Apa yang Terjadi? Politisi Partai Pendukung Prabowo-Sandi Migrasi dari WA ke Telegram
Langkah pemblokiran dan pembatasan akses WA ini, tidak pernah terjadi sebelumnya.
Penulis: Alfian | Editor: Thamzil Thahir
MAKASSAR, TRIBUN — Hampir 10 jam sudah, otoritas keamanan negara membatasi kuota bandwith lalulintas data pada aplikasi instant messagging, seperti WhatsApp dan media sosial lain di Indonesia.
Tagar #Whatsappdown jadi trending Indonesia.
Langkah pemblokiran dan pembatasan ini, tidak pernah terjadi sebelumnya.
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukkam) Wiranto dan Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, dalam jumpa pers bersama pejabat tinggi negara di Jakarta, siang tadi, menegaskan kebijakan tak populis ini ditempuh guna mencegah penyebaran informasi palsu menyusul rangkaian kerusuhan pasca-pengumuman hasil rekapitulasi pemilihan presiden, Rabu 22/5/2019) di Ibukota negara, Jakarta.
Hampir di semua wilayah di Indonesia, akses ke media sosial (Facebook, Instagram, Twitter) dan aplikasi instant messagging (WhatsApp), diblokir dan dibatasi sementara.
Pembatasan ini terasa sekali bagi pengguna mobile smartphone dengan jasa provider Telkomsel, Indosat, XL dan beberapa penyedia jasa mobile internet lain. Jika mengirim melalui akses WIFI, Telkom, pengiriman foto, video, dan file dokumen lain, nyaris tak terkendala.
“Coba tanyakan ke provider,” kata Menteri Rudiantara, menjawab alasan pemerintah memblokir dan membatasi akses, dalam jumpa pers.
Dari pantauan Tribun, hingga pukul 22.40 WIB, pembatasan kuota bandwith lalulintas aplikasi pesan instan ini, berdampak pada pengguna aplikasi WhatsApp, tak bisa mengirim file kapasitas besar, seperti gambar, video, grafis, atau meme skala besar.
Namun untuk pengiriman pesan dalam format teks (TXT) tetap lancar.
Sejumlah pengguna aplikasi chat nomor satu di Indonesia ini pun, sejak siang tadi, bermigrasi ke aplikasi chat dari Rusia, Telegram.
Politisi dari partai pendukung pasangan presiden-wapres 02, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, pengguna aplikasi instant messagging, sepanjang siang hingga Rabu (22/5/2019) malam, banyak yang bermigrasi dari WhatsApp ke Telegram.
Sekretaris Jenderal Relawan Informasi dan Telekomiunikasi (IT) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dian Islamiati Fatwa, termasuk salah satu pengguna WA yang bermigrasi.
Politisi PAN yang juga putri mendiang tokoh perlawanan Orde Baru dan Tokoh Reformasi, Andi Mappetahang (AM) Fatwa, ini mengkonfirmasikan migrasinya.“Iya, kita migrasi,” ujarnya menjawab chat Tribun dari aplikasi Telegram.
Elite Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Sulsel, Ustad M Iqbal Djalil, yang juga barisan tim pemenangan lokal Prabowo - Sandi di Makassar, juga bermigrasi ke Telegram, sekitar pukul 18.00 WIB.
Politisi Partai Demokrat Sulsel, Selle KS Dalle, juga mengkonfirmasikan banyak politisi dan rekan di akun kontaknya yang bermigrasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/dprd-sulsel-5.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/intenet_users_.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/data_internet_users_-dan-sosial-media.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/provokator-kerusuhan-jakarta-1-1452019.jpg)