Andi Sose Meninggal
Dikenal Disiplin, Hargai Tamu, Begini Teladan Andi Sose yang Selalu Dikenang
Sikap istiqomah almarhum dalam amalan agama ini dicontohkan Waspada dalam konteks kedisplinan dan penghargaan kepada tamu.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Mahyuddin
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Lahir di masa perjuangan mengusir penjajah, dewasa di era perjuangan revolusi, dan jadi pengusaha di Orde Baru dan era Reformasi adalah konteks masa pengabdian Brigjen TNI (purn) DR Haji Andi Sose (1930-2019).
"Jika beliau super disiplin, tegas dan bicara yang perlu saja, itu karena almarhum berlatar bangsawan, militer dan saudagar yang selalu melihat bangsa ini dalam masa perjuangan menuju cita-citanya," kata Dr Waspada Santing MAg (56), dosen ilmu komunikasi di Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Selasa (26/3/2019), usai melayat di rumah duka, Jl Sungai Tangka, Ujungpandang, Makassar.
Waspada mengenal almarhum di awal karier jurnalisnya, medio 1990-an di harian fajar.
Waspada menyebut Andi Sose sebagai orangtua, kawan, sekaligus mentor nilai-nilai hidup.
November 2009 silam, Waspada menulis tesis masternya di PPs UIN Alauddin berjudul; "Dakwah Bl Hal: _Studi Tokoh H Andi Sose.”
Tesis itu, kini sudah dalam format biografi, dan siap diterbitkan
Baca: Kasdam XIV Hasanuddin Pimpin Upacara Militer Pemakaman Brigjen TNI (Purn) Andi Sose
Baca: Ketua Hanura Enrekang Kenang Saat Jadi Bendahara Program Pembangunan 105 Masjid Suhada Andi Sose
Sejatinya, di ulang tahun ke-89 Andi Sose, 15 Maret 2019 lalu, biografi itu akan diterbitkan.
“Sisa menyelesaikan kata pengantar pihak keluarga yang sementara ditulis Andi Tenri Sose (putri almarhum),” ujar Waspada.
Waspada mengenang jenderal bintang satu itu, sebagai “pejuang yang tak banyak pengetahuan agamanya, tapi jika sudah tahu, pasti dia akan berupaya mempraktikkannya dengan konsisten.”
Sikap istiqomah almarhum dalam amalan agama ini dicontohkan Waspada dalam konteks kedisplinan dan penghargaan kepada tamu.
“Puang itu suoer disiplin. 10 atau 15 menit sebelum azan dia sudah berwudhu. Beliau tak pernah atur jadwal pertemuan sebelum masuk waktu salat. Pertemuan nanti setelah salat. Kalau janjian jam 10 teng, jangan pernah lebih 3 menit. Banyak tamu yang dia tinggalkan begitu saja, kalau tidak tepat waktu,” ujar wakil ketua MUI Sulsel itu.
Perihal peghargaan kepada tamu, juga patut diguguh dari Sang Jenderal.
Andi Sose mengamalkan hadis Nabi, “Faa akrim dayfaka,” (senantiasa muliakankan tamumu.)
“Beliau itu bangsawan, jenderal TNI, dan pengusaha. Nyaris saya tak pernah melihat Puang menerima tamu dengan pakaian apa adanya. Pasti selalu pakaian rapi, pakai songkok dan menegur orang rumah jika tamu sudah duduk 5 menit tapi belum ada minuman atau makanan di meja,” kata Waspada.
Mengapresiasi prestasi seseorang juga jadi kebiasaan putra pasangan bangsawan Massenrepulu, Puang Haji Andi Liu dan Hajjah Puang Andi Sabbe ini.
Baca: Danny Pomanto: Andi Sose Akan Dikenang Sepanjang Masa
Waspada bercerita, di awal tahun 2003, dia menerima telepon dari sekretaris Andi Sose.
Pesannya lugas, “segera dipanggil Puang sebelum salat Dhuha.”
Di perjalanan, Waspada tegang dan bertanya-tanya, “gerangan apa hajat jenderal.”
Sesampai di Jl Sungai Tangka, kediaman pendiri Bank Marannu itu, Andi Sose langsung menjabat tangan Waspada, dan ternyata, “Eh, Bos mu (Alwi Hamu) itu hebat. Saya bangun dua tower Yayasan Andi Sose hanya 9 lantai, Dia bangun gedung lantai 17 (Graha Pena, sekitar 300 meter dari twin tower Sose, “ ujar Andi Sose dengan mimik serius.
Waspada pun tak menyangka undangan ‘mendadak itu “cuma” menyampaikan pujian yang sepintas sepele.
Sesampai di kantornya, Waspada yang kala itu menjabat wakil pemimpin redaksi fajar itu, langsung mengabari atasannya.
“Andi Sose kirim salam Pak. Dia mengundang saya khusus, hanya untuk menyampaikan Bapak hebat., karena sudah bangun gedung tertinggi di Makassar.”
Alwi Hamu pun merespons pujian Sose; “Bagaimanapun beliau lebih hebat. Dia yang pertama bangun gedung tertinggi di Makassar, dan itu hampir 20 tahun,” kata Alwi Hamu.
Kesan senada juga dikonfirmasi praktisi hukum Ridwan Jonni Sillama, (63).
Seperti Waspada, Ridwan adalah sekampung, dari Cakke, Anggeraja, Enrekang, sekaligus tenaga pengajar di Universitas 45, lembaga pendidikan tinggi yang dirintis Andi Sose tahun 1985 silam.
Mantan komisioner KPU Sulsel (2003-2008) itu mengenang kesan dan nilai abadi yang patut diwariskan dari almarhum ke generasi berikut adalah kedisiplinan dan sifat kebapakan.
“Kalau beliau bilang acara dimulai jam 8, ya jam 8 mulai. Kalau terlambat dihukum.”
Ridwan berkisah kala mendiang ayahnya, Sersan Mayor Silamma tertembak di perang Toraja, Andi Sose berpangkat kapten dan menjabat Komandan Batalyon 702 KGSS IV/Monginsidi di Enrekang dan Toraja.
“Bapak saya pembuka serangan dan tertembak saat melawan Lasykar Pemberonatakan Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris).”
Ridwan ditujuk Sose sebagai dekan pertama di Fakultas Hukum Univ 45, tahun 1985. Karier terakhir Ridawan adalah PR III Universitas 45 di tahun 1998.
Baca: Kenangan Aliyah Mustika Ilham kepada Andi Sose
Ridwan ‘diberhentikan’ sebagai wakil rektor, karena persoalan yang terlihat sepele.
“Beliau sudah berpesan, jangan ospek mahasiswa baru angkatan 1998, sebelum saya datang memberi kata sambutan. Nah itu sudah disepakati. Lalu Puang salat subuh jamaah di Masjid 45, samping kampus. Eh, di sana dia melihat para mahasiswa senior sudah kumpulkan ratusan maba," kata Ridwan kepada Tribun.
"Paginya saya langsung dipanggil menghadap ke ruangannya, dan diberikan surat penonaktifan. Tapi sore harinya saya ditelepon lagi, dan tetap akrab. Kalau beliau marah, tak pernah dimasukkan ke hati."
Seremoni Pahlawan
Almarhum Andi Sose dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Panaikang dengan upacara militer. Upacara dipimpin lamgsung oleh Kepala Staf Kodam XIV Hasanuddin Brigjen TNI Budi Sulistijono.
Saat jenazah dimasukkan ke liang lahat, prajurit TNI melesakkan ‘tembakan salvo’ untuk menghargai penerima bintang perjuangan, Bintang Mahaputra Nararya (Penghargaan sipil tertinggi di Indonesia) itu.
Kabar duka wafatnya pejuang 45 ini beredar sejak Selasa (26/3) pagi. Hingga pukul 14.30 wita, ruas jalan Sungai Saddang, Jl Merapi, Jl Sungai Tangka dan perempatan Jl Jenderal Sudirman, Dr Ratulangi, macet parah.
Ribuah pelayat datang memberi penghormatan terakhir kepada sang jenderal.
Andi Sose berasal dari kampung kecil, Sossok-Cakke di kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang, sekitar 280 km tenggara Makassar.
Baca: Bicarakan Yayasan 45 Bulukumba Tiga Bulan Lalu, Begini Sosok Andi Sose di Mata AM Sukri Sappewali
Tak jauh dari kampung halaman Andi Sose, ada daerah bernama Baraka yang pernah jadi markas Kahar Muzakkar pada 1950-an.
