OPINI
OPINI - Waisak Jaga Kebersamaan
Penulis adalah Wakil Ketua DPD Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulsel
Oleh:
Hasdy SSi MSi
Wakil Ketua DPD Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulsel.
Hari Trisuci Waisak memperingati tiga peristiwa agung yang terjadi pada bulan Waisak yaitu peristiwa kelahiran Bodhisatta Siddhattha yang kelak menjadi Buddha Gotama, saat pencapaian Penerangan Sempurna Kebuddhaan, dan saat mangkat Buddha Gotama.
Tiga peristiwa agung itu menjadi objek penghormatan bagi umat Buddha dalam Pujabakti Waisak.
Tahun ini tepat pada 19 Mei 2019 kita memperingati Trisuci Waisak 2563 BE. Umat Buddha melakukan Pujabakti Waisak di candi, vihara ataupun cetiya di mana mereka berada.
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, karena kita saling membutuhkan atau saling melengkapi antara orang yang satu dengan orang yang lain.
Tetapi, ketika kita hidup bersama dengan orang lain di dalam suatu kelompok atau masyarakat, malah sering terjadi suatu percecokkan yang terkadang sampai memakan korban hanya karena perbedaan pandangan atau keyakinan.
Hal ini disebabkan kurangnya rasa kebersamaan itu sendiri, sehingga cederung hanya memikirkan dirinya sendiri.
Tentu akan berbeda jika kita mengembangkan rasa kebersamaan dan menghormati perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Tidak selalu melihat kesalahan orang lain.
Tidak mengidealkan orang untuk selalu sesuai dengan keinginan kita.
Tidak saling menjatuhkan, tetapi saling mengisi. Maka akan tercipta kedamaian dalam hidup.
Baca: Bareng Jurnalis, Humas Pemkab Bantaeng Berbagi Makanan Buka Puasa
Pasca-Pemilu
Pasca pemilihan umum serentak pada 17 April 2019, eskalasi politik terus meningkat, terutama menjelang penetapan hasil pemilu 22 Mei 2019.
Kendati terdapat banyak kekurangan dalam penyelenggaraan pemilu, harus diakui bahwa secara umum pemilu berjalan dengan aman, tertib, dan damai.
Tidaklah mengherankan jika banyak apresiasi dari sejumlah negara terhadap pelaksanaan pemilu di Indonesia.
Sayangnya, pasca-pemilu, yang marak terjadi di media sosial adalah berbagai narasi untuk mendiskreditkan penyelenggara yang akan berujung pada delegitimasi pemilu.
Setelah masyarakat menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2019, berbagai perbedaan pilihan politik perlu ditanggalkan guna kembali merajut persatuan bangsa.