OPINI
OPINI - Pemilu, Media, dan Implicit Bias
Penulis adalah Dosen Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar - PhD Candidate pada School of Psychology Central China Normal University
Oleh:
Patmawaty Taibe
(Dosen Fakultas Psikologi Universitas Bosowa Makassar - PhD Candidate pada School of Psychology Central China Normal University)
Perkembangan informasi dan teknologi yang semakin pesat membawa dampak pada perkembangan demokrasi. Pengguna aktif internet di Indonesia kini setara setengah jumlah penduduk Indonesia.
Internet pun menjadi media kampanye bagi para politisi selain itu dengan berubahnya era Web 1.0 (berbasis read-only web) ke era Web 2.0 (participatory web) di mana public dapat menciptakan kontennya sendiri dan melibatkan pengguna sebagai partisipan aktif dalam setiap konten yang diunggah menjadikan internet adalah media yang sulit dikendalikan oleh siapa saja. Termasuk pemerintah.
Karenanya, internet dalam dunia politik saat ini memiliki peran penting dalam proses mentransfer informasi kepada public dari para pelaku politik.
Lalu sejauh mana media mempengaruhi keputusan-keputusan seorang individu dalam politik dan demokrasi?
Politik adalah sesuatu yang diperuntukkan untuk publik yang akan membentuk suatu tatanan global untuk sebuah negara yang pada nantinya akan mengacu pada regulasi-regulasi yang signifikan untuk kepentingan masyarakatnya.
Baca: Selayar Butuh 700 Guru
Baca: Terlibat Pencurian Motor Di Tamalanrea, Dua Perempuan Ini Dibekuk Reskrim Polsek Mariso
Sedangkan demokrasi pada intinya memberikan kebebasan kepada warga negara baik secara langsung atau terwakili untuk memilih dan ikut berpatisipasi dalam pembuatan regulasi/ hukum negara.
Dalam psikologi politik media menjadi hal yang signifikan dalam proses berpikir hingga proses pengambilan keputusan dari seorang pemilih terhadap kandidat politisi.
Manusia bereaksi atas pilihan dan nilai yang dianutnya berdasarkan dari apa yang didengar dan dilihatnya serta dialaminya, sehingga sumber informasi (media) menjadi sangat penting dalam hal ini.
Social Media
Saat ini politik identitas masih menjadi penting di Indonesia. Ini dikarenakan Indonesia adalah negara yang multi background. Identitas masih menjadi sangat penting bagi pemilih.
Pemilih akan memiliki kecenderungan lebih memilih kandidat yang memiliki identitas yang sama dengannya.
Identitas adalah segala sesuatu yang melekat dengan diri kita sebagai individu seperti etnisitas, agama, dan bahasa menjadi sebuah identitas yang melekatkan kita pada suatu kelompok dan diakui menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Maka pembentukan image melalui media menjadi penting bagi seorang politisi khususnya di Indonesia hal ini terkait dengan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kolektif sehingga penilaian-penilaian atas personalitas kandidat menjadi penting bagi masyarakatnya.
Baca: 5 Hari Lagi UNBK Tingkat SMK, Download Disini Kisi-kisi Soal UNBK dan USBN 2019 SMP/SMA/SMK/MA,Link!
Sebagai figure masyarakat politisi harus siap berbagi ruang personalnya kepada public hal ini menyebabkan tingginya ekspektasi moral dari public terhadap politisi menjadi faktor utama dalam terbentuknya politik identitas itu sendiri.
Para pelaku politik praktis memahami betul bagaimana identitas dapat mempengaruhi keputusan politik para pemilih sehingga para politisi akan menyesuaikan identitas dengan nilai-nilai yang dianut oleh para pemilih.
Misalnya dengan mengenakan simbol-simbol identitas dari kelompok pemilih. Saat ini yang paling banyak digunakan adalah simbol keagamaan.
Beberapa penelitian yang dikembangkan untuk memprediksi kemenangan partai atau politisi dalam praktik pemilu langsung ditemukan faktor implisit (faktor-faktor yang tidak disadari) menjadi hal yang tidak bisa dianggap remeh, hal-hal yang tidak disadari menjadi faktor yang menentukan dalam pemilih memutuskan pilihannya di dalam bilik suara.
Agama dan etnisitas menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi manusia dalam bertindak baik secara sadar ataupun tidak disadari, dalam hal ini penulis lebih fokus pada perilaku implisit atau perilaku yang tidak disadari.
Baca: Polres Gowa Simulasi Sistem Pengamanan Kota Pencegah Konflik Pemilu 2019
Pada penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan menggunakan IAT (Implicit Association Test) yang berfokus pada etnisitas dan agama ditemukan secara tidak disadari agama menjadi faktor utama dalam keberpihakan seseorang pada satu kelompok atau seseorang).
Hasil penelitian ini menunjukkan 98% dari setiap kelompok berdasarkan kelompok agama akan berpihak secara tidak sadar kepada kelompoknya.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa agama menjadi sangat penting dalam menentukan perilaku seorang individu secara tidak disadari.
Bias Politik
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh riset masyarakat telematika Indonesia pada tahun 2017 jenis hoax yang paling sering diterima adalah sosial politik (pilkada, pemerintah) berada di urutan pertama sebesar 91.80%.
Di urutan kedua adalah SARA (suku, agama dan ras) sebesar 88.60%.
Bias dalam hal ini merupakan bias kognitif pada para pemilih yakni adanya kesalahan dalam berpikir atau menilai sesuatu karena berdasarkan penilaian subyektif berdasarkan pengetahuan, nilai atau pengalaman dari individu tersebut.
Baca: Siswa Makan Tak Bayar, Kantin Kejujuran SMKN 1 Barru Bangkrut
Terjadinya bias pada dasarnya disebabkan adanya proses stereotype/generalisasi yang berujung pada prasangka hingga pada akhirnya berujung pada perilaku diskriminasi.
Sejauh yang kita ketahui saat ini isu-isu agama dijadikan sebagai senjata dalam saling menjatuhkan satu sama lain, sebagai pemilih sudah seharusnya kita paham benar agama menjadi salah satu bagian dari identitas kita sehingga sangat sulit untuk terlepas dari nilai tersebut.
Karenanya dalam teori konflik menyatakan bahwa konflik yang disebabkan oleh isu-isu ideologis seperti agama dan etnis dapat menyebabkan konflik yang tidak realistis, sehingga konflik antar-agama/ kepercayaan dan antar-etnis adalah konflik yang sangat sulit untuk ditemukan solusinya terutama dalam membentuk konsensus dan perdamaian, konflik tersebut juga cenderung akan berulang.
Secara otomatis kita akan lebih berpihak pada kelompok yang memiliki nilai yang sejalan dengan nilai yang kita anut.
Hal ini harus dipahami oleh masyarakat Indonesia sebagai pemilih, memahami bagaimana proses kerja kognitif atau mental dalam keberpihakan dan prasangka adalah proses yang berjalan di alam bawah sadar dan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kita anut serta pengalaman yang kita telah lalui.
Baca: 19 Kasus Lakalantas di Toraja Selama Dua Bulan, 4 Meninggal
Memilih merupakan sebuah proses yang melibatkan rasa suka dan tidak suka.
Proses ini berada dalam tataran afeksi (rasa) sangat emotional dan intimate namun harus dieksekusi dalam sebuah tindakan sadar yakni memilih kandidat dengan proses rasionalitas.
Marilah menjadi pemilih yang cerdas dan bijak dengan sadar sesadarnya bahwa nilai-nilai yang kita anut akan mempengaruhi kita secara subjektif dalam menilai sesuatu demi sebuah keputusan yang rasional dan cerdas dalam menentukan perkembangan dan kemajuan bangsa kita tercinta.
Akhir kata penulis mengucapkan mari menyongsong gegap gempita pesta demokrasi bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Selamat memilih secara cerdas pada 17 April 2019.. (*)
Catatan: Tulisan ini telah dipublikasikan juga di Tribun Timur edisi print, Selasa 19 Maret 2019
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/patmawaty-taibe.jpg)