” katanya.

Delapan bulan kemudian, lagi-lagi ia ikuti lomba tersebut. Hasilnya, karyanya mengantar Afiq tampil juara 6, mengalahkan ribuan peserta.
Berawal dari sinilah keinginannya membuat sebuah antologi atau kumpulan puisi muncul.

Di bangku kelas tiga SMP, ia pun berhasil merampungkan 100 karyanya dan diterbitkan dalam kumpulan puisi berjudul “Hikayat Angin”.
Namun, sukses berkarya sebagai sastrawan, bukan berarti ia akan mengambil jurusan sastra di bangku kuliah.

“Sekarang saya sudah SMA kelas dua. Sekolah sudah menawarkan saya beasiswa di Rusia, rencananya saya mau ambil jurusan Teknik Penerbangan,” katanya.
Tapi ia berjanji, kegemarannya menulis tak akan hilang walaupun program studi nya nanti jauh dari ilmu sastra.

“Setinggi-tingganya kita berilmu kalau tidak menulis bakal dilupakan sejarah,” sebut Afiq. 

Kini dia sedang merampungkan karya keduanya yaitu antologi puisi berjudul “Mencintaimu dari Langit”. Rencananya selesai tahun 2020.
Antologi puisi “Hikayat Angin” bisa didapatkan dibeberapa toko buku dan di toko online, seperti Bukalapak dan Tokopedia mulai Rp 35 ribu. (Nur Fajriani)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved