Malam ke-27 Ramadhan, Lailatul Qadar Turun pada Malam Ini? Berikut Tanda-tanda dan Doa Dibaca

Malam ke-27 Ramadhan, Lailatul Qadar turun pada malam ini, Jumat-Sabtu (31/5-1/6/2019)? Jika Lailatul Qadar turun pada malam ini, apa Doa dibaca?

Malam ke-27 Ramadhan, Lailatul Qadar Turun pada Malam Ini? Berikut Tanda-tanda dan Doa Dibaca
MUSLIM.OR.ID
Lailatul Qadar 

“..Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR Muslim nomor 762)

3. Udara dan angin di malam itu pun tenang.

Salah satu tanda malam Lailatul Qadar adalah udara atau angin di malam tersebut menjadi tenang.

Udara juga tidak terlalu dingin atau pun terlalu panas.

Seperti yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin,..” (HR Ibnu Huzaimah)

4. Tafsir mimpi.

Selain tanda-tanda di atas, seorang mukmin akan diperlihatkan Lailatul Qadar melalui mimpi selama 7 hari terakhir bulan Ramadhan.

Hal ini seperti saba Rasulullah SAW berikut ini.

“Aku tahu bahwa kalian melihat lailatul qadar pada tujuh hari terakhir Ramadhan. Siapa yang sungguh-sungguh dalam mencarinya, maka carilah di tujuh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR Bukhari-Muslim)

5. Ibadah terasa lebih tenang

Ketika melakukan ibadah di malam tersebut, seorang muslim akan merasa lebih diliputi ketenangan.

Hal ini dikarenakan, pada malam tersebut, malaikat akan turun ke bumi bersamaan dengan banyaknya berkah dan rahmat yang juga dilimpahkan ke bumi.

Allah Ta’ala berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril,” (QS. Al-Qadar: 4)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya berkah yang ada pada malam tersebut. Dan Malaikat akan turun bersamaan dengan turunnya berkah dan rahmat sebagaimana turunnya mereka di tengah-tengah orang yang membaca al-Qur’an serta mengelilingi majlis-majlis zikir.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/445)

Meski tanda-tanda tersebut tidak bisa menjadi patokan bagi setiap manusia, tapi Allah memperlihatkannya secara langsung bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

Untuk itu, setiap muslim yang taat dianjurkan untuk mencari tanda-tanda tersebut.

Terutama dilakukan ketika 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan.

Terkadang seseorang baru merasakan kehadiran tanda-tanda Lailatul Qadar ketika malam tersebut telah berlalu.

Agar tidak menyesal kemudian hari, perbanyak ibadah untuk bisa mendapatkan keistimewaan malam Lailatul Qadar yangtidak bisa didapatkan oleh setiap manusia.

Hanya mereka yang beruntung dan dikehendaki Allah SWT untuk mampu menyecap nikmatnya malam Lailatul Qadar.

Cara Mendapatkan Malam Lailatul Qadar

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan tentang malam Lailatul Qadar yang sangat masyhur dan mulia.

Pada malam Lailatul Qadar, umat Muslim melakukan itikaf di masjid pada 10 malam terakhir.

Apakah cukup di masjid sepanjang waktu, apa saja yang dikerjakan di sana?

"Laitul Qadr poinnya lebih baik dari 1000 bulan atau sama dengan 83 tahun + 4 bulan. Kita harus minta, niat kepada Allah SWT dan diberikan," katanya.

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan, keutamaan malam Lailatul Qadar memang sangat istimewa.

Malam Lailatul Qadar selalu menjadi misteri, bukan sebagaimana diungkap sebagian kalangan bahwa malam itu adalah hari ke 17 Ramadan, melainkan diturunkannya adalah Lailatul Qadar, malam yang mulia.

Karena itu, umat Islam berbondong-bondong di 10 hari Ramadan melaksanakan itikaf.

"Sedekah Rp 10.000 di saat Lailatul Qadar, maka pahalanya sama dengan Rp 10.000 diulang 1.000 bulan. Mengucapkan subhanallah berulang-ulang selama 1.000 bulan. Tujuan utama itikaf adalah mengejar Lailatul Qadar, yang juga menjadi penentuan keputusan satu tahun ke depan," kata Ustadz Khalid Basalamah.

Menurut Ustadz Khalid Basalamah, Al Quran diputuskan pada malam Lailatul Qadar.

"Allahu Alam umur kita sampai itu atau tidak, apa saja yang dikerjakan adalah lebih baik dari 1.000 bulan. Saat itikaf, yang dilakukan adalah mendirikan salat di malam Lailatul Qodar diampuni dosanya yang lalu, dibersihkan semuanya. Lailatul Qadar berputar di malam-malam ganjil," katanya.