Tidak jauh dari situ, ada suatu tempat yang disebut Alla—pernah menjadi daerah perlawanan Pong Tiku melawan pemerintahan kolonial Belanda.
Orang-orang di daerah kelahiran Sose lebih suka mengklaim sebagai "orang Duri", digolongkan sebagai Massenrempulu (etnis-etnis yang bermukim di Enrekang).
Ayah Sose adalah Puang Liu dan ibunya adalah Andi Sabbe. Puang adalah gelar terhormat di kawasan itu.
Meski orang-orang di sana tak merasa sebagai orang Bugis, gelar bangsawan Bugis dipakai ibunda Sose serta Andi Sose sendiri.
Puang Liu, kepala masyarakat di daerahnya, tidak berbeda sebagai raja kecil.
Banyak kerajaan di luar Pulau Jawa adalah kerajaan-kerajaan kecil.
Sose lahir pada 15 Maret 1930. Setelah belajar di Volkschool (sekolah rakyat yang cuma tiga tahun) di Anggeraja, Sose melanjutkan ke Schakelschool (sekolah rendah lanjutan) di Makale, Tana Toraja.
Andi Sose membangun 119 masjid, menghaji dan umrahkan sekitar 910 imam masjid di Sulsel, serta mendirikan universitas 45 dan rumah sakit swasta fasilitas modern pertama RS 45 (kini RS Ibn Sina, yang kini pengelolaannya dialihkan ke Yayasan Badan Wakaf UMI).
Sedangkan Univeritas 45, sejak 17 Agustus 2013, pengelolaannya dialihkan ke Bosowa Foundation.
“Saya rela menyerahkan pengelolaan 45 ke Aksa Mahmud, karena saya kenal ayahnya (Haji Mahmud) ikut membantu pejuang di Lapasu, Mangkoso dan Paccekke (Barru), Aksa ini anak pejuang, ” ujar Sose saat sambutan resmi pengalihan ke Bosowa Foundation.
Di kampungnya, Andi Sose juga membangun Rumah Sakit Puang Sabbe di tanah kelahirannya Jalan H Andi Liu, Cakke, Kelurahan Lakawan, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.
Baca: SYL: Jauh Sebelum Semangat NKRI Harga Mati Digemakan, Andi Sose Telah Menanamkan Semangat Itu
Rumah sakit tersebut kini diwakafkan ke Pemerintah Daerah (Pemda) Enrekang.Nama Rumah Sakit Puang Sabbe diambil dari nama ibu kandungnya, Puang Sabbe.
Sementara nama jalan di rumah sakit itu diberi nama H Andi Liu yang merupakan nama dari ayah kandung Andi Sose.
"Beliau adalah teladan bagi kami, selalu mengajarkan tentang kedermawanan dan juga tentang nilai perjuangan," kata Andi Aswan, Selasa (26/3/2019).
Andi Aswan menjelaskan, Andi Sose tujuh bersaudara kandung diurut dari pertama hingga sulung yaitu Puang Marak Intang, Puang Allang, Puang Duriana, Puang Andi Sose, Puang Uli, Puang Burung dan Puang Pagak.
"Dari tujuh bersaudara itu tersisa Puang Duriana yang masih hidup. Puang Duriana itu nenek saya, saudara kandung alhmarhum;" ujar Andi Aswan.
Andi Aswan menambahkan, ada satu pesan yang selalu ditekankan oleh Almarhum Andi Sose yaitu, 'Sayangi Keluarga'.
Hal itu mengajarkannya untuk selalu mengutamakan dan menjaga harmonisnya keluarga.
Biografi
Lahir: Sossok, Anggeraja, Enrekang, 15 Maret 1930
Orang Tua: Puang Liu (ayah), Andi Sabbe (Ibu)
Pendidikan:
Schakelschool (Sekolah Dasar Belanda)
SMP Nasional binaan Sam Ratulangi
Pekerjaan:
-Bintang Mahaputra Nararya (Penghargaan sipil tertinggi)
-Perusahaan Binaraya (tranportasi)
- Mantan Ketua Umum DPP Organda di Jakarta (kurun waktu 15 tahun)
-Bank Antar Indonesia
-Bank Rakyat Sulawesi
-Bank Tani dan Industri
-Coca Cola Atlanta
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/rumah-duka-andi-sose.jpg)