OPINI
OPINI - Literasi untuk ‘Kampus’ Peradaban
Penulis adalah Peraih Anugerah Literasi UIN Alauddin Makassar/Bergiat di FLP UINAM
Oleh:
Muhammad Musmulyadi
Peraih Anugerah Literasi UIN Alauddin Makassar/Bergiat di FLP UINAM
Untuk pertama kalinya UIN Alauddin Makassar (UINAM) menggelar kegiatan yang patut di dukung dan diapresiasi keberadaannya.
Festival dan Anugerah Literasi (Al A’la) resmi diadakan dengan mengusung tema “Literasi untuk Peradaban” yang bertepatan pada Hari Pendidikan Nasional, pada 2-3 Mei 2019.
Kegiatan ini membawa angin segar bagi kehidupan literasi di Kampus UINAM.
Ini merupakan panggungbesar bagi mahasiswa sekaligus sebagai wadah apresiasi kepada penulis mahasiswa yang telah memiliki karya, baik itu berupa buku, jurnal maupun tulisan yang telah diterbitkan di media (cetak/online).
Kemudian diseleksi dan pada akhirnya terpilih 45 mahasiswa untuk diberikan anugerah literasi.
Dari 45 yang terpilih selanjutnya kembali dipilah-pilih 5 mahasiswa yang kemudiaan diberikan kesempatan untuk menjadi pembicara dalam sesi ‘temu penulis’ (02/05/2019), untuk berbagai mengenai beberapa hal; pengalaman menulis, proses pembuatan tulisan, serta juga motivasi untuk teman-teman mahasiswa, saya juga sebagai salah satu dari 5 mahasiswa yang terpilih berharap bisa memberikan semangat dan motivasi kepada teman-teman mahasiswa lainnya untuk turut serta berkarya.
Puncaknya, akan dipilih dua duta literasi UINAM. Semoga ini akan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
Baca: Hari ke-10 Ramadan, Politekpar Negeri Makassar Gelar Buka Puasa Bersama
Setidak-tidaknya kegiatan ini hadir untuk kembali membakar semangat mahasiswa untuksenantiasa melahirkan tulisan-tulisannya lagi—walaupun ada ungkapan bahwa menulis tak mesti menunggu apresiasi.
Ditambah kegiatan ini akan membakar semangat memotivasi mahasiswa lainnya untuk turut serta berkarya dan nilai terakhirnya adalah memupuk semangat literasi di kampus yang memiliki julukan Kampus Peradaban.
Kampus harus menjadi soko guru peradaban.
Terlebih jika kampus itu berlabel Islam maka seluruh tarikan nafas insan akademik harus disandarkan kepada Islam, mengintegrasikan keilmuan dengan Islam.
Ataupun sekurang-kurangnya pada nilai Iqra(bacalah) sebagai pondasi awal diturunkannya Al Qur’an bisa senantiasa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika melihat sejarah perkembangan keilmuan dalam Islam tidak bisa terlepaskan oleh tulisan tulisan para cendekiawan muslim dari masa ke masa yang sampai pada hari ini dalamnya sumur ilmu pengetahuan bisa kita rasai manfaatnya.
Seperti warisan berharga umat Islam yaitu Al Qur’an yang ditulis oleh para sahabat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muhammad-musmulyadi.jpg)