Menurut Ustadz Khalid Basalamah, malam ganjil tersebut adalah malam 21, 23, 25, 27, 29.

"Karena itu, kejarlah di malam-malam ganjil, sering terjadi di malam 27. Nabi Muhammad SAW mengikat lebih kencang pakaiannya untuk itikaf di 10 malam terakhir Ramadan Bukan hanya mengikat diri di hari ganjil karena untuk menilai malam ganjil atau tidak, bisa saja berputar di malam ganjil berkelanjutan. Bukan mustahil, Lailatul Qodar masih berentetan, tatkala di Indonesia malam genap, di Arab Saudi malam ganjil, begitu sebaliknya," ujar Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan.

Dijelaskan mengapa Indonesia sering terlambat puasa dan Lebaran, menurut Ustadz Khalid Basalamah, bukan hanya pada bulan Hijriah, tapi pada malam-malam lain, bulan bisa juga tidak terlihat.

"Kalau bulan tertutup, maka puasa digenapkan 30 hari, Ramadan 29 atau 30, ada yang puasa 28 atau 31 hari itu yang ditolak, sering terjadi karena lokasi."

Menurut Ustadz Khalid Basalamah, cara untuk mendapatkan Lailatul Qadar itu dilakukan bukan hanya di malam-malam ganjil.

"Jangan pilih malam ganjil saja, tiba 10 terakhir Ramadan, Nabi Muhammad SAW selalu mengikat lebih kuat bajunya."

"Maknanya, banyak melaksanakan ibadah di masjid di 10 malam terakhir bulan Ramadan."

"Itikaf di antaranya selalu membiasakan diri shalat 5 waktu on time, diriwayatkan Bukhari Muslim, yang menjelaskan tentang perbuatan yang paling dicintai Allah SWT."

Menurut Ustadz Khalid Basalamah, Allah mencintai shalat pada waktunya, 40 hari dilakukan, maka selamat dari dosa kemunafikan.

"Tidak pernah ingkar janji, tidak pernah berbohong, tidak pernah ingkar amanah."

"Ada kisah, seorang anak muda dari gayanya orang awam."

"Dia melamar anak seorang ulama untuk dijadikan istrinya."

Syaratnya, kata Ustadz Khalid Basalamah, pemuda itu harus shalat di masjid itu, 40 hari berturut-turut, tidak pernah terlambat apalagi ketinggalan shalat 5 waktu.

"Dia jadi imam, kalau mau terima lamaran, 40 hari shalat, tidak pernah ketinggalan, setelah 40 hari diterima lamarannya."

"Setelah dikerjakan on time, langsung berubah semua, sifat kemunafikan hilang."

Karena itu, kata Ustadz Khalid Basalamah, kalau mau tes pegawai, tes shalat saja.

"Kalau 40 hari shalat, terima, dipastikan, anak muda itu tidak pernah khianat, tidak pernah ingkari janji, hal tersebut berlaku bagi lelaki dan perempuan."

"Perempuan punya syarat khusus, izin ayah kalau belum menikah, izin suami, boleh dengan suaminya, kecuali suaminya meninggal."

"Waktu Nabi SAW masih hidup, istri Nabi tidak pernah itikaf di masjid."

"Kalau itikaf itu mengikat diri, tidak boleh keluar, kecuali darurat."

"Keluar, balik lagi."

Ada kisah, kata Ustadz Khalid Basalamah, empat ada 2 orang Anshar, waktu itikaf, membuntuti Nabi Muhammad SAW, yang sedang mengantar istrinya pulang.

Istrinya tersebut, Sofia, yang mengantarkan makanan kepada Nabi Muhammad SAW.

"Wahai kaum Anshar, pelan-pelan saja, yang bersama saya, istri saya, Sofia, begitu kata Nabi Muhammad SAW."

Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan, Nabi Muhammad SAW tahu karena selalu saja ada setan mengalir di dalam darah.

Menurut Ustadz Khalid Basalamah, itikaf itu dimulai pada puasa ke-19, malam ke-20, itikaf.

"Keluarnya, setelah shalat Idul Fitri, shalatnya di sana juga, maka cari masjid yang dipakai shalat Dhuha, dipakai shalat Ied."

"Saat itikaf, saya kadang bawa rantangan untuk buka puasa, mengaji, duduk, menasehati, bangun, shalat malam, habis shalat subuh, pulang."

"Apalagi masjid besar, orang bebas itikaf, ada waktu yang dilowongkan untuk itu."

"Kalau ada pendapat ulama, yang menyatakan, paling sedikit antara shalat ke shalat."

"Itikaf itu beda dengan orang yang shalat di masjid, targetnya shalat 5 waktu juga di masjid, tidak keluar dari masjid," kata Ustadz Khalid Basalamah.(*)

Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved