Daftar 5 Pasal Dipakai untuk Jerat dr Ani Hasibuan Seusai Beberkan Sebab Kematian Petugas KPPS

Daftar 5 pasal dipakai untuk jerat dr Ani Hasibuan seusai beberkan sebab kematian petugas KPPS.

Daftar 5 Pasal Dipakai untuk Jerat dr Ani Hasibuan Seusai Beberkan Sebab Kematian Petugas KPPS
DOK PRIBADI/TV ONE
dr Ani Hasibuan

TRIBUN-TIMUR.COM - Daftar 5 pasal dipakai untuk jerat dr Ani Hasibuan seusai beberkan sebab kematian petugas KPPS.

dr Ani Hasibuan, dokter yang membeberkan penyebab kematian ratusan anggota KPPS bakal berususan dengan pihak berwajib.

Menurut rencana, dokter ahli syaraf Ani Hasibuan dipanggil polisi untuk dimintai keterangan, Jumat (17/5/2019) besok.

Surat panggilan kepada dokter yang telah melaporkan adanya kejanggalan penyebab kematian penyelenggara Pemilu 2019 kepada pimpinan DPR itu beredar di media sosial dan menjadi viral.

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah memberikan komentar atas pemanggilan dr Ani Hasibuan oleh Polda Metro Jaya.

Melalui akunnya pada Twitter @Fahrihamzah, Fahri Hamzah mengatakan, daripada polisi memanggil Ani Hasibuan dengan tuduhan ujaran kebencian, mending polisi memeriksa Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Seperti diketahui, IDI sebelumnya membuat pernyataan bahwa kematian ratusan anggota KPPS bukanlah karena kelelahan.

"Halo pak @jokowi kenapa akademisi dilarang bicara ilmunya? Itu bukan kebencian tauk! Ampun deh.!!" demikian kicauan Fahri Hamzah melalui akunnya pada Twitter, Kamis (16/5/2019) dini hari.

Lanjut, dia berkicau lagi, "Kalau dokter gak boleh analisa kematian, maka nanti arsitek gak boleh bicara bangunan, ulama gak boleh ngomong agama, politisi gak boleh bicara politik, lawyer gak bOleh bicara hukum, ekonom gak boleh bicara ekonomi karena SEMUA KENA DELIK UJARAN KEBENCIAN. Cc: @KomnasHAM."

"Kenapa aparat ikut memanaskan suasana ya? Kenapa gak mendukung pencarian fakta untuk menjawab kegelisahan publik ya? Loh yg nanya ini kan majikan..jawab dong...bukan malah majikan ditangkap dan diancam... aneh bin ajaib....! Cc; @KomnasHAM @jokowi."

Halaman
1234
Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved