OPINI
OPINI - Nyoblos selaras dengan Qiyas Aula
Nabi bersabda “Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud).
Oleh:
Hendra Wijaya Lc MH
Ketua Jurusan Syariah STIBA Makassar
Berita wafatnya Nabi membuat para sahabat sungguh terpukul, diantara meraka ada yang syok tak sanggup berkata-kata, yang lain tak kuasa berdiri.
Kesedihan menyelimuti relung-relung hati kaum mu’minin, terlebih Umar bin Khattab. Kabar meninggalnya Nabi dianggapnya hoaks tipuan munafiqun belaka.
Dengan lantang, Umar bin Khattab mengancam siapa saja yang berani menyebarkan berita wafatnya Nabi.
Namun Abu bakar, sahabat sekaligus mertua Nabi, berhasil meyakinkan Umar, bahwa Muhammad SAW hanyalah seorang rasul (makhluk), yang juga bisa meninggal sebagaimana rasul-rasul sebelumnya (QS Ali Imran 144).
Duka yang amat mendalam tak mengalangi pembesar sahabat untuk tetap fokus menjaga kepentingan Islam.
Kaum munafiqun bisa saja memanfaatkan kesempatan emas tersebut, membiarkan kosongnya kepemimpinan menjadi ancaman serius tersulutnya kekacauan alias chaos.
Atas pertimbangan itulah, pembesar sahabat dari perwakilan Muhajirin dan Anshar segera menggelar rapat luar biasa.
Baca: Bukan Satpol PP, Pengamanan TPS Parepare Direkrut dari Kelurahan
Saat jenazah Nabi yang mulia belum lagi diselenggarakan, dengan berat hati mereka meninggalkan rumah duka menuju Tsaqifah Bani Sa’idah untuk kemaslahatan umat.
Di sinilah tampak kedalaman ilmu para sahabat nabi, piawai mengaplikasikan fikih prioritas di saat yang tepat. Alhasil, Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pertama secara aklamasi.
Kematangan politik sahabat adalah buah pengkaderan Nabi Muhammad SAW, sedari awal Nabi banyak mentraining konsep kepemimpinan, di antara yang paling mendasar adalah urgensi mengangkat pemimpin dalam skala sekecil apapun, walau hanya beranggotakan tiga orang saja.
Nabi bersabda “Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud).
Ibnu Taimiyah dalam bukunya al-Hisbah menjelaskan bahwa jikalau saja kumpulan tiga orang yang merupakan satuan terkecil dari sebuah kelompok diperintahkan untuk mengangkat pemimpin, maka terlebih lagi pada jumlah yanglebih besar.
Analogi seperti ini dikenal dengan metode qiyas aula.
Aula artinya lebih utama, dinamakan qiyas aula sebab illah (sebab) hukum cabang lebih utama dari illah hukum asalnya, dengan demikian memilih pemimpin dalam skala lebih besar seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berpenduduk 267 Juta orang di tahun 2019, jelas lebih utama dari sekadar kelompok yang beranggotakan tiga orang.
Baca: LAPAR Sulsel-KPU Makassar Ajak Generasi Millenial Perangi Golput
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/hendra-wijaya-lc.jpg)