Bantu Korban Bencana, IDeAKSI Buat Buku Cerita Anak
IDeAKSI adalah lembaga peduli anak yang berinisiatif mendampingi para korban bencana melalui berbagai kegiatan menyenangkan. Saat ini diketuai MWN
Penulis: Jumadi Mappanganro | Editor: Jumadi Mappanganro
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perkumpulan IDeAKSI Indonesia telah membuat buku cerita anak berjudul Memetik Keberanian.
Temanya tentang Persahabatan, Cita-cita dan Impian Masa Depan. Saat ini dalam tahap cetak.
“Rencana diluncurkan 15 April 2019,” ujar Ketua Perkumpulan IDeAKSI, Muhary Wahyu Nurba, saat berkunjung di Kantor Tribun Timur, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019) malam.
IDeAKSI adalah lembaga peduli anak yang berinisiatif mendampingi para korban bencana melalui berbagai kegiatan menyenangkan.
Harapannya agar perlahan-lahan para korban, khususnya anak-anak, bisa bangkit kembali dan tersenyum bahagia.
Penerbitan buku ini dimaksudkan untuk menjadi bacaan guna menghilangkan trauma para korban bencana sedikit demi sedikit dan membuat anak-anak yang terdampak bencana jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Andi Sose Tinggalkan Warisan Lima Masjid di Bantaeng, Semuanya Bernama Syuhada 45
Penerbitan awal, sebanyak 500 examplar ini terwujud atas bantuan para donatur, baik perorangan maupun lembaga, seperti MARS Symbioscience, Ikatan Alumni Mahasiswa Australia (IKAMA) Sulawesi Selatan.
Targetnya 3.000 examplar yang akan dibagikan ke pihak sekolah dan ke komunitas-komunitas di mana anak-anak terdampak bencana.
IDeAKSI juga akan mencari sukarelawan baca seperti pendongeng, musisi, aktor, penyair, guru, psikolog atau siapa pun yang mau terlibat untuk membacakan cerita-cerita yang ada dalam buku tersebut.
Cita-cita terjauhnya adalah menerjemahkan semua naskah ini ke dalam bahasa Inggris sehingga keterbacaannya jauh lebih luas.
Tidak hanya terbatas untuk anak Indonesia tapi seluruh anak di dunia.
Kampanye di Sidrap, Sandiaga Uno: Stop Impor Beras
“Bencana bisa terjadi dimana saja, bisa melanda siapa saja, tapi kita juga bisa menumbuhkan kebahagiaan bersama, kapan saja,” papar Muhary yang juga alumni Universitas Hasanuddin ini.
Menurut Muhary, ide penerbitan buku ini terinspirasi dari kejadian gempa yang menimpa Pulau Lombok (Nusa Tenggara Barat) pada 29 Juli 2018 dan Palu-Sigi-Donggala (Sulawesi Tengah) pada 28 September 2018.
Saat itu Pulau Lombok terpapar gempa berulang kali ditambah gempa susulan kurang lebih sudah 370 kali.
Mengakibatkan korban jiwa mencapai angka 560 jiwa, 7.773 korban luka-luka dan lebih 400 ribu pengungsi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/muhary-wahyu-nurba_penulis.jpg)